Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Suami Sering Berbohong Soal Keuangan, Bagaimana Istri Harus Bersikap?

wolipop
Jumat, 27 Feb 2015 14:47 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Saya berumur 26 tahun dan suami saya berumur 27 tahun. Kami sudah menikah selama tiga tahun. Sebelum menikah kami menjalani masa pacaran selama satu tahun. Sebelum menikah saya adalah seorang single parent dengan dua anak.

Keraguan memang sudah saya rasakan di masa pacaran. Saya merasakan kejanggalan karena saat saya meminta diperkenalkan dengan keluarganya, dia selalu beralasan keluarganya di kampung. Sampai saat keluarga saya menanyakan keseriusan dia untuk menikahi saya, keluarga saya meminta dipertemukan dengan keluarganya, tetapi lagi-lagi dia selalu mengelak dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya keluarga saya menggertak, barulah dia mencoba menghubungi keluarganya. Ternyata setelah bertemu keluarganya, baru ketahuan kalau suami saya sudah berbulan-bulan tidak pulang kerumah orangtuanya pada saat itu.

Akhirnya kami menikah. Setelah tiga bulan menikah saya mengandung anaknya. Pada saat mengandung empat bulan, suami saya menyatakan bahwa dia sudah keluar dari tempatnya bekerja sejak awal kehamilan saya, mendengar itu rasanya saya sedih sekali karena pada saat itu saya sedang mengandung, akan tetapi saya mencoba terima keadaan. Alhamdulilah saya diterima bekerja di sebuah perusahaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sejak bekerja saya selalu mendapat perlakuan kasar dari suami. Saya masih mencoba bertahan demi anak yang sedang saya kandung. Tapi masalah terus bermunculan ketika ada seorang penagih hutang menelpon ke HP saya. Betapa kagetnya saya ketika penagih hutang tersebut menyebutkan bahwa suami telah melimpahkan masalah pembayaran hutangnya kepada saya. Dari sanalah kebohongan-kebohongan suami saya mulai terbongkar, ternyata suami saya adalah pembohong besar. Merasa lelah dengan sikapnya yang acap kali berbohong dan selalu dikasari, keinginan untuk berpisah semakin kuat ketika saya mendapat dukungan dari keluarga, karena jujur keluarga saya juga sudah capek selalu dibohongi oleh suami saya.

Di saat saya menimbang-nimbang keputusan untuk berpisah, saya bertemu dengan seseorang di masa lalu saya, dan jujur sebelum dan selama pernikahan dengan suami saya, saya masih memiliki perasaan kepada orang ini, dan suatu kali saya berdoa untuk dipertemukan lagi dengannya. Dan ternyata doa saya terkabul. Dengan tidak sengaja saya bertemu dengannya di saat perjalanan menuju kantor saya. Perasaan bahagia selalu menyelimuti saya semenjak pertemuan dengannya, karena sejak awal saya mengenal dia, dialah yang selalu memberi semangat untuk saya menjalani kehidupan saya.

Hubungan pertemanan itu disalah artikan oleh suami saya sebagai perselingkuhan. Kabar itu pun terdengar sampai ke mertua saya. Suami saya tega menjelek-jelekan saya di depan mertua saya dan keluarganya. Sekarang saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengahadapi suami saya, yang tak pernah berubah meskipun sudah saya kasih kesempatan berkali-kali. Saat ini saya juga sudah mulai menjauhi teman lama saya, tapi entah kenapa hati saya berasa terlalu sakit dengan keputusan saya ini. Mohon sarannya ya Mba Ratih.

Kalista, 26 Tahun

Jawab:

Dear Kalista,

Setiap rumah tangga memiliki masalah dan konflik yang berbeda-beda. Berdasarkan cerita yang kamu kemukakan, saat ini kamu mengalami masalah finansial (suami tidak bekerja dan berhutang), suami yang tidak jujur, dan kekerasan atau perlakuan kasar dari suami. Apabila memungkinkan, ajaklah suamimu untuk mendiskusikan masalah-masalah ini yang menimbulkan konflik dalam rumah tanggamu.

Utarakan masalah-masalah yang kamu alami tersebut, berikan kesempatan juga pada suami untuk mengemukakan permasalahannya. Kemudian renungkan dan kemukakan perubahan apa yang kalian berdua inginkan dalam hubungan kalian berdua, membina rumah tangga.

Renungkan usaha apa saja yang telah kamu dan suami lakukan selama ini untuk membangun hubungan yang lebih baik. Pilah mana usaha yang berhasil dan mana yang tidak. Fokus pada mencari solusi bagaimana kalian berdua dapat menghasilkan perubahan tersebut. Ungkapkan seluruh pikiran dan perasaanmu atas konflik yang terjadi dengan kepala dingin serta dengarkan pikiran dan perasaan suamimu. Dengan saling terbuka satu sama lainnya, diharapkan kamu dan suamimu dapat menemukan solusi bersama atas permasalahan yang terjadi.

Upayakan agar diskusi untuk menyelesaikan masalah ini benar-benar merupakan diskusi kalian berdua sebagai pasangan yang membina hubungan rumah tangga dengan penuh tanggungjawab. Dengan demikian, keluarga besar dapat menghargai solusi tersebut. Solusi yang dicapai sangat fleksibel sesuai dengan pertimbangan kalian berdua. Kalian dapat memutuskan untuk tetap bersama dengan menyepakati beberapa perubahan dalam perilaku masing-masing. Kalian juga dapat memutuskan untuk berpisah karena tidak ada titik temu dan tidak ada usaha untuk masing-masing berubah, atau tidak ada perubahan dari salah satu pihak.

Namun yang paling terpenting juga adalah bahwa keputusan untuk melanjutkan hubungan dengan suamimu merupakan pilihan hidup kamu dan pertimbangkanlah keputusan tersebut baik-baik, sehingga kamu tidak menyesal nantinya. Jika diperlukan, kamu dan suamimu dapat mengunjungi tenaga profesional, seperti psikolog atau konselor pernikahan untuk mendapatkan pandangan dan solusi yang obyektif mengenai masalah kalian. Mengenai hubungan kamu dengan teman lama kamu, saran saya selesaikanlah terlebih dahulu permasalahan yang kamu alami dengan suami baru, ambil keputusan. Setelah itu baru kemudian berpikir dengan lebih jernih, memutuskan apa yang harus kamu lakukan dalam menyikapi hubungan pertemanan kamu dengan teman lama kamu tersebut. Semoga dapat membantu. Salam hangat Kalista.



(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads