Desainer Didi Budiardjo 'Terlahir Kembali' di Peragaan 30 Tahun Berkarya

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 27 Mar 2019 11:20 WIB
Fashion show 30 tahun berkarya Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom Fashion show 30 tahun berkarya Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom

Jakarta - Tanpa terasa, 30 tahun sudah Didi Budiardjo mendedikasikan dirinya sebagai desainer mode. Belum ada niatan untuk pensiun yang terbesit di benak perancang multitalenta ini. Didi justru memilih untuk tetap berkarya dari hati dalam spirit yang baru.

Sebuah peragaan indah bertajuk 'Terlahir Kembali' yang digelar di The Tribrata, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2019), seakan menjadi janji Didi akan komitmen tersebut kepada para pecintanya. Ini sekaligus menandai peragaan tunggal perdana Didi setelah lima tahun 'absen'.

Bagi Didi 'Terlahir Kembali' bukan soal selebarasi atau ajang pamer prestasi setelah 30 tahun eksis di ranah mode Tanah Air. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 22 November 1970, ini pantang berpuas diri.



Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom


Menurut Didi, iklim industri fashion saat ini lebih demokratis dengan segala dinamikanya sehingga desainer dituntut untuk lebih kreatif agar tetap bertahan. Ia lalu merasa ada 'urgensi' untuk menyegarkan kembali ide atau konsep Didi Budiardjo sebagai sebuah merek demi menjawab tantangan tersebut. Itu mengapa ia memilih 'Terlahir Kembali' sebagai tajuk peragaan tunggalnya kali ini.

"Lewat peragaan ini, saya ingin mengekspresikan eksistensi saya sebagai desainer Indonesia. Di satu sisi saya merasa sudah melakukan segalanya tapi belum mau berhenti. Agar tetap dapat berkarya, saya harus terlahir kembali," kata desainer tamatan LPTB Susan Budihardjo ini.

Maka momen spesial ini ia juga manfaatkan untuk memperkenalkan logo terbaru 'Didi Budiardjo' buah kolaborasinya dengan desainer visual Felix Tjahyadi. Belakangan, berbagai rumah mode dunia yang sudah lama eksis seperti Burberry, Celine dan Saint Laurent berbondong-bondong melakukan strategi yang sama agar tetap relevan dengan situasi pasar masa kini.

Felix yang pernah menangani visualiasi pajangan atau window display di butik Hermes Indonesia, menjelaskan, logo baru tersebut tampil dengan huruf bergaya minimalis untuk menunjukkan karakter desain Didi yang 'apa adanya' dengan aksen distorsi agar terasa lebih kekinian. "Dari segi penampilan, sangat straight forward. Sangat sederhana tapi mudah diingat," ucap Felix yang juga dipercayai sebagai art director peragaan 'Terlahir Kembali'.

Kesan itu pula yang muncul di benak saat menyaksikan peragaan ini. Tak ada panggung dengan embel-embel properti yang berlebihan. Catwalk dibuat menyatu dengan lantai dalam balutan karpet merah yang menghampar dari ujung ke ujung. Bagian depan dihiasi semacam 'tirai' bunga, juga berwarna merah, yang menjuntai dari atas. Warna merah sendiri merepresentasikan 'jantung' sekaligus semangat Didi yang selalu berkarya dari hati.

"Mendesain buat saya itu ibarat jantung. Kalau saya berhenti merancang, maka rasanya seperti mati," kata Didi yang juga pernah merancang interior dan perabotan rumah tangga ini.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom


Dalam kesederhaan tersebut, peragaan ini cukup merangkum segala hal yang menginspirasi Didi dalam berproses kreatif. Mulai dari Prancis, negara yang ia pilih untuk memperdalam ilmu mode, hingga musik klasik. Itu terasa ketika bermunculan busana dengan kerah bergaya Victorian yang aristorkat.

Sementara itu, alunan musik klasik yang melankolis ikut mengiringi langkah para model hampir sepanjang peragaan. Permainan cahaya yang didesain sedemikian rupa membuat suasana kian terasa puitis dan romantis.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom


Adapun 30-an busana yang tersaji semakin mempertegas kepiawaian Didi sebagai desainer dalam mengeksekusi teknik dan mengolah material. Berbagai siluet, warna dan bahan dieksplornya demi mengakomodasi kebutuhan pecintanya. Tampil deretan gaun-gaun struktural nan dramatis hingga terusan transparan yang seksi bagi mereka yang ingin tampil menenatang. Untuk tampilan yang lebih 'modest', ada jaket over-sized atau blus-blus tertutup yang dipermanis dengan permainan beading.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom


Para tamu yang duduk di barisan depan sangat mewakili betapa karya Didi memenuhi selera para wanita lintas generasi. Mereka yang hadir di antaranya aktris Laura Basuki, pakar tata krama yang juga ibu dari calon wakil presiden Sandiaga Uno, Mien Uno, Direktur Program Djarum Foundation Renitasari Adrian, lalu pengusaha dan aktivis perempuan Dewi Motik.

Sebelum peragaan utama dimulai, Didi menyuguhkan tujuh busana yang terbuat dari tenun khas Donggala dan Lombok, dua daerah yang dilanda gempa besar dan tsunami tahun lalu. "Menurut saya, seorang perancang Indonesia harus tahu wastra negeri sendiri sebagai sebuah identitas bangsa," kata Didi yang aktif melakukan pembinaan kepada perajin kain tradisional di berbagai pelosok Indonesia.




Tonton juga video Ketika Alam dan Manusia Dipersatukan di Lucky Trend Fashion Show:

[Gambas:Video 20detik]


Desainer Didi Budiardjo 'Terlahir Kembali' di Peragaan 30 Tahun Berkarya

(dtg/eny)