Indonesian Heritage

Modernisasi Kebaya Dari Dulu Hingga Kini

- wolipop Selasa, 14 Agu 2012 13:31 WIB
Dok. Wolipop Dok. Wolipop

Jakarta - Perayaan 17 Agustus diwarnai dengan aktivitas yang bernapaskan nasionalisme, salah satunya dengan memakai baju adat khas provinsi asal masing-masing. Namun pernahkah terlintas di benak Anda perkembangan baju adat dari dulu hingga kini telah begitu pesat? Bahkan identitas aslinya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bentuk aslinya nyaris pudar.

Menelusuri hal ini, Wolipop menemui salah satu desainer mode Indonesia yang konsisten mengangkat koleksi bertemakan tradisionalisme, Era Soekamto, Selasa (7/8/2012) di butik Iwan Tirta, Hang Tuah, Jakarta. Saat ini Era menjadi direktur kreatif untuk rumah mode Iwan Tirta dan juga lini atas namanya sendiri. Iapun membagi pengetahuannya seputar baju adat Jawa.

Baju adat Jawa yang paling populer menurut Era adalah Kebaya. Kebayapun terbagi atas berbagai macam jenis, namun yang paling sering digunakan adalah model kebaya encim hingga kebaya kutu baru. Kebaya brokat merupakan bentuk modernisasi yang paling ekstrem karena telah meninggalkan esensi tradisi.

Diceritakan, awalnya kebaya hanya dikenakan oleh orang di istana. Ada istilah kebaya kutu baru yang paling orisinil dari zaman Majapahit. Kemudian adapula kebaya hitam beludru yang merupakan hasil asimilasi dari budaya Eropa. Sedangkan kebaya motif bebungaan semakin populer di masa kerajaan Mataram setelah mengalami berbagai proses asimilasi budaya.

Kebaya China yang kini populer dengan sebutan kebaya encim awalnya ditolak oleh pihak istana mengingat para penjajah Belanda berusaha mempopulerkan kebaya beludru yang sangat Eropa. Akhirnya, kebaya encim ini mulai tersingkir hingga akhirnya dipopulerkan dan diadaptasi oleh warga Pesisir. Kini, banyak wanita masa kini yang memakai kebaya jenis ini untuk acara formal dengan bahan embroidery warna putih yang dikombinasikan dengan kain batik.

Dulu, kebaya yang populer dipakai di istana adalah kutu baru dan kartini. Namun model kartini yang seperti nyonya-nyonya diklaim milik Malaysia, padahal kenyataannya lahir di Jawa. Untuk bawahan, kombinasi yang dipakai adalah Wiron, karena ada adat istiadat berjalan wanita yang melangkah kecil, sehingga wiron dibentuk sedemikian ketat sehingga jalan semakin sulit.

Kekinian desain dan siluet kebaya memang tidak terlalu drastis dari masa ke masa. Modernisasi pada potongan yang dimainkan mengetat atau melonggar, detail dikembangkan pada pemilihan renda dan penempatannya di area yang tidak lazim. Aksesoripun dibuat seminimal mungkin agar tidak terlalu heboh dari ujung kepala hingga kaki.

Penggunaan korset model bustier juga merupakan asimilasi budaya Eropa yang terus diterapkan hingga kini. Banyak kebaya di tahun '80an yang dilengkapi dengan bustier yang notabene warisan budaya Eropa. Padahal orisinalnya kebaya menggunakan kain pengikat serupa stagen atau kutang. Itulah sebabnya banyak kita lihat kebaya modern mengikat torso atas wanita dengan pasti, sedangkan model aslinya cenderung longgar.





(fer/eny)