Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Mengikuti Kelas Kepribadian di Sekolah Duta Bangsa, Seperti Apa?

Intan Kemala Sari - wolipop
Senin, 09 Nov 2015 14:06 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Duta Bangsa
Jakarta -

Mengetahui etika dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari maupun dunia pekerjaan merupakan hal yang sangat penting. Tanpa etika, seseorang akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan sulit membuka diri terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Kini banyak lembaga-lembaga pendidikan non formal yang mengajarkan etika kepada para muridnya, salah satunya adalah sekolah kepribadian Duta Bangsa. Lewat sekolah kepribadian ini, para murid akan diajarkan bagaimana caranya beretika dalam dunia pekerjaan, termasuk etika berbusana, etika berkomunikasi melalui ekspresi bersuara, sikap tubuh, table manner, hingga pengembangan karakter agar mereka menjadi individu yang lebih tangguh.

Dipaparkan oleh Chandra Abie Suman selaku Program Development Head Duta Bangsa, lemba pendidikan yang didirikan oleh Drg. Anita Ratnasari Chaerul dan Mien Uno ini percaya bahwa selain pendidikan akademis, manusia juga memerlukan pendidikan karakter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika ilmu sudah didapat secara akademis, ada pendidikan karakter yang berjalan bergandengan. Jadi kalau secara intelektual dia pintar tapi tidak punya karakter, nantinya dia akan kesulitan bersosialisasi. Makanya di sini kita bangun karakter mereka," ujarnya saat berbincang dengan Wolipop di Menara Bank Mega Syariah, Kuningan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Ada lima kelas utama yang dihadirkan di Duta Bangsa, yakni kelas corporate untuk para karyawan, kelas reguler, kelas khusus atau private, kelas special activity, dan kelas outdoor. Kelas corporate, special activity, dan outdoor dilakukan dengan jadwal yang fleksibel, sedangkan untuk kelas reguler dilaksanakan selama tiga bulan atau 12 kali pertemuan.

Para murid dibebaskan untuk memilih kelas sendiri di hari Senin dan Rabu, Selasa dan Kamis, atau Sabtu. Dengan durasi tiga jam setiap pertemuannya, metode pengajarannya tidak seluruhnya berupa teori, tapi juga dikombinasikan dengan praktik langsung dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah 12 kali pertemuan, nantinya para murid akan menjalani ujian yang diuji langsung oleh Mien Uno. Di sini, banyak hal yang harus dipersiapkan agar lolos ujian, salah satu yang paling penting adalah mental dan niat yang kuat. Mental para murid akan diuji, apakah ia sudah sanggup 'bertarung' demi berubah menjadi pribadi yang lebih baik, atau memang tidak ada perubahan yang signifikan.

Wolipop pun sempat mengikuti kelas reguler di Duta Bangsa selama dua minggu dari total. Jumlah pesertanya yang sangat terbatas, hanya 8 sampai 14 orang. Hal ini dimaksudkan agar pembinaan dan diskusi lebih terarah sehingga manfaatnya akan lebih terasa bagi para peserta.

Pada pertemuan pertama, diajarkan tentang etika berbisnis dan table manner yang dibawakan oleh salah satu fasilitator Duta Bangsa. Sedangkan di minggu ke-dua, Wolipop belajar bagaimana caranya berpenampilan yang baik saat di lingkungan kerja dengan pemilihan busana yang tepat dan sesuai.

Ada banyak hal yang seringkali dianggap sepele oleh banyak orang, namun ternyata sangat penting di kehidupan sehari-hari terutama di dunia profesional. Misalnya, saat menghadiri jamuan makan oleh perusahaan, banyak orang yang masih bingung karena susunan sendok, garpu, pisau, dan piring-piring yang diletakkan begitu banyak. Di sinilah pelajaran etika jamuan makan yang diajarkan dalam sekolah kepribadian memiliki peranan penting.

Contoh sederhana lainnya adalah etika berbisnis yang ditunjukkan dari cara berjabat tangan. Banyak orang yang masih merasa ragu-ragu dalam bersalaman dengan jabatan yang kurang 'mantap'. Padahal, dengan jabatan tangan itulah, kesan pertama saat bertemu dengan orang sudah bisa dirasakan.

Dengan pelajaran etika-etika yang didapat, para murid diharapkan bisa membangun karakternya sehingga mereka bisa menunjukkan rasa percaya diri dan menemukan jati diri yang sesungguhnya. "Setelah mengikuti kelas di Duta Bangsa, paling tidak para murid mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi individu yang baik dan bisa mengaktualisasikan dirinya," tutup Chandra.

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads