Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Interpreter

Kisah Sukses Andina Sang Penerjemah, Pernah Jadi PRT Hingga Dosen di Paris

wolipop
Jumat, 05 Des 2014 11:37 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Andina (Intan/Wolipop)
Jakarta -

Malang melintang di dunia penerjemahan sejak 14 tahun lalu, tak terbayang oleh Andina Margaretha Rorimpandey dirinya akan menjadi seorang penerjemah bahasa Prancis, bahasa dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan pelafalan sedikit rumit. Namun karena didorong oleh rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi, hal inilah yang mengantarnya sukses menjadi penerjemah resmi yang diakui oleh Kedutaan Prancis.

Lulusan Sastra Prancis Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini memang awalnya pernah bekerja di Kedutaan Prancis selama beberapa tahun. Hingga akhirnya pada 2011, ibu satu anak ini mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi pasca sarjana di Institut National des Langues et Civilisations Orientals (INALCO) Paris. Bukan hanya belajar, di sana ia juga sempat menjadi dosen bahasa Indonesia bagi orang-orang Prancis.

Selama di Prancis, wanita kelahiran 6 Oktober 1979 ini mengaku banyak pengalaman yang didapatnya. Mulai dari bekerja sambilan sebagai pengurus rumah tangga dan baby sitter, berkenalan dengan orang asing melalui situs jejaring sosial, berteman baik dengan gelandangan, supir truk, tukang sampah, hingga menjadi penerjemah di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), Paris. Menurutnya, hal-hal berharga seperti ini belum tentu didapatkan jika ia hanya menetap di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bisa dibilang selama di Paris aku banyak belajar dari pengalaman. Aku jadi tahu kata-kata yang sering digunakan oleh kalangan tertentu. Bagaimana mereka mengucapkan salam dengan kata-kata yang berbeda, kosakatanya, bahkan bahasa slangnya," cerita wanita yang akrab disapa Dina ini saat berbincang dengan Wolipop di Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat, Senin (01/12/2014).

Tidak hanya itu saja, selama dua tahun menetap di kota mode tersebut, tak jarang Dina mendapatkan kesempatan sebagai pemandu wisata sekaligus penerjemah bagi para wisatawan dan pasangan suami istri asal Indonesia yang sedang berbulan madu. Dari pekerjaan itulah ia mendapat kesempatan untuk mengelilingi negara-negara di benua Eropa secara gratis.

Setelah kembali ke Indonesia, Andina semakin mantap untuk melanjutkan minatnya sebagai penerjemah. Sebagian besar klien yang menggunakan jasanya adalah orang-orang lama yang ia jumpai di Prancis. Hingga saat ini, klien terbesarnya datang dari Eropa dan India. Ia sengaja lebih memilih bekerja sama dengan klien asing karena mereka lebih menghargai hasil kerjanya.

Tidak hanya para klien asing, wanita yang tergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) ini juga tak jarang mendapatkan klien dari Indonesia yang sebagian besar adalah mahasiswa. Mereka biasanya meminta Andina untuk menerjemahkan dokumen-dokumen penting sebagai salah satu syarat untuk keperluan sekolah di sana.

"Tapi ada juga beberapa klien yang minta tolong dibuatkan surat pengantar keperluan nikah, mengurus akta perceraian, warisan, ya pokoknya hal-hal lain yang berurusan dengan Prancis dalam bentuk dokumen," ujarnya lebih jelas.

Meski kehadiran penerjemah bahasa Prancis di Indonesia masih belum banyak, wanita yang hobi membaca komik dan kamus ini hanya menargetkan klien yang diterimanya berjumlah 30 orang dalam sebulan. Namun saat ini, meski belum memenuhi target, Andina mengaku sempat merasa kewalahan dalam menangani permintaan yang masuk, terutama dari klien asing.

"Klienku banyaknya dari Eropa dengan perbedaan waktu sampai enam jam dan terkadang mereka kasih dokumen jam dua siang waktu sana, sedangkan di sini sudah jam delapan malam. Jadi mau nggak mau aku harus selesaikan sampai jam satu pagi," aku wanita yang tergabung dalam Asosiasi Pasar Malam Paris itu.

Seringnya begadang hingga larut malam, Andina merasa waktu istirahat yang dimilikinya masih sangat kurang sehingga ia sedikit mengabaikan kesehatannya. Pekerjaannya yang menuntutnya untuk terus duduk di depan komputer membuatnya kurang bergerak hingga timbul banyak penyakit. Bahkan pernah, jari-jari yang biasa ia pakai untuk mengetik sempat kaku dan tidak bergerak.

Terlepas dari duka yang dirasakannya tersebut, wanita asli Surabaya ini menikmati profesinya sebagai penerjemah tertulis. Ia bisa belajar hal-hal baru setiap harinya sehingga pengetahuannya tidak terbatas di bidang tertentu. "Misalnya hari ini aku mengerjakan dokumen hukum, besok aku bisa bikin dokumen masak, besoknya lagi politik, besoknya lagi ekonomi. Selalu berubah setiap harinya jadi nggak membosankan," tuturnya.

Selain itu, dari sisi pendapatan, menurutnya lebih menguntungkan ketimbang dia bekerja di kedutaan. Dalam sebulan bekerja, pendapatannya bisa lebih dari Rp 10 juta. Jumlah ini belum diakumulasikan dengan pendapatan yang ia terima dengan mata uang Euro.

"Kalau dari klien asing aku kan masih punya rekening di Prancis, jadi orang-orang Eropa senang menggunakan jasaku karena bayarnya gampang. Dalam sebulan minimalnya aku bisa dapat 500 euro atau Rp 7,5 juta," pungkas wanita yang bercita-cita ingin mempunyai kantor sendiri itu.

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads