Husnul Khatimah, Ubah Anak-anak Pecandu Video Games Jadi Gemar Baca Buku
wolipop
Jumat, 10 Apr 2015 12:05 WIB
Jakarta
-
Tujuan awal dari dibangunnya perpustakaan adalah mengalihkan ketertarikan anak-anak di Desa Lambirah dari video games ke sesuatu yang lebih bermanfaat, yaitu membaca buku. Namun usaha Husnul sempat terjegal sikap pesimis baik dari warga setempat maupun ibunya sendiri, saat ia menyampaikan niatnya mendirikan taman bacaan. Keterbatasan dana dan fasilitas, menjadi alasan mereka berlaku apatis terhadap ide Husnul.
Tidak menyerah, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh ini terus meyakinkan warga. Usaha berbuah hasil, setelah berkali-kali pertemuan akhirnya aparat desa mengizinkan Husnul menggunakan salah satu gedung sekolah yang sudah tak terpakai.
Tantangan yang dihadapi Husnul tidak sampai di situ. Karena lama dibiarkan terbengkalai, gedung sekolah tersebut tidak bisa langsung digunakan. Gedung perlu direhabilitasi dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya Husnul memutuskan mendonasikan sebagian uang beasiswa sekolahnya demi rehabilitasi gedung berjalan lancar dan segera bisa digunakan.
Pada 7 Agustus 2011, dengan hasil jerih payah Husnul dan bantuan warga sekitar, berdirilah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) Tanyoe. Nama Tanyoe dipilih karena mengandung arti 'kita', dengan motto 'Pendidikan dari Kita, Oleh Kita, untuk Kita'. Husnul juga mengadakan gerakan 'One Man One Book, dimana setiap orang bisa menyumbangkan buku-buku mereka, sosialisasi donasi buku juga digalakkan bungsu dari sembilan bersaudara ini lewat media sosial. Dari berbagai kegiatan itu, terkumpul 314 buku yang menjadi 'penghuni' taman bacaan dirian Husnul.
Keberadaan buku-buku di desa yang letaknya 40 kilometer dari ibukota Banda Aceh ini menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi para penduduknya, terutama anak-anak. Terlihat bahwa mereka haus hiburan dan bacaan karena dari hanya belasan anak yang menjadi anggota TPM Tanyoe, kini jumlahnya semakin bertambah bahkan ada yang datang dari desa lain. Sejauh ini ada sekitar 120 anggota yang aktif dan rutin mengikuti kegiatan di TPM, dengan 16 orang relawan.
Tidak hanya menjadi taman bacaan, TPM Tanyoe juga memberikan layanan pendidikan secara gratis. Mulai dari bimbingan belajar, pemberian beasiswa hingga mengajarkan permainan rakyat dan tarian tradisional. Selama empat tahun berdiri, taman pendidikan ini telah membawa Desa Lambirah menjadi Juara Perpustakaan Desa Se-Aceh Besar dan Desa Yang Ramah Anak. Tidak ada lagi terlihat anak-anak yang mencuri-curi waktu untuk bermain video games, waktu senggang mereka lebih banyak dihabiskan untuk belajar dan membaca buku.
Perhatian dan empati Husnul terhadap dunia pendidikan terutama bagi anak-anak dengan kemampuan terbatas, tak terlepas dari pengalamannya di kala kecil. Lahir dari keluarga sederhana, Husnul menyaksikan sendiri bagaimana kedua orangtuanya banting tulang untuk membesarkan sembilan anak di tengah keterbatasan uang. Sang ibu yang seorang guru bahkan pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan.
"Kawan Amak (panggilan untuk ibu) yang juga seorang guru, pernah mengejek Amak. (dia bilang) Kalau anak Amak akan ada yang menjadi sampah masyarakat. Hal itu karena ia melihat anak Amak yang banyak dan keadaan keuangan keluarga yang sangat tidak mencukupi," tutur Husnul.
Dari pengalaman hidup itulah, Husnul tumbuh menjadi seorang wanita yang tegar dan gigih. Tantangan bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Sosok orangtua dan kakak-kakaknya telah menjadi inspirasi dirinya untuk berpegang pada prinsip 'menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar' yang juga diterapkannya pada semua anak dan relawan di TPM Tanyoe.
(hst/eny)
Bermula dari keprihatinan terhadap anak-anak di desanya yang seolah 'terbius' video games dan mengesampingkan pendidikan, Husnul Khatimah Adnan tergerak mendirikan perpustakaan yang kini berkembang menjadi sebuah taman pendidikan. Hobi ini memang membawa dampak negatif terhadap anak-anak di Desa Lambirah, Aceh Besar.
Banyak hal-hal penting yang terbengkalai akibat terlalu asyiknya mereka dengan video games. Mulai dari main tak kenal waktu, jadi malas mengaji dan belajar bahkan ada beberapa yang melakukan pencurian demi mendapatkan uang sewa main.
"Bayangkan ada yang main sampai 24 jam di tempat sewa," tukas wanita berusia 23 tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak menyerah, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh ini terus meyakinkan warga. Usaha berbuah hasil, setelah berkali-kali pertemuan akhirnya aparat desa mengizinkan Husnul menggunakan salah satu gedung sekolah yang sudah tak terpakai.
Tantangan yang dihadapi Husnul tidak sampai di situ. Karena lama dibiarkan terbengkalai, gedung sekolah tersebut tidak bisa langsung digunakan. Gedung perlu direhabilitasi dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya Husnul memutuskan mendonasikan sebagian uang beasiswa sekolahnya demi rehabilitasi gedung berjalan lancar dan segera bisa digunakan.
Pada 7 Agustus 2011, dengan hasil jerih payah Husnul dan bantuan warga sekitar, berdirilah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) Tanyoe. Nama Tanyoe dipilih karena mengandung arti 'kita', dengan motto 'Pendidikan dari Kita, Oleh Kita, untuk Kita'. Husnul juga mengadakan gerakan 'One Man One Book, dimana setiap orang bisa menyumbangkan buku-buku mereka, sosialisasi donasi buku juga digalakkan bungsu dari sembilan bersaudara ini lewat media sosial. Dari berbagai kegiatan itu, terkumpul 314 buku yang menjadi 'penghuni' taman bacaan dirian Husnul.
Keberadaan buku-buku di desa yang letaknya 40 kilometer dari ibukota Banda Aceh ini menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi para penduduknya, terutama anak-anak. Terlihat bahwa mereka haus hiburan dan bacaan karena dari hanya belasan anak yang menjadi anggota TPM Tanyoe, kini jumlahnya semakin bertambah bahkan ada yang datang dari desa lain. Sejauh ini ada sekitar 120 anggota yang aktif dan rutin mengikuti kegiatan di TPM, dengan 16 orang relawan.
Tidak hanya menjadi taman bacaan, TPM Tanyoe juga memberikan layanan pendidikan secara gratis. Mulai dari bimbingan belajar, pemberian beasiswa hingga mengajarkan permainan rakyat dan tarian tradisional. Selama empat tahun berdiri, taman pendidikan ini telah membawa Desa Lambirah menjadi Juara Perpustakaan Desa Se-Aceh Besar dan Desa Yang Ramah Anak. Tidak ada lagi terlihat anak-anak yang mencuri-curi waktu untuk bermain video games, waktu senggang mereka lebih banyak dihabiskan untuk belajar dan membaca buku.
Perhatian dan empati Husnul terhadap dunia pendidikan terutama bagi anak-anak dengan kemampuan terbatas, tak terlepas dari pengalamannya di kala kecil. Lahir dari keluarga sederhana, Husnul menyaksikan sendiri bagaimana kedua orangtuanya banting tulang untuk membesarkan sembilan anak di tengah keterbatasan uang. Sang ibu yang seorang guru bahkan pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan.
"Kawan Amak (panggilan untuk ibu) yang juga seorang guru, pernah mengejek Amak. (dia bilang) Kalau anak Amak akan ada yang menjadi sampah masyarakat. Hal itu karena ia melihat anak Amak yang banyak dan keadaan keuangan keluarga yang sangat tidak mencukupi," tutur Husnul.
Dari pengalaman hidup itulah, Husnul tumbuh menjadi seorang wanita yang tegar dan gigih. Tantangan bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Sosok orangtua dan kakak-kakaknya telah menjadi inspirasi dirinya untuk berpegang pada prinsip 'menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar' yang juga diterapkannya pada semua anak dan relawan di TPM Tanyoe.
(hst/eny)











































