Kisah Pelaku UMKM Ecoprint di Tangsel Berbagi Ilmu Hingga ke Lapas Wanita
Kepuasan seorang pedagang biasanya dapat diukur dari seberapa banyak dagangannya yang laris terjual. Namun rasa puas yang sejati justru Nuning Sekarningrum dapatkan saat berbagi ilmu membuat pernak-pernik. Apalagi bila itu bisa membangkitkan mereka dari keterpurukan.
Rumah Nuning di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, hampir jarang sepi. Saban hari, ada saja orang yang datang. Bukan cuma bertamu, mereka ke sana untuk mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Teh Noen, begitu sapaan akrabnya.
Nuning juga membuka pintu rumahnya bagi murid sekolah dasar yang sedang berkarya wisata hingga mahasiswa dan mahasiswi yang ingin magang sebagai salah satu persyaratan lulus kuliah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baru kemarin ada anak-anak berkebutuhan khusus main ke sini," kata Nuning saat ditemui Wolipop awal Juni lalu. Di sebelah rumahnya, Nuning yang menggeluti hobi craft sejak 2011 itu mendirikan Galeri 37.
Toko mungil yang mulai beroperasi pada 2017 itu menjual berbagai produk kerajinan buatan Nuning dan tim. Terdapat pula karya orang-orang yang dibinanya.
Nuning di Galeri 37 yang berada di sebelah rumahnya. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Produk ecoprint yang ramah lingkungan buatan ibu tiga anak itu menjadi daya tarik. Berbeda dari batik, ecoprint merupakan seni menata daun di atas kain. Kain yang dihasilkan pun menonjolkan corak alam yang memikat.
Keunikan tersebut yang akhirnya membawa Kamila Salsabila, mahasiswi jurusan desain produk di sebuah kampus swasta, untuk berguru pada Nuning sebagai program magangnya.
Sembari Nuning memotong dedaunan dari tumbuhan di pekarangannya, Kamila membentangkan kain putih berukuran 55 x 180 cm di teras.
Kemudian, Kamila mulai menata daun-daun hingga bunga yang dikumpulkan Nuning. Setidaknya ada lima tahapan dalam pembuatan ecoprint yang harus dipelajari Kamila. Mulai dari scouring, mordanting, pencetakan, pengukusan, dan fiksasi mordan.
"Kelihatannya bikinnya gampang tapi agak sulit juga ya. Nggak nyangka prosesnya sepanjang ini," kata perempuan 20 tahun itu sambil tersenyum.
Namun, hasilnya sepadan dengan usaha. Nuning yang juga piawai membuat kerajinan tangan lainnya mengatakan ecoprint memiliki keistimewaan tersendiri.
Kamila Salsabila, mahasiswi magang di Galeri 37, sedang membungkus kain ecoprint sebelum lanjut ke proses pengukusan. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
"Satu keunikan ecoprint dari semua produk yang aku buat, tidak ada satupun yang sama. Soalnya, setiap tumbuhan punya ukuran yang berbeda-beda kan," ujar wanita asal Bogor, Jawa Barat itu.
Tak heran bila banyak orang yang 'ketagihan' untuk datang berulang kali membuat ecoprint. Biaya sekali pelatihan bagi kaum akademisi dan profesional sebesar Rp 500.000. Jika mereka ingin datang lagi, Nuning yang termasuk dalam UMKM binaan Bank Rakyat Indonesia ini dengan senang hati menerima mereka tanpa memungut biaya.
"Saya sering diprotes oleh komunitas ecoprinting, karena kasih harga terlalu murah. Hehe," katanya.
Ia merasa, justru semakin sering berbagi ilmu, semakin banyak pula ilmu yang didapatnya kembali.
Nuning pun tak keberatan bila muridnya merintis usaha ecoprint dan menjadi pesaingnya. Meski berpotensi mengurangi ceruk bisnisnya, Nuning yang memasarkan produk ecoprint buatannya dengan mereka Godhong Sekar justru senang karena ilmu tersebut artinya sangat bermanfaat buat mereka, terutama yang ingin memperbaiki kesejahteraan hidup.
Semangat Nuning untuk berbagi ilmu itu juga sampai ke Lapas Wanita Tangerang. Sejak 2020, ia dan timnya rutin mengadakan pelatihan di lapas tersebut setiap tiga bulan sekali.
Melatih di Lapas Wanita
Semangat untuk berbagi ilmu membawanya sampai ke Lapas Wanita Tangerang. Sejak 2020, ia dan timnya rutin mengadakan pelatihan setiap tiga bulan sekali untuk para narapidana (napi) di lapas tersebut.
"Sekali turun 200 napi ikutan," ungkap Nuning saat menceritakan antusiasme para peserta.
Selain membuat ecoprint, mereka juga diajarkan berkarya dengan anyaman dan berbagai teknik sulam.
Napi wanita yang ikut datang dari beragam daerah di Indonesia, bahkan tak sedikit pula yang berasal dari luar negeri.
Bagi Nuning, pengalaman tersebut sangat berharga karena mendapat keluarga baru.
Proses pembuatan ecoprint di rumah Nuning. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Nuning sempat bertemu seorang wanita asal Turki yang dipenjarakan karena terbukti membawa narkoba setiba di Indonesia. Ia korban penipuan dari kerabatnya sendiri yang sengaja memasukkan narkoba ke kopernya secara diam-diam.
"Dia bilang kalau ke Turki, mau bunuh orang itu, supaya bisa dipenjara dan ketemu saya di sini," tutur Nuning tentang kedekatan yang terjalin.
Bahkan, beberapa napi yang sudah bebas menyempatkan diri mengingap di rumah Nuning sebelum pulang ke daerah masing-masing. Beruntung anak-anak dan suami Nuning tak keberatan.
Nuning pun tak segan untuk memodali mereka dengan bahan baku yang ada di rumah untuk berdikari demi menyambung hidup.
(dtg/dtg)
Elektronik & Gadget
Bikin Sejuk Dimanapun Kamu! Intip 3 Rekomendasi Kipas Mini Portable Di Bawah 200 Ribu
Hobbies & Activities
4 Novel Ini Menggugah Rasa dan Pikiran, Layak Dibaca Sekali Seumur Hidup
Elektronik & Gadget
Vivo iQOO 15: Flagship Baru Super Kencang dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 & Layar 144Hz
Elektronik & Gadget
KiiP Wireless EW56: Power Bank Magnetik yang Bikin Hidup Lebih Praktis
Viral Verificator
Tepis Gengsi, Kisah Viral Gen Z Jadi Tukang Pijat Panggilan Halal di Bandung
Viral Penampilan Bodyguard Tercantik, Berlatih Bela Diri di Kuil Shaolin
Cara Underrated Biar Kerjaan Gak Chaos di Akhir Tahun, Cek di Sini!
Most Pop: Trik Pegawai Curangi Absensi Pakai Foto Wajah, Padahal Bolos Kerja
Kisah Idol KPop Jadi Supir Taksi, Tak Sangka Gajinya Bisa Sampai Puluhan Juta
10 Transformasi Song Hye Kyo dengan Rambut Bondol, Wolf Cut Bikin Heboh
8 Pasangan Drakor 2025 Paling Bikin Baper, Ada Jang Ki Yong-Ahn Eun Jin
Pesona Shaloom & London Jadi Model Catwalk, 2 Putri Wulan Guritno Memukau
Bukan Kasar! Ini 11 Tanda Perempuan Cerdas dan Bermental Kuat














































