Kisah Inspiratif Wanita yang Dulu Dipenjara Kini Sukses Buat Kampung Kue

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 22 Mar 2018 11:49 WIB
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Jakarta - Bila berwisata ke Surabaya, Jawa Timur, jangan lupa mampir ke Kampung Kue. Penggagasnya adalah Choirul Mahpuduah, mantan aktivis yang dulu pernah dipenjara karena vokal memperjuangkan hak-hak para buruh.

Kampung Kue berlokasi di Rungkut Lor II, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Lokasinya tak jauh dari Trans Studio Mini Surabaya. Di sini, tersedia berbagai pilihan jajanan pasar. Mulai dari kue basah seperti lemper, pastel, donat rogut, dan bolu pisang, sampai varian kue kering. Salah satunya, almond crispy yang kini menjadi ikon kuliner Surabaya.

Baca Juga: Kisah Sukses Perempuan Pengusaha Kayu dan Kolektor 100 Hermes dari Surabaya

Kisah Inspiratif Wanita yang Dulu Dipenjara Kini Sukses Buat Kampung Kue Choirul Mahpuduah (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)


Eksis sejak 2005, Kampung Kue bermula dari keprihatinan Irul, begitu sapaan Choirul, pada para ibu-ibu Rungkut Lor II yang putus kerja. "Banyak dari mereka kena PHK. Mau lanjut kerja di pabrik sekitar pun ditolak karena usia mereka nggak produktif lagi," ujar Irul di markas Facebook Indonesia di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Diceritakan Irul, para ibu-ibu tersebut kerap dikejar-kejar rentenir lantaran terjerat utang. Mereka terpaksa berutang demi mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Kala itu, Irul juga sedang tidak memiliki mata pencaharian dan sedang mencoba bisnis kue kecil-kecilan. Sebelumnya, ia bekerja buruh hingga akhirnya dipecat karena memperjuangkan hak-hak para buruh. "Aku malah pernah sampai dipenjara semalaman karena dituduh memprovokasi teman-teman," kenang perempuan kelahiran Kediri, 28 Februari 1969, itu.

Kisah Inspiratif Wanita yang Dulu Dipenjara Kini Sukses Buat Kampung KueSuasana Kampung Kue. (Foto: Gracella Sovia Mingkid)

Irul teringat perkataan ibunya. Selain jujur, ia selalu diingatkan sang ibu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Maka ia pun mengajak para ibu-ibu Rungkut Lor II, untuk berjualan kue produksi sendiri.

Di awal perjalanan usaha tersebut, banyak tantangan yang menghadang, termasuk soal modal. Ia berusaha pinjam sana-sini, namun penolakan yang diterima. Sampai akhirnya, usaha tersebut tetap berjalan hanya berbekal modal Rp 150 ribu hasil urunan tiga orang.

Tantangan juga datang dari keluarga para ibu-ibu tersebut. Mereka dilarang bekerja oleh suaminya dengan alasan menelantarkan urusan rumah tangga.

Almond Crispy buatan Irul. Almond Crispy buatan Irul. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Singkat cerita, usaha kue kecil-kecilan Irul bersama para ibu-ibu berkembang berkat promo mulut ke mulut di berbagai pertemuan RT dan PKK. Namun, seiring perkembangan teknologi informasi, media sosial pun menjadi wadah promosi.

"Ibu-ibu sekarang kan enggak gaptek. Jadi, mereka mempromosikan kuenya dan terima orderan lewat Facebook, Instagram, dan Whatsapp," kata peraih penghargaan Pahlawan Ekonomi Surabaya 2014 ini.

Berkat media sosial, lanjut Irul, Kampung Kue semakin dikenal. Tidak hanya di sekitaran Surabaya, tapi juga hingga ke mancanegara.

Baca Juga: Dengan Modal 0 Rupiah, Dua Kakak-Beradik Ini Sukses Bisnis Hijab

Saat ini, Kampung Kue memiliki 62 pedagang yang secara mandiri memproduksi dan menjual kue. Mereka berjualan di kala subuh. Puluhan ribu kue bisa diproduksi setiap harinya. Tidak hanya untuk dijual di Kampung Kue sendiri tapi juga didistribusikan ke pasar tradisional, pusat oleh-oleh, dan supermarket modern.

Irul berharap, Kampung Kue gagasannya dapat menginspirasi para perempuan untuk berani berkarya dan memberdayakan masyarakat sekitar sesuai dengan potensi yang dimiliki. "Menurut saya kekuatan perempuan bisa terlihat saat diberikan kesempatan untuk berbisnis," ujar Irul.
(dtg/dtg)