Suka Posting Kemewahan, Sosialita Ini Ungkap Rasanya Jadi Anak Miliuner

Eny Kartikawati - wolipop Selasa, 20 Nov 2018 13:02 WIB
Chryseis Tan anak dari miliuner Malaysia Vincent Tan. Foto: dok. Instagram Chryseis Tan anak dari miliuner Malaysia Vincent Tan. Foto: dok. Instagram

Jakarta - Sosok Chryseis Tan dikenal sebagai salah satu crazy rich Asian. Memiliki ayah miliuner dan kerap posting kemewahan hidupnya di media sosial, ini curahan hati Chryseis.

Dalam wawancara dengan South China Morning Post, Chryseis Tan mengaku tidak suka disebut sebagai crazy rich Asian. Meskipun nyatanya wanita cantik ini merupakan bagian dari salah satu keluarga terkaya di Malaysia.

Ayah Chryseis Tan adalah Vincent Tan yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes dengan kekayaan mencapai US$ 820 juta. Sang ayah juga pendiri dari Berjaya Corporation Berhad, salah satu perusahaan terbesar di Malaysia.



Dalam kesehariannya, Chryseis bekerja sebagai chief executive officer Berjaya Times Square, mal besar yang berada di jantung kota Kuala Lumpur. Dia juga menjadi pemimpin dari beberapa unit usaha perusahaan sang ayah yang ada di luar negeri. Salah satunya adalah Four Seasons Hotel and Residences di Kyoto.

Kehidupan mewah Chryseis Tan.Kehidupan mewah Chryseis Tan. Foto: dok. Instagram


"Aku memiliki pekerjaan. Aku harus pergi ke kantor, tapi orang tidak melihat sisi diriku yang ini. Jika aku posting tentang pekerjaan yang ada di mejaku, aku pikir tidak akan ada orang yang menganggap itu menarik," ujar Chryseis yang eksis di Instagram dengan akun @chrystan_x.

Jika ditengok di akun Instagram @chrystan_x, wanita yang baru saja menggelar pesta pernikahan untuk keduakalinya di Jepang itu memang tak pernah mengunggah apapun terkait pekerjaannya. Chryseis lebih sering mengunggah kehidupan jet set-nya. Dia travelling keliling dunia dan selalu tampil dengan busana karya desainer dunia.

"Saat aku memulainya (posting foto di Instagram-red) empat tahun lalu, hanya untuk bersenang-senang karena aku suka posting foto-foto perjalananku dan makanan. Aku tidak tahu bagaimana mulanya itu menarik perhatian. Aku tidak berharap banyak orang follow aku, aku bukan siapa-siapa," tuturnya.

[Gambas:Instagram]


Dalam tulisannya South China Morning Post pun menggambarkan soal sosok Chryseis yang begitu humble ketika mereka temui. Istri dari Faliq Nasimudin, perwaris perusahaan Naza Group itu datang lima menit lebih cepat dari waktu yang ditentukan untuk wawancara. Penampilannya sudah siap untuk difoto dengan rambut dan makeup yang ditata profesional. Dia pun datang tanpa dikawal atau membawa pengawal.

Menjabat sebagai direktur eksekutif Berjaya Assets, Chryseis pun sedikit bercerita mengenai apa yang sedang dikerjakannya, dengan statusnya sebagai anak miliuner Malaysia, Vincent Tan. Dia mengaku tertarik bisnis di bidang fashion dan kecantikan.

"Aku ingin mengenalkan konsep yang lebih kekinian. Aku tertarik pada fashion dan kecantikan, jadi aku akan mengembangkan perusahaan di area tersebut," ujarnya.

Chryseis juga tertarik pada kuliner. Baru-baru ini, wanita 30 tahun itu baru saja membuka outlet ketiga dari franchise Greyhound Cafe di Malaysia.

Dalam bidang bisnis, Chryseis mengaku tak pernah dipaksa ayahnya untuk mencoba apa yang pria tersebut tekuni. Namun karena dalam kesehariannya dia selalu terpapar hal tersebut, dengan sendirinya dia merasa tertarik dengan dunia bisnis.

"Aku tumbuh dengan selalu mendengarkan ayahku berbicara mengenai pekerjaannya, jadi aku selalu menyiapkan diriku untuk bergabung dengan perusahaan," kata Chryseis.

[Gambas:Instagram]


Satu-satunya hal yang 'dipaksakan' Vincent Tan pada Chryseis adalah ketika dia meminta sang putri kuliah di Jepang. Sementara Chryseis ingin kuliah di London karena sudah banyak temannya di kota tersebut.

"Dia bilang kenapa tidak ke Jepang sehingga aku bisa belajar budaya dan bahasa baru. Jadi dia membawaku liburan ke Jepang untuk menunjukkan betapa luar biasanya negara itu," kenangnya.

Saking inginnya Chryseis kuliah di Jepang, Vincent Tan sampai meyakinkan sahabat putrinya untuk ikut menuntut ilmu di negeri Sakura. Pada akhirnya Chryseis pun bersedia kuliah di Jepang.

"Saat pertamakali di sana, aku membencinya. Aku juga merasa tidak betah karena belum belajar bahasa Jepang. Dan pada waktu itu belum banyak orang Asia Tenggara kuliah di Jepang. Tapi aku bukan tipe orang yang mudah menyerah," tuturnya.

Akhirnya Chryseis malah jatuh cinta pada Jepang. Dia menguasai bahasa Jepang dan kini menjadi pimpinan perusahaan ayahnya di negeri tersebut.



(eny/eny)