Kisah Ibu Penjual Kerupuk di Pulogebang yang Alih Profesi Jadi Pembatik

Alisa Kintan - wolipop Rabu, 28 Mar 2018 15:29 WIB
Penghuni Rusun Pulogebang, Risma, jadi pembatik. Foto: Alisa Kintan/Wolipop Penghuni Rusun Pulogebang, Risma, jadi pembatik. Foto: Alisa Kintan/Wolipop

Jakarta - Tidak banyak orang yang mau belajar untuk meneruskan warisan budaya, seperti belajar membatik. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi para perempuan yang tinggal di area rusun Pulogebang. Dari yang muda hingga yang tua, mereka semangat membatik motif-motif di atas kain walaupun hanya beralaskan kain tikar.

Hal tersebut terlihat ketika Wolipop mengunjungi Rusun Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur Selasa (27/03/2018). Mereka sangat tekun mengerjakan detail batik satu persatu menggunakan canting. Salah satu pembatik yang ikut serta belajar membatik yaitu Risma. Ibu tiga anak ini bercerita mengenai awal mula ketertarikannya dalam membatik.

"Saya awalnya jual kerupuk. Tidak ada niat sama sekali untuk belajar membatik, tapi pas dengar ada pelatihan membatik ya saya ikut aja, lumayan nambah ilmu sama bisa isi waktu luang juga," ujar Risma yang sudah bisa menghasilkan lima saputangan batik dalam satu hari.

Baca Juga: Iwet Ramadhan Digandeng Istri Ahok untuk Kembalikan Eksistensi Batik Betawi

Risma mengaku senang menjalani pekerjaan barunya sebagai pembatik. Jika dulu saat menjual kerupuk, dia harus meninggalkan anak di rumah, kini bisa membawa anaknya. "Jadi saya nggak perlu titip atau tinggalin anak saya di rumah. Jam membatiknya pun sebentar, hanya tiga kali dalam satu minggu setiap jam 9 pagi sampai jam 1 siang," tambah wanita berhijab itu.

Penghuni Rusun Pulogebang belajar membatik.Penghuni Rusun Pulogebang belajar membatik. Foto: Alisa Kintan/Wolipop


Jam kerja yang sebentar dan aturan kerja fleksibel menjadi faktor yang mendorong Risma untuk terus menekuni pekerjaan membatik yang digagas oleh JKTCreative dan Shopee. Dia pun berharap skill atau kemampuannya bisa terus bertambah dari pelatihan yang terus diadakan.

Baca Juga: Iwet Ramadan Rancang Motif Batik Terinspirasi Bunga Khas Jakarta

Cerita lainnya datang dari seorang ibu bernama Wati. Wanita paruh baya ini tertarik membatik karena kerap dilanda bosan ketika hanya diam di rusun. "Saya kadang suka bosan kalau nggak ngapa-ngapain, jadilah pas tahu ada pelatihan membatik ini saya ikut aja. Nambah ilmu saya juga," katanya.

Wati pun menceritakan bagaimana dia diajari membatik oleh tim JKTCreative yang didirikan oleh Iwet Ramadhan. "Awalnya kita gambar dulu batiknya, kita cetak. Terus habis itu di canting pakai cairan malam. Setelah itu digantung sebentar baru dicelup ke warna dan dikeringkan, lalu kain direbus ke air mendidih untuk melirihkan lilin supaya motifnya keliatan," ujar Wati.

Sama seperti Risma, Wati pun merasa pelatihan membatik ini sangat bermanfaat untuknya dan penghuni rusun Pulogebang lainnya. "Pelatihan kaya gini harus sering diadakan dimana-mana, supaya nanti semakin banyak yang mau ikut melestarikan budaya Indonesia," tuturnya.

Salut untuk Ibu Risma dan Ibu Wati!


(eny/eny)