Hormon Seks Pria Bisa Menurun Setelah Punya Anak
wolipop
Jumat, 21 Okt 2011 08:34 WIB
Jakarta
-
Banyak faktor yang menyebabkan tingkat hormon seks atau testosteron pada pria menurun. Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa tingkat testosteron pria bisa turun ketika ia sudah menjadi seorang ayah.
Para peneliti di Northwestern University menemukan, tak seperti hewan mamalia lainnya, kondisi biologis pada manusia erat kaitannya dengan peran mereka sebagai orangtua. Saat menjadi ayah, tingkat hormon seks pada pria dilaporkan menurun meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan.
"Secara naluriah, pria adalah pemburu dan pencari nafkah sedangkan wanita lebih berperan merawat anak. Saya rasa, studi kami ini jelas menunjukkan bahwa pria juga terpengaruh dengan peran mereka sebagai ayah," jelas Christopher W. Kuzawa, PhD, antropolog di Northwestern University dan penulis penelitian, seperti dilansir WebMD.
Hasil tersebut didapatkan setelah para peneliti menganalisa perkembangan data dari 500 pria muda Filipina selama hampir lima tahun. Studi ini bertujuan mengetahui tingkat kesehatan dan nutrisi, dengan mengukur tingkat testosteron mereka di awal dan setelah studi berakhir.
Saat tahun pertama penelitian, para responden merupakan pria single dan tidak memiliki anak. Namun seiring penelitian berjalan, sepertiga dari mereka menikah dan menjadi ayah untuk pertama kalinya.
Dari hasil analisa, diketahui bahwa saat mereka masih single di awal penelitian, tingkat testosteron mereka cenderung tinggi. Tapi setelah menikah dan punya anak, kadar testosteron mereka lebih rendah. Pria yang telah menikah dan belum punya anak juga menurun testosteronnya, namun tidak sebesar penurunan pada pria yang sudah menjadi orangtua.
Di antara para ayah dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa pria yang terlibat banyak dalam mengurus anak, punya tingkat testosteron lebih rendah dibandingkan ayah yang jarang mengurus anaknya. Para peneliti pun akhirnya menyimpulkan, testosteron memang merupakan hormon yang membantu pria mencari pasangan hidup dan memiliki keturunan. Tapi tingkat testosteron yang tinggi tidak mereka perlukan saat mengurus anak.
"Naluri kebapakan dan keinginan untuk punya bayi membutuhkan banyak faktor, seperti kematangan emosional, psikologis, penyesuain fisik, dan studi kami mengindikasikan bahwa kondisi biologis pria bisa berubah untuk membantu mewujudkan keinginan itu," tambah Lee T. Fettler, antropologis sekaligus ketua penelitian.
(hst/hst)
Para peneliti di Northwestern University menemukan, tak seperti hewan mamalia lainnya, kondisi biologis pada manusia erat kaitannya dengan peran mereka sebagai orangtua. Saat menjadi ayah, tingkat hormon seks pada pria dilaporkan menurun meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan.
"Secara naluriah, pria adalah pemburu dan pencari nafkah sedangkan wanita lebih berperan merawat anak. Saya rasa, studi kami ini jelas menunjukkan bahwa pria juga terpengaruh dengan peran mereka sebagai ayah," jelas Christopher W. Kuzawa, PhD, antropolog di Northwestern University dan penulis penelitian, seperti dilansir WebMD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat tahun pertama penelitian, para responden merupakan pria single dan tidak memiliki anak. Namun seiring penelitian berjalan, sepertiga dari mereka menikah dan menjadi ayah untuk pertama kalinya.
Dari hasil analisa, diketahui bahwa saat mereka masih single di awal penelitian, tingkat testosteron mereka cenderung tinggi. Tapi setelah menikah dan punya anak, kadar testosteron mereka lebih rendah. Pria yang telah menikah dan belum punya anak juga menurun testosteronnya, namun tidak sebesar penurunan pada pria yang sudah menjadi orangtua.
Di antara para ayah dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa pria yang terlibat banyak dalam mengurus anak, punya tingkat testosteron lebih rendah dibandingkan ayah yang jarang mengurus anaknya. Para peneliti pun akhirnya menyimpulkan, testosteron memang merupakan hormon yang membantu pria mencari pasangan hidup dan memiliki keturunan. Tapi tingkat testosteron yang tinggi tidak mereka perlukan saat mengurus anak.
"Naluri kebapakan dan keinginan untuk punya bayi membutuhkan banyak faktor, seperti kematangan emosional, psikologis, penyesuain fisik, dan studi kami mengindikasikan bahwa kondisi biologis pria bisa berubah untuk membantu mewujudkan keinginan itu," tambah Lee T. Fettler, antropologis sekaligus ketua penelitian.
(hst/hst)
Home & Living
3 Kulkas 1 Pintu Harga 1 Jutaan yang Murah dan Tahan Lama!
Home & Living
Tetap Terhidrasi Saat Mudik! 3 Tumbler Praktis Ini Siap Bantu Jaga Kesehatan Saat Perjalanan Jauh
Home & Living
3 Rekomendasi Tempat Sampah Sensor Higienis untuk Rumah Lebih Bersih dan Praktis
Home & Living
Dekorasi Simpel Tapi Bikin Beda! Jam Dinding Lucu Estetik untuk Rumah
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Bukan Malam Hari, Ini Waktu Terbaik untuk Bercinta Menurut Pakar
Survei Ungkap 3 Posisi Bercinta Favorit Milenial, Didominasi Gaya Klasik
6 Seafood yang Bisa Tingkatkan Performa Seks Pria Jika Rutin Dikonsumsi
Studi: Rutin Bercinta 2 Kali Seminggu Kurangi Risiko Sakit Jantung pada Pria
Dokter Ungkap Rahasia Agar PD Saat Bercinta: Rawat Area Intim Ini
Most Popular
1
Pramugari Ungkap Kelakuan Miliuner di Superyacht: Cincin Kawin Hanya Dekorasi
2
Gaya Fuji & Felicya Angelista Kompak Tampil Bak Artis Bollywood Pakai Lehenga
3
Potret Gaya Paula Verhoeven Bercadar Saat Umrah di Bulan Ramadhan
4
Wajah Aktris Cantik Ini Terbaka Gara-gara Tren Tiup Kue Ulang Tahun TikTok
5
4 Tips Pilih Alat Elektronik Supaya Nggak Bikin Tagihan Listrik Bengkak
MOST COMMENTED











































