Gelak Tawa Chairul Tanjung di Upacara Panggih Pernikahan Putri Tanjung

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 20 Mar 2022 13:20 WIB
Jakarta -

Putri Indahsari Tanjung dan Guinandra Jatikusumo melangsungkan upacara panggih usai menggelar akad nikah, Minggu (20/3/2022) pagi. Senyum bahagia mewarnai wajah kedua mempelai dan keluarga pengantin khusus ayah Putri, Chairul Tanjung.

Upacara panggih menjadi bagian dari rangkaian acara pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo yang dilaksanakan dalam adat Jawa Solo di kediaman keluarga Chairul Tanjung di Menteng, Jakarta Pusat.

Upacara tradisional ini sendiri melambangkan pertemuan awal antara pengantin wanita dengan pengantin pria yang masing-masing masih dalam keadaan suci.

Mengawali panggih, keluarga dari kedua belah pihak melakukan penyerahan sanggan. Chairul Tanjung dan Anita Ratnasari Tanjung selaku orangtua mempelai wanita, menerima sanggan dari keluarga pengantin pria. Selain itu, juga diberikan sepasang kembar mayang yang melambangkan harapan, cita-cita dan cinta kedua mempelai.

Putri dan Guinandra lalu melakukan balangan gantal atau melempar sirih. Daun sirih yang akan dilempar sudah diikat dengan benang lawe, simbol bahwa keduanya sudah mengikat cinta kasihnya yang suci.

Aksi Putri dan Guinandra melempar sirih tersebut ke arah jantung pasangannya sempat mengundang tawa para tamu. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan sejumlah tokoh turut menyaksikan prosesi tersebut. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo hadir di acara akad nikah sebagai saksi dari pihak keluarga mempelai wanita.



Ranupada menjadi tahapan selanjutnya dalam prosesi panggih ini. Guinandra menginjak telur dengan kaki, lalu Putri membasuh kaki suaminya dengan air bersih (wiji dadi) sebagai wujud bakti istri kepada suami agar rumah tangga bahagia dan harmonis. Guinandra lalu membantu Putri bangkit berdiri, yang dimaknai kedudukan yang setara keduanya. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Lanjut ke ritual sindur binayang, Chairul Tanjung menuntun Guinandra dan Putri berjalan ke singgahsana pelaminan dengan kain sindur atau slindur berwarna merah yang telah disampirkan oleh Ibu Anita. Sindur binayang menjadi simbol tuntunan orangtua dan anak senantiasa mendengarkan nasihat orangtuanya.

Tiba di pelaminan, mereka lalu melakukan bobot timbang. Kedua mempelai duduk di pangkuan Chairul Tanjung. Sang istri lalu bertanya siapa yang paling berat dalam bahasa Jawa.

"Bapak... abot sing endi Pak?" tanya sang istri. "Podo abote. Roto," balas Chairul Tanjung berseri dan langsung disambut gelak tawa dari para tamu. Pengusaha yang juga pendiri CT Corp. mengatakan berat keduanya sama. Ritual ini melambangkan orangtua mempelai wanita akan memperlakukan sang menantu seperti anak sendiri.

Setelahnya, upacara panggih Putri Tanjung dan Guinandra berlanjut dengan ritual kacar-kucur sebagai lambang suami akan menafkahi istri, dan istri dapat mengatur keuangan keluarga dengan bijak.

Putri lalu memberikan tujuh jenis kacang-kacangan yang dicampur koin tersebut kepada ibunya, simbol ia dan suami akan tetap berbakti kepada orangtua meski telah hidup mandiri.

Usai ritual tersebut, mereka saling menyuapi nasi dan minum air putih yang jernih dengan harapan agar hati tetap jernih dan tenang saat menghadapi tantangan hidup bersama sebagai pasangan suami-istri.

Chairul Tanjung dan istri lalu memberikan rujak kepada Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo sebagai lambang penuh harapan supaya keluarga dapat merasakan manisnya hidup. Orangtua mempelai pria, Dwi Asmono dan Dira P. Komalaningtyas, lalu bergabung.

Upacara panggih yang dilakoni sebagai doa bagi pengantin untuk tetap bahagia mengarungi kehidupan rumah tangga lalu ditutup dengan prosesi sungkeman.

(dtg/dtg)