Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Gara-gara Limbah Industri Tekstil, Warga Desa Ini Makan Nasi 'Basi'

Alissa Safiera - wolipop
Senin, 23 Mar 2015 10:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Mohammad Abduh/Wolipop
Jakarta -

Apa yang Anda bayangkan saat menyebutkan kata fashion? Tren dan segala hal yang glamour mungkin terbesit di kepala Anda. Namun di balik hasil akhir yang indah, tak banyak yang menyadari jika industri ini juga memberi dampak buruk bagi lingkungan.

Salah satu penyumbang limbah terbesar dunia, termasuk di Indonesia di antaranya berasal dari industri tekstil. Hal ini dikarenakan pemakaian bahan-bahan kimia berbahaya yang banyak mengandung logam berat dan tak bisa terurai.

"Masalahnya adalah limbah mengandung logam berat seperti chrome, timbal, zync, termasuk merkuri, yang konsentrasinya sudah melebihi standar yang ditetapkan pemerintah," ujar Sunardi, Ph.D, pengamat dan peneliti lingkungan, saat berbincang dengan Wolipop di Tree House, Bandung, Minggu (22/3/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nyatanya dampak tak hanya berhenti sampai mencemari lingkungan, namun juga berpengaruh pada produktivitas masyarakat di sekitarnya. Misalnya saja yang terjadi di Desa Rancaekek, Bandung; yang juga termasuk industri tekstil terbesar di Asia Tenggara. Setidaknya ada 42 industri tekstil yang mencemari lebih dari 1.000 hektar sawah penduduk di sana.

Limbah pembuangan dari pabrik tekstil telah mencemari perairan warga yang juga dipakai untuk mengaliri sawah. Hasilnya pun mengerikan, padi tak tumbuh dengan baik, beberapa bulir padi bahkan kosong. "Nasi dari sawah di sini kalau dimasak lembek, seperti nasi basi," tutur Adi M Yadi, ketua Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling).

Seperti diungkap Adi, hal itu pun membuat produktivitas ekonomi desa ini ikut menurun. Dikarenakan tak ada pasar yang mau menerima beras dari sana, sehingga warganya mengonsumsi hasil sawah untuk pribadi. Tak hanya itu, limbah yang mencemari air, menyebabkan warga tak bisa mengonsumsi air tanah sehingga harus membeli dari luar desa mereka.

"Limbah masuk ke sistem perakaran, pembuluh tanaman, bulir padi dan itu sifatnya akumulasi. Jika terus dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan sensor sampai kanker," tambah Sunardi, yang juga dosen di Departemen Biologi Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Diungkap Sunardi, pemerintah telah membuat regulasi atau peraturan tentang pengolahan limbah bagi pabrik-pabrik. Sayangnya tak diikuti dengan proses pemantauan yang berkelanjutan. Banyak alasan kenapa hal ini terus terjadi berpuluh-puluh tahun, salah satunya karena perkembangan teknologi untuk mendukung pewarnaan tekstil yang lebih ramah lingkungan, masih kalah cepat dengan kebutuhan pasar fashion. Berbagai solusi mulai dikembangkan untuk mendukung dunia fashion yang lebih ramah lingkungan, di antaranya kembali kepada zat pewarna alam yang prinsipnya mudah terurai.

"Tantangan kita adalah bagaimana zat pewarna alam yang sudah ada mulai digandrungi lagi. Bagi para pengrajin pun dapat menemukan warna cerah seperti merah dengan segera. Jika itu bisa ditemukan, pasti kita bisa menghasilkan warna lain, sehingga bisa mengurangi pemakaian warna kimia," tutur Anastasia Inne Adhie, pengurus dari Gerakan Warna Alam Indonesia (Warlami) di acara yang sama.

(asf/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads