Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Cerita di Balik Scarf Edisi Terbatas Karya Major Minor dan Eko Nugroho

Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 06 Feb 2016 09:37 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Daniel Ngantung
Jakarta - Tidak seperti biasanya, lantai 2 Galeries Lafayette, Pacific Place, Jakarta Pusat, Rabu (3/2/2016) malam, ramai oleh kehadiran para fashionista. Mereka hadir untuk merayakan kehadiran koleksi spring-summer 2016 kolaborasi Major Minor dan seniman mural Eko Nugroho di department store mewah tersebut. Tapi acara yang paling mereka tunggu adalah sesi tanda tangan kotak scarf edisi terbatas dari kolaborasi keduanya.

Mereka silih berganti datang ke meja di mana Eko membubuhkan tanda tangannya di kotak scarf tersebut. Terdiri dari tiga pilihan warna, scarf masing-masing dibanderol sekitar Rp 5 juta. Apa yang spesial dari scarf berbahan satin silk tersebut sampai begitu digandrungi para fashionista?

Berada di bawah label Maja, scarf ini terbilang unik karena lahir dari perkawinan seni dan mode, dua bidang yang terkesan saling berkorelasi tapi sebetulnya bertolak belakang. Eko adalah seorang seniman mural Indonesia yang sangat disegani di kalangan seniman baik lokal maupun mancanegara. Lebih sering menggelar pameran di luar Indonesia ketimbang di negeri sendiri, nama Eko sangat familiar di komunitas seni internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Major Minor adalah label busana siap pakai besutan desainer Ari Seputra yang telah menjejak di industri Tanah Air sejak lima tahun lalu. Tidak hanya di Indonesia, koleksinya juga hadir di berbagai butik ternama di sejumlah negara.   

Di kalangan fashionista lokal sendiri, Eko sebetulnya bukan sosok yang asing. Ia pernah digandeng rumah mode Louis Vuitton (LV) untuk menciptakan pilihan scarf edisi terbatas yang terinspirasi dari karya-karyanya.

Dijual seharga US$ 1.500 atau sekitar Rp 20 juta per helainya, scarf tersebut ludes terjual. Maka tidak mengherankan jika scarf Major Minor dan Eko Nugroho sangat ditunggu-tunggu.

Tapi lebih dari itu, proses kreatif yang sangat mendetail membuat scarf ini begitu spesial. Diceritakan Ari Seputra, direktur kreatif sekaligus pendiri label Major Minor, inspirasi scarf bersumber dari mural-mural karya Eko sebelumnya.

Baca Juga: 50 Tas dan Sepatu Favorit Selebriti

"Berbeda dari LV yang langsung menjiplak karya Eko, saya menerjemahkan ulang mural Eko sebelum dicetak di atas kain satin silk," ujar Ari kepada Wolipop di sela acara.  

Diakui Ari, ada perbedaan karakter desain yang cukup tegas antara Major Minor dan Eko. Major Minor hadir dengan karakter desainnya yang feminin dan minimalis. Sementara Eko memiliki desain mural yang kuat dan sarat akan pesan politik dan sosial.

"Saya lantas merasa tertantang untuk menerjemahkan karakter mural Eko yang begitu strong ke dalam koleksi busana wanita saya," kata Ari yang dalam proses kreatifnya juga dibantu oleh sang istri, Sari, serta desainer muda Inneke Margarethe.

Beruntung bagi Ari, Eko tidak mempermasalahkan karyanya diinterpretasi ulang berdasarkan sudut pandang Ari sebagai desainer. Ari mengaku sangat beruntung mendapat kesempatan berkolaborasi dengan Eko. Di matanya, Eko adalah sosok seniman yang sangat terbuka terlepas dari idealisme seni yang dipegangnya.

"Terkadang kerja sama dengan seniman itu tidak gampang. Kita harus sama-sama toned-down. Tapi Eko mau diajak bertukar pikiran," kata Ari.

Proses pengerjaan sempat terkendala karena terbatasnya pasokan bahan satin silk sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Belum lagi 'trial and error' yang terjadi berulang kali sehingga kebutuhan kain semakin mendesak.

"Padahal scarf sudah ditunggu-tunggu pemesannya. Sementara pesanan baru juga terus berdatangan. Saya sempat senewen," ungkap Ari.  

Terlepas dari motifnya yang dicetak secara digital, scarf ini tetap menawarkan elemen hand-made. Ari mengaplikasikan teknik hand-roll pada pinggiran scarf.

"Bagian pinggirnya dilinting pakai tangan. Bentuk lintingannya sangat kecil, halus banget. Beda dari lintingan scarf Hermes yang besar-besar. Mungkin karena dibuat di Italia, tangan perajinnya besar-besar," kata Ari.

Ari sengaja membuat scarf berukuran 130 x 130 cm agar cara pemakaiannya lebih variatif. Untuk warna, ia memilih hitam-putih karena merupakan warna khas Major Minor. Adapun hijau dan magenta untuk menyesuaikan dengan tren warna spring/summer 2016. Di setiap scarf diberi nomor seri para pemesannya untuk memberikan sentuhan personal. (dng/hst)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads