Riset: Pasutri yang Membagi Tugas Rumah Tangga Memiliki Seks yang Lebih Baik
Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 25 Jun 2016 15:58 WIB
Jakarta
-
Merasa kehidupan seks Anda dengan istri atau suami kurang begitu menggairahkan? Bisa jadi itu karena Anda tidak adil dalam membagi tugas rumah tangga dengan pasangan.
Sebuah studi berjudul "The Gendered Division of Housework and Couples' Sexual Relationships: A Reexamination" mengungkap bagaimana pembagian tugas rumah tangga memengaruhi kepuasan seks pasangan heteroksual.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengobservasi tiga tipe pasangan heteroseksual, yakni pasangan konvensional, egalitarian, dan counterconventional. Disebut pasangan konvensional karena istri yang mengambil alih 65 persen urusan rumah tangga. Pasangan egalitarian memiliki pembagian tugas yang cenderung seimbang dengan porsi 35-65 persen tugas tertuju para pria. Sementara pada counterconventional, peran pria lebih dominan hingga di atas 65 persen.
Terungkap, pasangan egalitarian berhubungan intim rata-rata 6,8 kali per bulan. Frekuensi tersebut 0,5 kali lebih banyak dari pasangan conventional dan dua kali lebih banyak dari pasangan counterconventional.
"Rasa adil dan seimbang adalah kunci dari kepuasan pasangan dalam menjalin hubungan di mana erat kaitannya dengan keintiman seksual," tulis para peneliti seperti dikutip dari Chicago Tribune.
Temuan tersebut bertolak belakang dengan hasil riset pada 1990an yang mengungkap pasangan egalitarian justru tidak puas dengan kehidupan seksualnya.
Membandingkan kedua hasil penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan, konsep 'egaliter' tersebut sudah dipandang sebagai cara hidup yang ideal oleh banyak pasangan masa kini.
Sharon Sassler, salah seorang peneliti, mengatakan, pasangan suami-istri akan memiliki hubungan yang stabil dan berkualitas apabila pembagian tugas rumah tangganya seimbang dan adil. Jika tidak, kepuasan dalam berhubungan intim bisa terancam.
"Ketidaksetaraan sangat berdampak buruk bagi kehidupan seksual pasangan. Sekarang, lebih banyak pria dan wanita yang percaya bahwa tipe hubungan counterconventional dan counterconventional tidaklah adil. Pasangan masa kini mengharapkan kesetaraan yang nyata bukan sebatas omongan saja," katanya.
Itu berarti, lanjut dia, pasangan harus lebih sering berkomunikasi untuk bernegosiasi demi mendapatkan pembagian peran yang lebih seimbang. (dng/asf)
Sebuah studi berjudul "The Gendered Division of Housework and Couples' Sexual Relationships: A Reexamination" mengungkap bagaimana pembagian tugas rumah tangga memengaruhi kepuasan seks pasangan heteroksual.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengobservasi tiga tipe pasangan heteroseksual, yakni pasangan konvensional, egalitarian, dan counterconventional. Disebut pasangan konvensional karena istri yang mengambil alih 65 persen urusan rumah tangga. Pasangan egalitarian memiliki pembagian tugas yang cenderung seimbang dengan porsi 35-65 persen tugas tertuju para pria. Sementara pada counterconventional, peran pria lebih dominan hingga di atas 65 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasa adil dan seimbang adalah kunci dari kepuasan pasangan dalam menjalin hubungan di mana erat kaitannya dengan keintiman seksual," tulis para peneliti seperti dikutip dari Chicago Tribune.
Temuan tersebut bertolak belakang dengan hasil riset pada 1990an yang mengungkap pasangan egalitarian justru tidak puas dengan kehidupan seksualnya.
Membandingkan kedua hasil penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan, konsep 'egaliter' tersebut sudah dipandang sebagai cara hidup yang ideal oleh banyak pasangan masa kini.
Sharon Sassler, salah seorang peneliti, mengatakan, pasangan suami-istri akan memiliki hubungan yang stabil dan berkualitas apabila pembagian tugas rumah tangganya seimbang dan adil. Jika tidak, kepuasan dalam berhubungan intim bisa terancam.
"Ketidaksetaraan sangat berdampak buruk bagi kehidupan seksual pasangan. Sekarang, lebih banyak pria dan wanita yang percaya bahwa tipe hubungan counterconventional dan counterconventional tidaklah adil. Pasangan masa kini mengharapkan kesetaraan yang nyata bukan sebatas omongan saja," katanya.
Itu berarti, lanjut dia, pasangan harus lebih sering berkomunikasi untuk bernegosiasi demi mendapatkan pembagian peran yang lebih seimbang. (dng/asf)
