ADVERTISEMENT

Survei Ungkap Alasan Utama Istri dan Ibu Mertua Sering Nggak Akur

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop Minggu, 15 Jan 2023 11:00 WIB
Ilustrasi mertua dan ipar Ilustrasi menantu dan ibu mertua. Foto: Getty Images/iStockphoto/ake1150sb
Jakarta -

Drama antara istri dan ibu mertua jadi permasalahan rumah tangga yang umum terjadi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga belahan negara lain.

Survei yang dilakukan University of Wisconsin-Stevens Point (UWSP), Amerika Serikat, konflik antara menantu wanita dan ibu mertua lebih sering terjadi ketimbang menantu pria. Lebih dari 133 pengantin baru wanita yang disurvei menyatakan merasa cemas terhadap hubungan mereka dengan ibu mertuanya.

Sebenarnya apa penyebab istri dan ibu mertua sering kali tidak akur?

Berdasarkan hasil survei, bersaing merebut perhatian dari anak lelaki maupun suami adalah salah satu alasan utama kenapa hubungan wanita dan ibu mertua seringkali diwarnai ketegangan dan kekhawatiran. Menurut Dr Sylvia L Mikucki-Enyart, asisten profesor ilmu komunikasi di UWSP yang memimpin penelitian, seorang ibu jauh lebih cemas dengan pernikahan anak lelaki ketimbang jika anak perempuannya yang akan menikah.

Sementara bagi istri, rata-rata mereka takut sang ibu mertua akan berbicara hal-hal buruk tentangnya kepada suami. Mereka juga khawatir mertua ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga mereka.

Hasil penelitian terbaru ini mendukung studi sebelumnya yang dilakukan psikolog dari Cambridge University, Terri Apter pada 2008. Ia menemukan ada 60 persen wanita yang merasakan ada ketegangan dengan ibu dari suami mereka, sementara pria hanya 15 persen.

Lalu, apa yang dirasakan para ibu yang anak lelakinya menikah? Dr Sylvia pun melakukan survei terhadap 89 ibu untuk mengetahui kekhawatiran terbesar mereka terhadap pernikahan putranya.

Hasilnya, ia menemukan para ibu umumnya mencemaskan kesejahteraan hidup anaknya. Mereka juga takut kalau anak yang sejak kecil dibesarkan dengan penuh kasih sayang tidak sering mengunjunginya setelah menikah dan takut istri barunya akan mengubahnya jadi orang lain.

Para ibu juga takut kalau menantunya tidak bisa masak dan anaknya tidak bahagia dengan pernikahan. Mereka pun takut jadi tidak terlalu diandalkan oleh sang anak karena sudah ada wanita lain di kehidupannya.

Ketegangan antara wanita dan ibu mertua semakin bertambah dengan adanya jiwa persaingan. Keduanya berlomba-lomba ingin jadi sosok yang lebih baik dalam mengurus dan mengayomi suami/anak mereka. Dr Sylvia mengatakan, wanita memang dilahirkan punya jiwa kompetitif yang kuat dengan sesamanya.

Terlebih lagi, yang menyebabkan ibu mertua dan menantu perempuan sering tidak akur karena keduanya tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap satu sama lain. Menanggapi permasalahan tersebut, Dr. Sylvia mengimbau agar para suami bisa jadi penengah antara istri dan ibunya.

"Suami harus bisa jadi penengah. Dia harus bisa memprioritaskan istrinya dan itu yang harus orang lain tahu. Di sisi lain, wanita sebaiknya tidak menjadikan ini sebagai sebuah kompetisi (dengan ibu mertua). Keduanya mencintai pria yang sama tapi dengan cara yang jauh berbeda," ujar Sylvia.

(hst/hst)