Menghadapi Kekasih yang Anak Mama dan Mudah Emosi
Ratih Ibrahim - wolipop
Jumat, 20 Des 2013 18:15 WIB
Jakarta
-
Dear Mba Ratih, saat ini saya sedang galau menghadapi 'cinta segitiga' antara saya, pacarku, dan mamanya pacarku. Saya pacaran sudah sejak SMA (8 tahun lalu). Namun memang sempat putus selama enam tahun sebelum kami balikan lagi dan akhirnya pun dikenalkan kepada orangtua. Agustus kemarin kami ditunangkan oleh orangtuanya. Pacarku ini posisinya di Amerika, jadi kami itu LDR. Hubungan LDR kami setelah tunangan malah jauh lebih buruk daripada sebelum dia pulang Agustus kemarin.
Pacarku ini orangnya emosian. Tipe anak mami yang mau menang sendiri, nggak mau kalah dan disalahkan. Kalau berantem nggak mau mengalah, terus suka ngambek dan larang-larang. Jadi saya di sini yang harus mengalah, terus rayu-rayu dan bujuk-bujuk dia kayak sama anak kecil. Ditambah lagi dengan mamanya. Orangnya sangat protektif dan nggak tahu kenapa saya merasa dia itu ingin memisahkan saya dengan anaknya. Minggu kemarin dia bertanya pada saya, apakah saya bersedia dinikahkan dengan anaknya lalu pergi ke Amerika bersamanya? Tetapi hari ini dia berubah pikiran dan dia meminta saya untuk menikah dengan anaknya kemudian anaknya ke Amerika dan saya di sini sendiri. Saya benar-benar nggak mengerti pola pikir mamanya, Mbak.
Bisakah mbak memberikan saran kepada saya? Mamanya pacarku ini sangat ketergantungan sama pacar saya sampai memperlakukan saya seperti saingan. Dia seperti seorang "pacar yang cemburuan". Saya tidak boleh nge-date berdua saja dengan pacar saya, bahkan untuk berbicara berduaan saja tidak boleh. Mbak, saya sudah amat sangat nggak tahu harus bagaimana lagi. Saya mohon kiranya Mbak bisa kasih saya saran. Karena saya sayang sama pacar saya dan tidak mau sampai putus, tapi rasanya kenapa berat sekali ya?
(Nyo, 23 Tahun)
Jawab:
Dear Nyo,
Saya melihat hubungan kamu dengan pacar masih kurang kuat yah? Bagaimana dengan komunikasi kalian berdua, sudah cukup intens kah atau masih kurang? Kalau komunikasi dan kehangatan di antara kalian berdua masih kurang sebaiknya ditingkatkan. Meskipun LDR sekarang ini sudah cukup banyak fasilitas yah, seperti dengan skype, tweet, dan sebagainya. Karena sebenarnya yang pertama-tama harus dikuatkan adalah hubungan di antara kalian berdua dulu. Harus ada kata kesepakatan apalagi bila hendak menikah di usia kalian yang masih tergolong muda.
Coba diskusikan bersama dengan pacar mengenai kamu ikut pergi ke Amerika atau tidak. Pertimbangkan pendapat dan keinginan pacar sementara juga kamu mengemukakan pendapat dan keinginan kamu kepada pacar. Kemudian kamu juga dapat menanyakan secara asertif kepada calon mertua alasan mengapa ia meminta kamu tetap di Jakarta sementara anaknya pergi ke Amerika. Dengan demikian kamu tidak lagi menduga-duga mengapa calon mertua bersikap demikian, bukan tidak mungkin calon mertua memiliki pertimbangan yang baik, masuk akal, dan dapat ditoleransi. Setelah itu diskusikan kembali dengan pacar dan buatlah kesepakatan kalian bersama.
Nyo, sebelum melangkah lebih jauh ke pernikahan kamu juga sebaiknya mempertimbangkan masak-masak mengenai sikap pasangan yang emosian, mau menang sendiri, kurang pengertian, dan tidak mau disalahkan. Tanyakan baik-baik pada diri sendiri, apakah kamu siap menghadapi sikap pacar yang demikian setiap hari mungkin sepanjang sisa hidup kamu bila kamu menikah dengannya. Karena berarti kamu harus ekstra sabar dan tegar. Saya berharap kamu dapat menemukan jawaban, mengambil langkah dan keputusan yang tepat Nyo. Semoga sukses.
(eny/eny)
Pacarku ini orangnya emosian. Tipe anak mami yang mau menang sendiri, nggak mau kalah dan disalahkan. Kalau berantem nggak mau mengalah, terus suka ngambek dan larang-larang. Jadi saya di sini yang harus mengalah, terus rayu-rayu dan bujuk-bujuk dia kayak sama anak kecil. Ditambah lagi dengan mamanya. Orangnya sangat protektif dan nggak tahu kenapa saya merasa dia itu ingin memisahkan saya dengan anaknya. Minggu kemarin dia bertanya pada saya, apakah saya bersedia dinikahkan dengan anaknya lalu pergi ke Amerika bersamanya? Tetapi hari ini dia berubah pikiran dan dia meminta saya untuk menikah dengan anaknya kemudian anaknya ke Amerika dan saya di sini sendiri. Saya benar-benar nggak mengerti pola pikir mamanya, Mbak.
Bisakah mbak memberikan saran kepada saya? Mamanya pacarku ini sangat ketergantungan sama pacar saya sampai memperlakukan saya seperti saingan. Dia seperti seorang "pacar yang cemburuan". Saya tidak boleh nge-date berdua saja dengan pacar saya, bahkan untuk berbicara berduaan saja tidak boleh. Mbak, saya sudah amat sangat nggak tahu harus bagaimana lagi. Saya mohon kiranya Mbak bisa kasih saya saran. Karena saya sayang sama pacar saya dan tidak mau sampai putus, tapi rasanya kenapa berat sekali ya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawab:
Dear Nyo,
Saya melihat hubungan kamu dengan pacar masih kurang kuat yah? Bagaimana dengan komunikasi kalian berdua, sudah cukup intens kah atau masih kurang? Kalau komunikasi dan kehangatan di antara kalian berdua masih kurang sebaiknya ditingkatkan. Meskipun LDR sekarang ini sudah cukup banyak fasilitas yah, seperti dengan skype, tweet, dan sebagainya. Karena sebenarnya yang pertama-tama harus dikuatkan adalah hubungan di antara kalian berdua dulu. Harus ada kata kesepakatan apalagi bila hendak menikah di usia kalian yang masih tergolong muda.
Coba diskusikan bersama dengan pacar mengenai kamu ikut pergi ke Amerika atau tidak. Pertimbangkan pendapat dan keinginan pacar sementara juga kamu mengemukakan pendapat dan keinginan kamu kepada pacar. Kemudian kamu juga dapat menanyakan secara asertif kepada calon mertua alasan mengapa ia meminta kamu tetap di Jakarta sementara anaknya pergi ke Amerika. Dengan demikian kamu tidak lagi menduga-duga mengapa calon mertua bersikap demikian, bukan tidak mungkin calon mertua memiliki pertimbangan yang baik, masuk akal, dan dapat ditoleransi. Setelah itu diskusikan kembali dengan pacar dan buatlah kesepakatan kalian bersama.
Nyo, sebelum melangkah lebih jauh ke pernikahan kamu juga sebaiknya mempertimbangkan masak-masak mengenai sikap pasangan yang emosian, mau menang sendiri, kurang pengertian, dan tidak mau disalahkan. Tanyakan baik-baik pada diri sendiri, apakah kamu siap menghadapi sikap pacar yang demikian setiap hari mungkin sepanjang sisa hidup kamu bila kamu menikah dengannya. Karena berarti kamu harus ekstra sabar dan tegar. Saya berharap kamu dapat menemukan jawaban, mengambil langkah dan keputusan yang tepat Nyo. Semoga sukses.
(eny/eny)











































