Atas Nama Seni, Mahasiswa Ini Buang 31 Ton Wortel di Halaman Kampus

Hestianingsih - wolipop Senin, 05 Okt 2020 12:18 WIB
Wortel 31 ton dibuang demi karya seni Wortel 31 ton dibuang demi karya seni. Foto: Dok. Rafael Perez Evans
London -

Dalam dunia seni, memang tidak ada batasan untuk berkarya. Tapi lain soal jika sudah menyentuh isu sensitif seperti kebutuhan akan pangan.

Rafael Perez Evans, mahasiswa Goldsmiths College di Lewisham, London, Inggris, mendapat kritik karena karya seni yang baru-baru ini dipamerkannya. Rafael yang berpartisipasi dalam pameran seni tahunan kampus MFA Fine Art Degree Show dikritik karena dinilai sudah membuang-buang makanan.

Rafael membuang ratusan ribu wortel untuk karya seni yang ia beri tema Grounding. Tak kurang dari 240 ribu wortel seberat 31 ton diluncurkan dari truk, di area halaman kampus.

Wortel 31 ton dibuang demi karya seniWortel 31 ton dibuang demi karya seni Foto: Dok. Rafael Perez Evans

Dari video yang beredar, tampak wortel-wortel itu mencuat keluar dan membentuk gundukan besar warna oranye. Terdengar juga sorak dan tepukan tangan dari sejumlah mahasiswa.

Aksi Rafael menampilkan karya seni kontemporer ini berujung pada protes dan kritik dari mahasiswa lainnya. Sekelompok mahasiswa yang juga merupakan murid di Goldsmiths membuat akun Instagram dengan nama @godsmithcarrots untuk memprotes karya seni yang menurut mereka sangat mubazir.

"Lewisham merupakan salah satu wilayah paling miskin di London dan pembuangan wortel dalam jumlah besar di Goldsmiths ini sangatlah tidakpeka. Sebuah tamparan besar," tulis mereka di media sosial.

Rafael pun punya pembelaannya sendiri kenapa memutuskan menggunakan wortel untuk karya seninya. Dia menjelaskan karyanya terinspirasi dari cara para petani melakukan protes terhadap tengkulak yang kerap tidak menghargai hasil kerja keras petani. Aksi ini mereka sebut dengan 'dumping' atau membuang. Rafael sendiri berasal dari keluarga petani di tanah kelahirannya, Spanyol.

Wortel 31 ton dibuang demi karya seniWortel 31 ton dibuang demi karya seni Foto: Dok. Rafael Perez Evans

Aksi dumping ini lumrah dilakukan para petani sebagai bentuk protes terhadap tengkulak yang sering kali membeli hasil panen dengan harga sangat rendah. Mereka akan menumpuk wortel atau kentang untuk memblokir jalan, menjadikannya pengingat bagi para tengkulak, akan kerja keras para petani. Hal inilah yang menarik perhatian Rafael sejak kecil.

"Ada satu peristiwa saat aku kecil yang masih cukup jelas di ingatan, orang-orang jadi sangat marah dan kesal karena lemon dihargai sangat rendah sehingga petani merugi. Isu ini membuat banyak petani protes dengan membuang berton-ton lemon, menciptakan lautan lemon kuning. Inilah momen pertama yang membuatku sadar betapa devaluasi oleh pemerintah dan perdagangan internasional sangat memengaruhi nasib petani," jelas Rafael, seperti dikutip dari Hypebeast.

Namun penjelasan Rafael tentang ide di balik karya Grounding tak digubris para mahasiswa yang protes tersebut. Mereka tetap menuding kalau karya seni ini hanya buang-buang makanan.

Wortel-wortel segar itu pun mereka kumpulkan untuk diolah menjadi berbagai macam makanan. Mulai dari cake wortel hingga sup wortel dan menjualnya di samping karya seni milik Rafael. Hasil penjualan mereka donasikan ke bank makanan.

(hst/hst)