Pengalaman Dian Sastrowardoyo Kerja Kantoran, Diremehkan karena Jadi Aktris

Hestianingsih - wolipop Rabu, 11 Mei 2016 17:02 WIB
Foto: Gus Mun/detikHOT
Jakarta - Pendidikan bagi Dian Sastrowardoyo jadi hal yang sangat penting. Bahkan saat hamil anak kedua, bintang film 'Ada Apa Dengan Cinta? 2' ini masih bersemangat melanjutkan kuliahnya untuk meraih gelar S2.

Keseriusannya menimba ilmu membuahkan hasil yang memuaskan. Dian sukses lulus Magister Manajemen di Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Ada alasan kuat kenapa wanita berusia 33 tahun ini 'kekeuh' mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Di balik paras cantik dan bakatnya di bidang akting, ibu dua anak ini pernah merasakan pahitnya dianggap remeh dan dinilai tidak kompeten oleh rekan kerjanya. Setelah sukses membintangi 'Pasir Berbisik' dan 'Ada Apa Dengan Cinta?' di awal 2000-an, Dian memang sempat menghilang dari dunia keartisan.

Selama 3,5 tahun ia bekerja di salah satu perusahaan konsultan. Bekerja kantoran, dilihat Dian bisa membuka kesempatan untuk menjajaki tangga karier. Namun kenyataan terkadang tak seindah apa yang dibayangkan.

Bukannya mendapat keistimewaan, popularitasnya sebagai aktris justru membuat dirinya disepelekan di lingkungan kerja. Banyak klien yang ditemuinya tidak menganggapnya sebagai konsultan profesional, tapi seorang selebriti.

"Ketemu klien nggak didengar presentasi aku tapi malah minta foto. Di kantor aku dilihat sebagai artis, dianggap nggak kompeten dan hanya mengandalkan tampang. Aku di-underestimate senior sampai bos," ungkap Dian, saat mengisi acara seminar Wealth and Wellness - Healthy & Happy Inside, Wealthy Outside yang diadakan PermataBank di Ballroom The Ritz-Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (11/5/2016).

Anggapan remeh juga diterima Dian karena kala itu ia merupakan lulusan S1 filsafat. Ia mengatakan di dunia manajemen dan bisnis, lulusan filsafat maupun sastra umumnya lebih banyak diberi tugas-tugas 'ringan'. Pengusaha katering sehat ini jarang diserahkan tugas 'besar' karena dinilai kurang kompeten.

"Saat itu tekad aku adalah, aku harus dianggap sama. Aku lari lebih kencang dari yang lain. Begadang. Karena anak filsafat di bisnis itu dianggap pengetahuannya terbatas. Dikasihnya tugas assessment saja. Tugas hitung-hitungan yang teknis sedikit, atau berkaitan dengan angka dianggap nggak kompeten," cerita Dian.

Pengalaman itulah yang memacu Dian untuk melanjutkan pendidikannya. Ia ingin mendorong kualitas dirinya sendiri dan melihat sampai batas mana Dian bisa meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya seseorang merasa tidak mampu semata-mata bukan karena ia 'mutlak' tidak mampu. Tapi sejauh mana dia ingin menjadi orang yang lebih kompeten dan mengembangkan potensinya.

"Kalau mau belajar bisa juga mengerti. Nggak selalu anak filsafat tahunya yang abstrak-abstrak saja atau nggak bisa berhitung. It's about how do you break the myth. Di sini aku juga pesan ke anak muda kalau kita bisa jadi orang yang jauh lebih baik dari apa yang kita kira," pungkasnya. (hst/ays)