Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Menghadapi Dilema untuk Tinggalkan Suami yang Lakukan KDRT

wolipop
Rabu, 24 Des 2014 08:16 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Mbak Ratih, usia saya 29 tahun, suami juga 29 tahun dan pernikahan kamai sudah empat tahun, dengan dua orang anak. Baru-baru ini kami ada masalah yang rumit. Suami yang temperamental telah membuat saya mengalami KDRT. Sebelumnya saya ditampar, dijambak sudah biasa, tapi kemarin itu yang benar-benar keterlaluan. Saya ditinju di bagian kepala dan diancam dibunuh. Setelah itu saya lapor polisi dan disinilah malapetaka berlanjut.

Suami tidak terima, begitu juga keluarga besar dia terutama ibunya. Setelah peristiwa itu dia pergi dari rumah. Sebulan tidak ada kabar, saya kecelakaan dia nggak datang, anaknya sakit dia nggak datang, sakit hati saya mbak. Akhirnya setelah difasilitasi teman dia mau menemui saya, mau damai, tapi nggak mau cerai dan yang buat saya tidak habis pikir dia menganggap orangtua saya terlalu ikut campur dalam masalah kami. Bayangkan mbak jelas-jelas dia yang salah tapi dia balik nyalahin orangtua saya. Begitu juga mertua yang tidak terima karena anaknya dilaporkan polisi. Mereka minta masalah ini diselesaikan dengan kekeluargaan. Dasar saya melapor karena mertua tidak pernah membela saya yang sudah sering dikasarin.

Sampai hari ini suami nggak pulang atau tinggal di rumah. Dia datang subuh pulang juga subuh, saya seperti simpanan saja. Prioritas uang juga lari ke ibunya bukan ke kami lagi. Saya mesti gimana? Saya stres hampir bunuh diri, dunia saya hancur, pilihan hidup saya ternyata seperti ini. Syaratnya dia juga kalau kami masih mau sama-sama adalah: tidak boleh komunikasi sama orangtua, pindah ke rumah kontrakan, sangat berat saya meninggalkan rumah. Alasan dia karena istri harus nurut apa kata suami. Apa saya harus pisah atau bertahan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jessica, 29 Tahun

Jawab:
 
Dear Jessica,

Berdasarkan cerita kamu, suami bukanlah orang yang baik, karena tidak bersikap respect terhadap kamu dan menyakiti kamu baik secara fisik maupun psikologis dengan melakukan kekerasan fisik dan berusaha mengisolasi, mengkungkung, memisahkan kamu dari keluarga. Sikap dan perilakunya ini benar merupakan bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan berdampak tidak baik terhadap kondisi psikologis diri kamu dan juga anak.

Melaporkan pada polisi karena perilaku suami yang mengancam keselamatan diri kamu dan dapat berimbas pada keselamatan anak merupakan tindakan yang tepat. Bila kondisi pernikahan demikian dipertahankan, maka saya tidak melihat adanya masa depan pernikahan yang cerah termasuk juga untuk masa depan diri kamu dan anak. Kecuali suami sadar bahwa perilakunya salah dan bersedia untuk melakukan konseling-terapi, penanganan psikologis dengan psikolog secara rutin maka mungkin masih ada harapan. Salam hangat Jessica.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads