Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sulit Bergairah? Waspada Menderita Vaginismus

wolipop
Minggu, 25 Sep 2011 14:42 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Untuk Anda yang sulit merasa bergairah meskipun sudah diberikan berbagai stimulasi oleh pasangan, waspada karena kemungkinan Anda menderita vaginismus. Apa itu vaginismus?

Menurut konsultan seks detikhealth Dr. Andri Wanananda MS, vaginismus yaitu spasme otot vagina sepertiga bagian luar dan sekitarnya hingga hubungan seksual sukar dilakukan. Wanita yg mengalami vaginismus tetap dapat menikmati aktivitas seksual. Hanya saja aktivitas seks tersebut hanya sebatas ciuman, pelukan atau rangsangan pada bagian tubuh lain.

"Mungkin juga mereka dapat mencapai orgasme dengan aktivitas seksual tersebut," ujar Dr. Andri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi, saat aktivitas seksual berubah menjadi hubungan seksual (penetrasi penis) atau sentuhan pada kelamin, reaksi vaginismus segera muncul pada wanita yang mengalami kasus ini. Reaksi vaginismus hilang, pasangan dapat mengontrol diri dan tidak melanjutkan dengan penetrasi penis atau sentuhan pada vagina.

Apa yang menyebabkan seorang wanita menderita vaginismus? Berikut ini dua hal penyebab masalah tersebut menurut Dr. Andri:

1. Faktor fisik
Faktor fisik ini yaitu gangguan selaput dara, termasuk sisa selaput dara yang tertarik ketika berhubungan intim, Herpes Genitalis atau infeksi lain yang menimbulkan luka sekitar vagina.

2. Faktor psikis
Adanya pengalaman seksual yang traumatik ketika pertama kali koitus, hubungan seksual yang selalu nyeri karena belum cukup terangsang, rasa takut yang berlebihan terhadap terjadinya kehamilan, rasa takut terkena penyakit kelamin dan latar belakang keluarga yang memandang seks sebagai sesuatu yang kotor, dosa atau memalukan.

Sebelum menyimpulkan sendiri apakah Anda menderita vaginismus atau tidak, sebaiknya berkonsultasilah ke ahlinya. Penderita vaginismus pun jangan takut tidak bisa disembuhkan. Menurut dokter yang juga Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) itu, terapi psikis pada penderita vaginismu sangat berperan ketimbang terapi penyebab fisik.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads