Liputan Khusus Suka Duka Jadi Istri Pejabat

Fery Farhati Ungkap 3 Prinsip Jalani Pernikahan Bersama Anies Baswedan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 02 Mei 2021 17:30 WIB
Foto  Anies Baswedan dan Fery Farhati. Fery Farhati, Istri Anies Baswedan. Foto: Dok. Pribadi.
Jakarta -

Di balik sosok Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan ada sosok wanita yang selalu ada mendampinginya. Ialah sang istri Fery Farhati Ganis, S.Psi, M.Sc. keduanya menikah pada 11 Mei 1996 dan telah dikaruniai empat orang anak yaitu Mutiara Annisa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan, dan Ismail Hakim Baswedan.

Pada Oktober 2017, Anies Baswedan dilantik sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta periode 2017-2022. Setelahnya, Fery secara otomatis mengemban peran baru dalam beberapa organisasi di DKI Jakarta. Tugasnya di antaranya sebagai Ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi DKI Jakarta, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta, Bunda PAUD Provinsi DKI Jakarta, Penasihat Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi DKI Jakarta, dan Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi DKI Jakarta. Peran-peran ini membuka jalan bagi Fery Farhati untuk bisa berkeliling ke seluruh wilayah DKI Jakarta, mengenal dan bertemu dengan warga.

Latar belakang pendidikan Fery adalah S1 di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta pada 1996. Kemudian dia melanjutkan pendidikan S2 di bidang Applied Family and Child Studies di Northern Illinois University (NIU), School of Family, Consumer and Nutrition Sciences, DeKalb, Illinois, USA, pada 2002.

Foto acara Dari Kartini untuk IndonesiaFoto acara Dari Kartini untuk Indonesia Foto: dok. Detikcom

Selama menjalankan studi, Fery Farhati menjadi asisten dosen dan mendapat beasiwa dari Philanthropic Educational Organization dan American Indonesian Cultural and Educational Foundation. Di akhir masa studinya, Fery menjalani magang di DeKalb County Women, Infant and Children (WIC) selama satu tahun. WIC inilah yang awalnya mendorong Fery untuk menjalani studi master di bidang Parenting Education di NIU.

Fery menceritakan jika saat awal menikah dengan Anies Baswedan pada 11 Mei 1996, keduanya sudah sepakat untuk mencapai mimpi bersama. Dalam acara "Dari Kartini untuk Indonesia" yang diadakan Detikcom dan Haibunda.com, wanita bergelar master itu mengatakan jika ia dan Anies sekolah dan menimba ilmu bersama.

"Ini jadi flashback ya ke waktu mas Anies melamar saya itu. Pertama kali mas Anies bukan tipe pria yang romantis banget si nggak. Ketika ingin menikah hidup bersama tapi punya rencana bareng-bareng. Jadi itu duduk berdua itu sudah ada planninng untuk sekolah bareng. Sekolah ke mana dan pulangnya kita mengajar ya rencananya seperti itu," tutur Fery.

Fery Farhati, istri Anies BaswedanFery Farhati, istri Anies Baswedan Foto: Gresnia/Detikcom

Dalam menjalani kehidupan pernikahan dan membangun keluarga, menurut Ferry, dirinya dan Anies Baswedan memiliki beberapa prinsip yang dipegang. Prinsip itu yaitu secara ekonomi harus cukup dan intelektual juga kita berkembang serta secara sosial mereka bisa berdampak.

"Nah ini yang menjadi pegangan kita melangkah dalam kehidupan. Kehidupan sekolah bareng-bareng Mas Anies sekolahnya sampai S3, saya S2 di Amerika. Dan ketika kembali ke Indonesia, semuanya kita kerjakan dengan tiga nilai itu. Karena itulah mungkin hidupnya banyak terlibat dengan permasalahan publik. Mulai misalnya jadi rektor, kemudian aktivitas Indonesia Mengajar. Menjadi bagian dari menteri dan sekarang akhirnya menjadi gubernur," imbuh Fery.

Menjadi istri pejabat, Fery merasakan hidupnya lebih berwarna dan bisa bertemu dengan banyak orang dan hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. "Bahkan bertemu dengan sosok penggerak, ibu PKK dan orang hebat yang tulus dan penuh dedikasi untuk membantu keluarga-keluarga," sautnya.

Foto Fery Farhati dan keluarga.Foto Fery Farhati dan keluarga. Foto: Dok. Instagram @fery.farhati.

Ketika sang suami yang sedang bertugas dan hampir tak ada waktu bersama dengannya, Fery Farhati menuturkan jika keduanya sudah teguh berkomitmen.

"Dan ini yang kemudian membuat kita merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Kita ibaratnya pohon semakin besar akarnya akan semakin dalam juga semakin kuat. Kalau kita berdua jarang bertemu, akar kita berdua sudah kuat Insya Allah. Mudah-mudahan tetap terjaga walaupun ada hujan badai, pohon tersebut tetap tumbuh subur," lanjutnya.

Di akhir wawancara, Fery memberikan pesan bagi para wanita masa kini agar terus belajar dan mau membaca. Para wanita menurutnya harus bisa menjadi penggerak dalam keluarga.

"Kartini itu adalah pejuang literasi. Kala itu, yang diminta oleh Kartini itu perempuan harus bisa baca. Itu kan di zamannya, kalau literasi di zaman ini, tentunya kita perempuan harus menjadi pembelajar. Melihat situasi dan beradaptasi, bentuk literasi bisa macam-macam sekarang ini," terangnya.

Kegiatan sederhana yang bisa dilakukan para wanita di rumah adalah memilah sampah dan menjaga lingkungan. "Jadilah penggerak dalam masyarakat, jadilah pembelajar dalam masyarakat yang bisa adaptif dan juga bisa melihat masalah dengan empati. Dan mencari solusi dalam sebuah masalah yang dihadapi," pesannya.

"Kemudian wanita itu kan juga penggerak selain di lingkungan juga di rumah. Kunci keharmonisan keluarga ada pada ibu atau istri. Dan di situlah ketika rumah yang harmonis dan nyaman, maka akan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat. Baik secara mental maupun secara fisik. Dan Insya Allah itu kontribusinya besar terhadap kebahagiaan dalam sebuah kota. Jadilah wanita pembelajar yang selalu mau mengambil tanggung jawab terhadap masalah yang ada di lingkungan. Bisa berdaya, berkarya dan berdampak," pungkas Fery Farhati.

(gaf/eny)