Fenomena Naiknya Kasus Perceraian di Sejumlah Negara karena Virus Corona

Hestianingsih - wolipop Senin, 08 Jun 2020 15:13 WIB
Couple having arguments and sexual problems in bed Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: istock
Jakarta -

Meningkatnya angka perceraian di tengah pandemi virus Corona menjadi fenomena yang nyata terjadi di beberapa belahan dunia. KDRT, perdebatan tiada henti, kejenuhan hingga poligami jadi berbagai alasan pasangan mengajukan cerai yang dipicu aturan lockdown.

Sejak 24 Februari 2020, China melaporkan ada lebih dari 300 pasangan mengajukan permohonan cerai. Menurut petugas pendaftaran pernikahan di Provinsi Sichuan, kebanyakan dari mereka ingin cerai akibat lockdown Corona.

Ketika menghabiskan terlalu banyak waktu bersama selama isolasi, ternyata beberapa pasangan malah jadi sering bertengkar. Lu Shijun, menajer pendaftaran pernikahan melaporkan adanya peningkatan pesat dibandingkan sebelum merebaknya pandemi COVID-19.

awkward couple, issues in family concept. sad woman on sofa feeling bad with her love partner.Ilustrasi pasangan bercerai. Foto: Getty Images/iStockphoto/Vichakorn


Orang-orang muda menghabiskan banyak waktu di rumah. Mereka cenderung berargumen karena sesuatu yang remeh dan cepat-cepat menginginkan perceraian," katanya.

Fenomena yang sama juga terjadi di Inggris. Co-op Legal Services, firma hukum khusus kasus perceraian, masalah keluarga dan bidang ketenagakerjaan mencatat adanya peningkatan angka perceraian hingga 42 persen.

Naiknya kasus cerai terjadi di antara rentang waktu 23 Maret dan pertengahan Mei 2020 saat diberlakukannya lockdown. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Unhappy young couple. Shallow DOF. Developed from RAW; retouched with special care and attention; Small amount of grain added for best final impression. 16 bit Adobe RGB color profile.Ilustrasi pasangan bercerai. Foto: iStock


Seperti dilansir News Sky, Co-op mengatakan bagi sebagian pasangan, lockdown memberikan kesempatan untuk saling mendekatkan diri dan meluangkan waktu bersama lebih banyak. Namun ada pula pasangan yang justru jadi sering bertengkar.

Data dari Co-op juga mengungkap, Jumat menjadi hari yang paling umum dipilih pasangan untuk mengajukan cerai. Diikuti Hari Selasa di urutan kedua.

"Sekarang ini, kekhawatiran akan kondisi finansial, pekerjaan, ditambah dengan fakta bahwa seisi rumah harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama bisa menciptakan ketegangan pada hubungan," jelas Tracey Moloney dari Co-op Legal Services.

Arab Saudi juga mendapati kenaikan angka perceraian selama lockdown virus Corona. Dilansir Middle East Monitor, ada sekitar 7.482 kasus perceraian yang terjadi di masa pandemi virus Corona.

Young woman sitting at sidewalk cafe and using LaptopIlustrasi wanita berhijab. Foto: Getty Images


Hampir sepertiga penyebab perceraian, karena para istri mendapati suaminya menikah lagi, atau menjalani praktik poligami tanpa sepengetahuan mereka. Sebanyak 52 persen kasus perceraian terjadi di Mekah dan Riyadh. Data statistik juga menunjukkan mayoritas wanita yang mengajukan cerai berprofesi sebagai karyawan, pebisnis dan dokter wanita.

Jepang juga mencatat adanya kenaikan kasus perceraian di Jepang. Bahkan muncul istilah 'corona divorce' yang sempat trending di Twitter pada akhir April 2020. Meskipun tidak disebutkan angka pastinya, rata-rata penyebab istri ingin mengajukan cerai karena lelah harus bersama suami yang banyak menuntut selama 24 jam setiap hari. Ada pula yang muak karena selalu mendengar dengkuran suaminya di siang hari.

"Rumah berubah jadi tempat kerja dan itu penyebab utama yang jadi masalah. Orang-orang merasa stres ketika lingkungan mereka berubah... dan itu bisa bisa menimbulkan keretakan dalam pernikahan," kata pengacara pernikahan Chie Goto, yang berbasis di Kota Nishinomiya, Jepang, seperti dikutip dari South China Morning Post.



Simak Video "Perceraian Meningkat saat Pandemi, Ini Kata Dokter Boyke"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)