Curhat Pelatih Sepak Bola Putri Afghanistan yang Berhasil Kabur dari Taliban

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 27 Agu 2021 16:16 WIB
Wida Zemarai Foto: Instagram @_widisz
Jakarta -

Banyak orang Afghanistan yang terpaksa keluar dari negaranya setelah Taliban berkuasa. Bukan hanya takut hidup dalam tekanan, beberapa dari mereka melarikan diri karena dikhawatirkan jadi target penculikan bahkan pembunuhan. Salah satu wanita yang berhasil kabur dari sana adalah pelatih sepak bola putri Wida Zemarai. Ia pun mengungkapkan ketakutannya akan nasib pemain lainnya.

Pelatih sepak bola putri Afghanistan Wida Zemarai berhasil melarikan diri dan baru-baru ini tiba di Swedia. Beruntung bisa keluar dari negara berkonflik tersebut, Wida tetap memikirkan nasib pemain lain yang dikatakan berisiko ditangkap dan dijadikan budak seks.

"Sangat mengerikan memikirkannya. Taliban berkata yang mereka lakukan adalah jihad tapi mereka memilih gadis-gadis untuk dijadikan budak seks. Jika Taliban berhasil menangkap gadis-gadis itu, mereka tidak akan membiarkan begitu saja di rumah seperti boneka. Mereka ingin menggunakan mereka sebagai budak seks dan menyiksa mereka. Mungkin sampai mereka mati," katanya kepada Expressen.

[Gambas:Instagram]



"Sebut saja Taliban mengetahui seorang pemain. Mereka akan membawanya, menyiksanya, dan mendapatkan informasi di mana sisa pemain lainnya," tambah Wida.

Wida pun menceritakan apa yang terjadi dengan pemain-pemain bola putri di Afghanistan. Ketika saling kontak, mereka berbisik seperti ada pasukan Taliban di sekitar. Mereka juga meminta pertolongan karena tidak ingin keluarga ikut menjadi korban.

Wanita itu sendiri memang punya dua kebangsaan yakni Afghanistan dan Swedia. Keluarganya pernah melarikan diri ketika rezim Taliban sebelumnya pada 1992. Mereka awalnya pergi ke Rusia dan Ukraina sebelum akhirnya datang ke Swedia.

Sebelumnya ia adalah pemain timnas sejak 2014 sampai beberapa tahun lalu ditunjuk sebagai pelatih kiper. Karena itu dia bisa dengan lebih mudah melarikan diri.

[Gambas:Instagram]



"Sangat senang untuk bisa bebas. Aku hanya ingin kita mencoba memastikan gadis-gadis yang hanya menendang bola dan bermimpi jadi pemain bola ini mendapatkan bantuan dengan dievakuasi. Mimpi-mimpi mereka akan sinar karena pemerintah Afghanistan tidak melakukan tugas mereka dengan baik," ujarnya.

Menurutnya, tidak ada tempat untuk olahraga bagi wanita di bawah kekuasaan Taliban. Para pemain pun bisa menjadi sasaran karena mereka telah disiarkan dan diwawancarai.

"Mereka sudah pernah menjadi target pelecehan seksual sebelumnya dan itu bisa dibilang mereka berisiko jadi target Taliban 10 kali lebih parah," ujarnya.

(ami/ami)