Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Bahayanya Kasak-kusuk di Belakang Bos Galak

Eny Kartikawati - wolipop
Jumat, 13 Jul 2012 13:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Cherry (Dok. Pribadi)
Jakarta - Memiliki bos galak pastinya bukan hal yang menyenangkan untuk karyawan. Tapi ketika Anda dihadapi pada situasi ini, sebaiknya jangan membicarakan si bos di belakang. Apa bahayanya?

"Kalau bawahan kasak-kusuk di antara tim, tim kerja bisa jadi tidak baik," ujar Chief Consultant di Experd, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia, Cherry Zulviyanti Riadi Lukman saat diwawancara wolipop Kamis (12/7/2012).

Seorang bawahan yang memiliki bos galak sebaiknya memahami sikap atasan tersebut. Menurut Cherry, sikap tegas atau galak tersebut karena bos ingin semua hal berjalan teratur dan mencapai target.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bawahan harus mendukung itu. Tetap harus mengejar apa yang dituju atasan. Kadangkala mungkin bawahan merasa sakit hati, tidak dihargai, disinilah dibutuhkan kebesaran hati dari bawahan," jelasnya.

Tentunya ada batasan sampai mana seorang bawahan bisa terus bertahan atas perlakukan galak atau tegas atasannya. Cherry mengatakan batasan tersebut tergantung dari karyawan itu sendiri.

Selama seorang karyawan nyaman dengan sikap bos yang galak dan tidak masalah dengan karakteristik atasan tersebut, seharusnya tidak menjadi masalah. "Tapi kalau sudah sangat stres, bawaannya ingin menentang secara frontal, harus dipikir, masih nggak ingin kerja," tutur wanita lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran itu.

Bicara terlalu frontal pada bos yang galak, menurut Cherry juga bisa berdampak kurang baik pada tim. Suasana kerja menjadi tidak kondusif karena hubungan antara salah satu karyawan dengan bos sudah tidak baik.

Kasak-kusuk di belakang atasan yang galak juga dapat membuat kinerja karyawan menurut karena terlalu asyik bergosip. Bukan hanya itu saja, membicarakan bos pun bisa membuat karir tidak berkembang atau bahkan diberhentikan.

Oleh karena itulah Cherry menyarankan, jika memang sikap bos galak sudah keterlaluan dan tim kerja sepakat untuk berbicara dengannya, carilah waktu yang tepat. Orang yang menyampaikan keluh-kesah pada atasan itu juga harus orang yang tepat.

"Kalau kebetulan misalnya hubungannya cukup erat, bisa disampaikan dalam situasi informal, timing-nya pas. Bukan sebagai bawahan yang menggurui atasannya, tapi sebagai rekan yang bisa memberikan masukkan dan dikemas dengan baik. Bukan bertujuan untuk menjatuhkan harga diri beliau," saran Cherry yang sudah enam tahun bekerja sebagai konsultan di Experd itu.



(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads