Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Viral Diet Hormon 21 Hari Bisa Turunkan Berat Hingga 6 Kg, Ini Faktanya

Shandrina Shira - wolipop
Rabu, 10 Des 2025 09:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Diet
Jakarta -

Sekarang ini ada berbagai macam jenis diet, mulai dari diet gula, diet tinggi protein, hingga puasa intermiten. Aturan pembatasan makanan tersebut memiliki tujuan tertentu sesuai kebutuhan masing-masing. Salah satu diet yang berbeda dari umumnya dan masih jarang dibahas adalah diet reset hormon 21 hari.

Diet hormon ini muncul dari pandangan bahwa kesulitan mendapatkan berat badan ideal disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon. Bagaimana metode diet reset hormon 21 hari dan apakah benar-benar efektif atau hanya sekadar tren?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Diet Hormon?

Diet reset hormon merupakan program makan selama 21 hari yang dikembangkan oleh Dr. Sara Gottfried, lulusan Harvard. Program ini dirancang untuk membantu menyeimbangkan hormon dan meningkatkan metabolisme dengan mengurangi beberapa jenis makanan tertentu.

Program ini berfokus menghilangkan bahan-bahan yang dianggap dapat mengganggu hormon, seperti gula, alkohol, kafein, produk susu, gluten, dan kedelai olahan. Di saat yang sama, diet ini bertujuan mendukung hormon tertentu seperti estrogen, kortisol, dan insulin.

ADVERTISEMENT

Program ini juga mengklaim mampu menyeimbangkan tujuh hormon yang berperan dalam pembakaran lemak perut serta pengendalian nafsu makan, sehingga dapat menurunkan berat badan hingga 15 pon (6,8 kg) dalam 21 hari.

Hormon yang Ditargetkan

Mengutip Hello Magazine, diet hormon berfokus untuk menyeimbangkan tujuh hormon berikut:

• Estrogen: mengurangi daging non-organik dan menambah sayuran kaya serat untuk membantu mengeluarkan kelebihan hormon.

• Insulin: mengganti gula dan karbohidrat olahan dengan protein dan lemak sehat untuk menstabilkan energi dan menekan nafsu makan.

• Leptin: mengurangi camilan olahan dan makanan tinggi fruktosa agar sinyal kenyang kembali optimal.

• Kortisol: menurunkan kadar kortisol dengan mengurangi kafein dan memprioritaskan istirahat.

• Tiroid: didukung melalui pengurangan gluten.

• Hormon pertumbuhan: ditingkatkan dengan menghilangkan produk susu agar pembentukan otot dan metabolisme berjalan optimal.

• Testosteron: didukung dengan menghilangkan alkohol dan makanan olahan.

Makanan yang Dapat Mendukung Kesehatan Hormon

Broccoli and Carrot Sauteed Vegetables with Shrimp

Foto: Getty Images/iStockphoto/anon-tae

Meski diet reset hormon tidak sepenuhnya efektif jika dilakukan sendirian, beberapa pola makan dapat mendukung kesehatan hormon secara alami. Beberapa makanan membantu tubuh menjaga keseimbangan hormon, menstabilkan gula darah, dan mendukung metabolisme.

Berikut jenis makanan yang baik untuk kesehatan hormon:

• Lemak sehat: alpukat, ikan berlemak, dan kacang-kacangan.

• Sayuran silangan: brokoli, kangkung, dan kembang kol yang membantu metabolisme estrogen.

• Biji-bijian utuh dan makanan tinggi serat: buah, sayur, serta whole grains yang membantu mengikat kelebihan estrogen.

• Sumber protein dan zat besi: membantu produksi serta pengaturan hormon.

• Batasi konsumsi alkohol, gula rafinasi, dan kafein.

Karena setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, penting untuk menyesuaikan diet dengan kondisi masing-masing serta berkonsultasi dengan profesional. Pada akhirnya, pola makan utuh, minim olahan, dan memenuhi kebutuhan nutrisi harian tetap menjadi solusi terbaik untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Apakah Efektif dan Didukung Ilmiah?

Couple  Eating Lunch with Fresh Salad and Appetizers

Foto: Getty Images/iStockphoto/anon-tae

Hingga saat ini, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hormon dapat "di-reset" hanya melalui diet masih sangat terbatas. Nutrisi memang memengaruhi fungsi hormon, tetapi keseimbangan hormon juga dipengaruhi faktor lain seperti tidur, olahraga, serta stres. Artinya, mereset hormon tidak bisa dicapai hanya dengan mengubah makanan.

Selain itu, diet reset hormon 21 hari dianggap terlalu ekstrem dan kurang realistis, mengingat penurunan berat badan yang sehat berada di kisaran 0,5-1 kg per minggu.
Menurut ahli endokrinologi Caroline Messer, MD, diet tidak dapat mengubah produksi hormon tiroid atau kortisol seperti yang diklaim.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan berat badan menyebabkan jumlah sel lemak bertambah, sehingga kadar estrogen juga meningkat karena hormon tersebut diproduksi di jaringan lemak. Ia juga menambahkan bahwa pola makan tinggi karbohidrat dapat memicu resistensi insulin sehingga kadar insulin justru meningkat.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads