Pendidikan Usia Dini Pengaruhi Emosional Anak
wolipop
Jumat, 24 Jul 2009 17:28 WIB
Jakarta
-
Farel (4 th) adalah balita di sebuah desa di pedalaman Sukabumi, dari luar ia kelihatan ceria bermain jungkat-jangkit dengan teman-temannya. Siapa sangka sebelumnya dia anak yang luar biasa egois, susah diatur, pemarah sampai membuat kewalahan orang tuanya. Atas saran tetangganya yang aktif di Posyandu, Farel dibawa ibunya untuk belajar di Taman Posyandu yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Betul saja, setelah 3 bulan dia ikut PAUD, tampak Farel mulai berubah. Hal ini diakui ibunya. “Waduh dulunya Farel itu pemarah, nakal, sangat hiperaktif, dan gak mau berbagi dengan temen-temennya. Tapi setelah dia bersosialisasi di sini…kelihatan sekali perubahannya.” Kata gurunya.
Lain Farel lain pula Jusuf. Walaupun orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, tapi Jusuf penuh semangat setiap pagi belajar di Taman Posyandu. Ibunya terutama, ingin anaknya kelak bisa lebih maju. Jusuf memang lebih pintar dibanding kakaknya yang sebelumnya tidak pernah ikut PAUD. “Jusuf…udah bisa menghitung sampai seratus. Udah bisa menggambar. Mewarnai. Dia lebih pinter dari kakaknya,” kata ibunya dengan bangga.
Belum banyak orang tua yang tahu bahwa usia enam tahun pertama (0-6 th) adalah periode paling sensitif. Periode ini menjadi fondasi tumbuh dan kembang anak. Karena pada saat ini, anak belajar lebih cepat dibandingkan dengan periode lainnya. Perkembangan di usia ini akan lebih cepat jika mereka mendapat kasih sayang, afeksi, perhatian, dorongan dan stimulasi mental sejak dini.
Mungkin stimulasi pada anak bisa saja dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Tapi banyak ahli psikologi perkembangan anak menilai stimulasi dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Karena anak justru amat membutuhkan lingkungan yang dibutuhkan seiring bertambahnya usia seorang balita.
Untuk itu, anak wajib mengikuti pendidikan anak untuk usia dini. Dengan anak mengikuti PAUD, mereka diajarkan bermain kreatif untuk menunjang pertumbuhan aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Karena sebenarnya 40% kemampuan intelektual seseorang dibentuk pada 3 tahun pertama hidupnya dan separuhnya dibentuk sebelum lahir (80% pertumbuhan otak). Dan stimulasi awal pada anak dapat meningkatkan IQ sebesar 10 poin dan mengurangi angka putus sekolah.
.
Sebegitu pentingnya pendidikan anak untuk usia dini ini namun sayangnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan bagi anak usai dini (0-6 th) masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu.
Sosialisasi pendidikan anak usia dini diakui belum menyentuh secara merata pada lapisan masyarakat terbawah di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota.
UNICEF
(kee/kee)
Betul saja, setelah 3 bulan dia ikut PAUD, tampak Farel mulai berubah. Hal ini diakui ibunya. “Waduh dulunya Farel itu pemarah, nakal, sangat hiperaktif, dan gak mau berbagi dengan temen-temennya. Tapi setelah dia bersosialisasi di sini…kelihatan sekali perubahannya.” Kata gurunya.
Lain Farel lain pula Jusuf. Walaupun orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, tapi Jusuf penuh semangat setiap pagi belajar di Taman Posyandu. Ibunya terutama, ingin anaknya kelak bisa lebih maju. Jusuf memang lebih pintar dibanding kakaknya yang sebelumnya tidak pernah ikut PAUD. “Jusuf…udah bisa menghitung sampai seratus. Udah bisa menggambar. Mewarnai. Dia lebih pinter dari kakaknya,” kata ibunya dengan bangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin stimulasi pada anak bisa saja dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Tapi banyak ahli psikologi perkembangan anak menilai stimulasi dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Karena anak justru amat membutuhkan lingkungan yang dibutuhkan seiring bertambahnya usia seorang balita.
Untuk itu, anak wajib mengikuti pendidikan anak untuk usia dini. Dengan anak mengikuti PAUD, mereka diajarkan bermain kreatif untuk menunjang pertumbuhan aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Karena sebenarnya 40% kemampuan intelektual seseorang dibentuk pada 3 tahun pertama hidupnya dan separuhnya dibentuk sebelum lahir (80% pertumbuhan otak). Dan stimulasi awal pada anak dapat meningkatkan IQ sebesar 10 poin dan mengurangi angka putus sekolah.
.
Sebegitu pentingnya pendidikan anak untuk usia dini ini namun sayangnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan bagi anak usai dini (0-6 th) masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu.
Sosialisasi pendidikan anak usia dini diakui belum menyentuh secara merata pada lapisan masyarakat terbawah di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota.
UNICEF
(kee/kee)
Kesehatan
Minuman Ungu yang Bermanfaat! Review Lengkap BITOVIN Cuka Buah Bit untuk Jantung & Penambah Darah
Perawatan dan Kecantikan
Cuma Pakai Alat Ini, Bulu Mata Bisa Terlihat Lebih Panjang dan Terangkat
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Kulit Glowing dari Toner Beras! Dua Produk Ini Lagi Banyak Dicari
Perawatan dan Kecantikan
Bulu Mata Badai untuk Bukber! 3 Fake Lashes Ini Bikin Tatapan Auto On Point
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Bukan Malam Hari, Ini Waktu Terbaik untuk Bercinta Menurut Pakar
Survei Ungkap 3 Posisi Bercinta Favorit Milenial, Didominasi Gaya Klasik
6 Seafood yang Bisa Tingkatkan Performa Seks Pria Jika Rutin Dikonsumsi
Studi: Rutin Bercinta 2 Kali Seminggu Kurangi Risiko Sakit Jantung pada Pria
Dokter Ungkap Rahasia Agar PD Saat Bercinta: Rawat Area Intim Ini
Most Popular
1
Siapa Putri Khamenei yang Ikut Tewas dalam Serangan AS-Israel ke Iran?
2
Selebriti di Dubai Panik Usai Serangan Rudal Iran, 'Malam Terburuk dalam Hidup'
3
Pesona Guo Yuxin, Aktris China yang Terkenal Karena Drama Vertikal
4
Kenapa Puasa Bikin Cepat Lemas? Ini Kesalahan Makan yang Sering Dilakukan
5
Ramalan Zodiak Cinta 2 Maret: Taurus Perkuat Komunikasi, Leo Asmara Menggelora
MOST COMMENTED











































