Alergi WiFi, Wanita Ini Terpaksa Tinggalkan Rumah dan Hidup di Gudang
Hestianingsih - wolipop
Jumat, 20 Jan 2017 16:18 WIB
Jakarta
-
Di era ketika hampir semua orang ketergantungan WiFi, Rachel Hinks justru sebaliknya. Rachel sama sekali tidak bisa terekspos WiFi karena akan menyebabkan kesehatannya terganggu.
Ya, Rachel mengidap masalah kesehatan yang cukup unik. Ia alergi WiFi. Dalam artian yang sebenarnya.
Kondisi Rachel yang alergi terhadap WiFi membuat tubuhnya bergetar keras, timbul bercak-bercak merah yang terasa panas membakar dan sakit kepala setiap kali terekspos jaringan internet tanpa kabel tersebut. Ia mengklaim, dirinya mengalami hipersensitivitas elektromagnetik.
Ketika ada gelombang elektromagnet di dekatnya --yang biasanya berasal dari sinyal WiFi-- Rachel akan menderita gejala alergi. Untuk menghindari sinyal WiFi, wanita yang beprofesi sebagai terapis itu terpaksa tinggal di sebuah gudang yang jauh dari sumber gelombang maupun sinyal WiFi.
"Awalnya aku mengalami gejala ringan, aku menyadarinya ketika menggunakan telepon tanpa kabel dan kupingku terasa panas terbakar sekitar 10 menit, dan ketika aku mencoba pakai laptop menggunakan WiFi aku menjadi sangat lelah jadi aku menggantinya dengan koneksi kabel," tutur wanita 43 tahun ini, seperti dikutip dari Mirror.
Belakangan Rachel baru tahu kalau tiang pemancar ponsel di belakang rumahnya naik dari sinyal 2G menjadi 4G. Akibatnya, Rachel harus menjauh dari rumah yang ditempatinya bersama kucing peliharaannya. Setiap hari Rachel akan mampir dari gudang ke rumahnya untuk memberi makan kucing dan mengajaknya berjalan-jalan agar tidak bosan.
Alergi yang dialaminya ini juga membuat Rachel cukup kesulitan bersosialisasi dengan teman-temannya. Setiap kali berkumpul, Rachel akan meminta temannya untuk mematikan ponsel karena khawatir akan membuat gejalanya muncul dan membuatnya disorientasi.
Sensitivitas berlebihan terhadap gelombang elektromagnet hingga saat ini belum dikenal sebagai gangguan kesehatan yang bersifat ilmiah. World Health Organization pun menyatakan belum melihat adanya penjelasan ilmiah terkait gejala alergi yang dialami Rachel, yang diklaim terjadi akibat medan elektromagnet. Namun Rachel bersikeras kalau alerginya terjadi akibat gelombang elektromagnet dari WiFi.
"Bagaimana jika aku salah satu orang yang pertama menderita gejala ini karena daya tahan tubuhku yang lemah, tapi siapa yang tahu beberapa ratus tahun kemudian teknologi akan jadi secanggih apa dan berapa banyak orang yang akan lebih banyak menderita karenanya," ujar Rachel, yang merupakan penderita Lupus.
Dia menambahkan, "Aku tidak pernah membayangkan aku akan berada di situasi ini ketika aku punya rumah kecil cantik yang sudah aku sewa selam 17 tahun dan tetangga yang baik, tapi sekarang aku menjadi terlalu sakit untuk tinggal di sana."
Tak hanya WiFi, Rachel juga mengaku tidak bisa berlama-lama di dekat barang-barang elektronik, khususnya yang memancarkan radiasi seperti microwave. Hal yang paling ditakutkan Rachel adalah jika gejala alerginya semakin memburuk dan membuatnya tinggal di sebuah caravan, di tempat yang sangat terpencil.
Rachel pun berharap lebih banyak orang yang mengetahui dan menyadari akan kondisi langka yang dialaminya, dan mungkin orang lain di luar sana. Sehingga jika ada orang lain yang juga mengalami hal yang sama, bisa mendapatkan dukungan atau bantuan dari masyarakat sekitarnya. (hst/hst)
Ya, Rachel mengidap masalah kesehatan yang cukup unik. Ia alergi WiFi. Dalam artian yang sebenarnya.
Kondisi Rachel yang alergi terhadap WiFi membuat tubuhnya bergetar keras, timbul bercak-bercak merah yang terasa panas membakar dan sakit kepala setiap kali terekspos jaringan internet tanpa kabel tersebut. Ia mengklaim, dirinya mengalami hipersensitivitas elektromagnetik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya aku mengalami gejala ringan, aku menyadarinya ketika menggunakan telepon tanpa kabel dan kupingku terasa panas terbakar sekitar 10 menit, dan ketika aku mencoba pakai laptop menggunakan WiFi aku menjadi sangat lelah jadi aku menggantinya dengan koneksi kabel," tutur wanita 43 tahun ini, seperti dikutip dari Mirror.
Foto: Thinkstock |
Belakangan Rachel baru tahu kalau tiang pemancar ponsel di belakang rumahnya naik dari sinyal 2G menjadi 4G. Akibatnya, Rachel harus menjauh dari rumah yang ditempatinya bersama kucing peliharaannya. Setiap hari Rachel akan mampir dari gudang ke rumahnya untuk memberi makan kucing dan mengajaknya berjalan-jalan agar tidak bosan.
Alergi yang dialaminya ini juga membuat Rachel cukup kesulitan bersosialisasi dengan teman-temannya. Setiap kali berkumpul, Rachel akan meminta temannya untuk mematikan ponsel karena khawatir akan membuat gejalanya muncul dan membuatnya disorientasi.
Sensitivitas berlebihan terhadap gelombang elektromagnet hingga saat ini belum dikenal sebagai gangguan kesehatan yang bersifat ilmiah. World Health Organization pun menyatakan belum melihat adanya penjelasan ilmiah terkait gejala alergi yang dialami Rachel, yang diklaim terjadi akibat medan elektromagnet. Namun Rachel bersikeras kalau alerginya terjadi akibat gelombang elektromagnet dari WiFi.
"Bagaimana jika aku salah satu orang yang pertama menderita gejala ini karena daya tahan tubuhku yang lemah, tapi siapa yang tahu beberapa ratus tahun kemudian teknologi akan jadi secanggih apa dan berapa banyak orang yang akan lebih banyak menderita karenanya," ujar Rachel, yang merupakan penderita Lupus.
Dia menambahkan, "Aku tidak pernah membayangkan aku akan berada di situasi ini ketika aku punya rumah kecil cantik yang sudah aku sewa selam 17 tahun dan tetangga yang baik, tapi sekarang aku menjadi terlalu sakit untuk tinggal di sana."
Tak hanya WiFi, Rachel juga mengaku tidak bisa berlama-lama di dekat barang-barang elektronik, khususnya yang memancarkan radiasi seperti microwave. Hal yang paling ditakutkan Rachel adalah jika gejala alerginya semakin memburuk dan membuatnya tinggal di sebuah caravan, di tempat yang sangat terpencil.
Rachel pun berharap lebih banyak orang yang mengetahui dan menyadari akan kondisi langka yang dialaminya, dan mungkin orang lain di luar sana. Sehingga jika ada orang lain yang juga mengalami hal yang sama, bisa mendapatkan dukungan atau bantuan dari masyarakat sekitarnya. (hst/hst)
Home & Living
Tidur Jadi Lebih Nyaman! Kasur dari Turu Lana Ini Bikin Tidur Kamu Makin Berkualitas!
Home & Living
Lovise Sofa Anna Tierslice, Sofa Estetik yang Bikin Ruangan Kamu Seperti di Internet!
Health & Beauty
Sering Pegal dan Cepat Capek? Review Swisse Ultiboost Calcium & Vitamin D untuk Kesehatan Tulang
Fashion
Bikin Kamu Tampil Keren dan Tetap Nyaman dengan Pilihan Sepatu Ini
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Mesin Canggih Ini Bisa 'Memandikan' Manusia dalam 15 Menit, Harganya Rp6 M
Bantal Ini Dirancang Khusus untuk Tempat Berteriak, Diklaim Bisa Redakan Stres
Kumpulan Caption Estetik IG Bahasa Inggris yang Keren
Studi: Digital Detox Bikin Otak 10 Tahun Lebih Muda, Begini Caranya
7 Cara Mengatasi Kecanduan Smartphone Demi Kesehatan Mental
Most Popular
1
Gantengnya Park Bo Gum Pakai Hanbok, Cetak Rekor Dilihat 22 Juta Kali
2
Mengenal Lactic Acid, Bahan Skincare AHA yang Aman dan Lebih Ramah Kulit
3
Ramalan Zodiak 4 Januari: Cancer Lebih Selektif, Leo Waspada Pihak Ketiga
4
6 Fakta Ibu Negara Venezuela Cilia Flores yang Ditangkap Presiden Trump
5
Ramalan Zodiak Cinta 4 Januari: Gemini Menggebu-gebu, Libra Jangan Egois
MOST COMMENTED












































Foto: Thinkstock