ADVERTISEMENT

Transformasi Mantan Tentara Rusia yang Dulu Mirip Popeye Kini Jadi Alien

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 31 Mei 2022 09:44 WIB
Kirill Tereshin Foto: Instagram @ruki_bazuki_official
Jakarta -

Seorang mantan tentara Rusia jadi sorotan karena obsesinya mengubah penampilan. Pria bernama Kirill Tereshin tersebut sebelumnya bikin heboh karena melakukan pembesaran otot dengan cara yang tidak sehat. Ia menyuntikkan tiga liter petroleum jelly agar tangannya kekar bak Popeye. Kini Kiril memiliki obsesi baru yakni ingin bertransformasi jadi alien.

Kirill Tereshin pernah melakukan prosedur berbahaya yang bisa membuat ototnya busuk karena ingin tampil bak Popeye atau Superman. Tak hanya pada tubuh, obsesinya pun kini merambah pada wajah. Kirill diketahui telah menjalani berbagai operasi plastik dan tindakan kecantikan.

Kirill TereshinKirill Tereshin Foto: Instagram @ruki_bazuki_official

Dalam foto-foto terbarunya, pria 25 tahun tersebut bikin pangling dengan penampilannya. Bisa dilihat jika bagian bibir dan pipinya lebih terisi. Kirill juga tampak 'memperbaiki' rahang dan dahinya sehingga lebih 'tajam'.

Ia sendiri dengan bangga mengatakan wajahnya mirip dengan alien. Menurutnya dengan begitu ia akan lebih mudah untuk bertemu alien ketika meninggal. Obsesi barunya ini berawal ketika Kirill melihat 'piring terbang'.

"Aku merasa ketika aku meninggal, aku akan bertemu mereka. Aku percaya ini. Transformasi ketiga wajahku sudah lengkap dengan sukses. Betapa indahnya. Semuanya dilakukan seperti yang seharusnya," katanya dilansir Daily Star.

Kirill TereshinKirill Tereshin Foto: instagram @ubonad

Meski banyak orang menilai tindakannya berlebihan, Kirill mengagumi hasilnya. "Itu berjalan sesuai dengan rencana. Betapa tampannya aku. Jika aku wanita, aku ingin bercinta dengan diriku sendiri," tambah Kirill.

Kirill pun masih memiliki otot menggelembung seperti Popeye hasil suntikan petroleum jelly. Ia mengatakan akan melakukan operasi tahun ini untuk mengambil tumpukan jelly yang mengeras dan otot mati di bisepnya. "Risiko komplikasinya kasus ini sangat tinggi tapi jika lamban dilakukan tidak akan menolong pasien. Zat beracun jangka panjang dalam tubuh dapat mempersulit kerja ginjal dan menyebabkan kematian," tuturnya.

(ami/ami)