Liputan Khusus Siapkan Dana Nikah

Mau Kumpulkan Biaya untuk Nikah, Jangan Menabung. Ini Alasannya!

- wolipop Jumat, 08 Nov 2013 11:18 WIB
Dok. Thinkstock Dok. Thinkstock

Jakarta - Pernikahan bukan soal cinta atau prinsip semata, tapi juga biaya-biaya. Sebagian pasangan yang sudah siap menikah menyiapkan dana pesta pernikahannya dengan menabung sejak jauh hari, namun Financial Planner Indonesia, Lisa Soemarto, sama sekali tidak menyarankan menabung untuk biaya menikah. Menurutnya, menabung tidak bisa menghasilkan apa pun jika dilakukan dalam waktu jangka panjang. Mengapa demikian?

Lisa menjelaskan, saat Anda mulai mengumpulkan dana pernikahan sejak tahun ini tapi berencana naik ke pelaminan tiga tahun mendatang tentu harganya akan jauh berbeda. Misalnya saja target menggelar pesta pernikahan Rp 50 juta. Biaya pernikahan Rp 50 juta sekarang dengan tiga tahun mendatang tentu akan berbeda karena adanya inflasi.

"Yang jelas masuknya bukan tabungan dalam perencanaan keuangan karena kalau cuma satu tahun nggak akan cukup. Kita harus memperhitungkan gedung dan makanan sudah naik berapa kali lipat karena ada inflasi, jadi kita sudah capek-capek ngumpulin uang, tiga tahun kemudian nggak sampai karena harganya sudah Rp 150 juta mungkin. Akhirnya kita cuma punya uang Rp 50 juta itu kalau tabungan karena tabungan tidak menghasilkan apa-apa," jelas Lisa saat diwawancarai Wolipop di Pacific Place, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Salah satu pemilik kafe Steakology ini pun memberikan solusi, sebaiknya mengalokasikan dana menikah ke investasi daripada menabung. Produk investasinya juga tergantung jangka waktu akan digunakannya dana tersebut. Jika Anda sudah berencana menikah kurang dari tiga tahun lagi, pilih emas sebagai investasi. Emas memiliki risiko yang lebih rendah daripada produk investasi lainnya.

Semakin pendek jangka waktu investasi semakin tinggi risikonya karena fluktuatif atau ketidaktetapan harga barang juga mempengaruhi investasi. Produk emas fluktuatifnya tidak terlalu besar dibandingkan jenis investasi seperti reksadana. Nah, kalau Anda berencana menikah lima tahun mendatang atau lebih baru pilih reksadana sebagai investasi jangka panjang.

"Kalau di atas 5 tahun reksadana saja supaya hasilnya maksimal, karena semakin panjang jangka waktunya, risikonya semakin rendah dan hasilnya semakin besar," ujar Trainer International Association of Registered Financial Consultans (IARFC) itu.

Untuk memulai reksadana, ibu dua anak ini tidak membatasi nominal tergantung kebutuhan Anda ingin menikah seperti apa yang nantinya akan menentukan budget pernikahan. Misalnya saja, Anda mau menikah dengan budget Rp 50 juta akan berbeda dengan seseorang yang berharap pernikahan mewah hingga mencapai angka Rp 1 miliar.

Lisa juga menyarankan, sebaiknya investasi ini disiapkan oleh diri sendiri jangan bergantung pasangan. Investasi tidak mengenal gender ataupun tujuan tapi yang penting jangka waktu. Jadi saat Anda akan berinvestasi untuk menikah, pikirkan kapan perkiraan waktu menikah karena hal itu juga menentukan produk investasinya.

"Investasi mengenal jangka waktu. Kalau jangka waktunya berbeda, produknya berbeda, kalau tujuannya dana menikah, pendidikan, pensiun, liburan, produknya nggak beda tapi tergantung jangka waktunya," tutup Lisa.



(aln/fer)