Berawal Dari Tato Alis, Wanita Ini Berakhir Alami Penyakit Serius
Tren sulam atau tato alis memang makin populer karena dianggap praktis dan bikin penampilan bisa jadi lebih cantik dan menarik tanpa perlu makeup setiap hari. Tapi di balik itu, ada risiko kesehatan yang jarang disadari.
Melansir New York Post, seorang wanita berusia 46 tahun dilaporkan mengalami masalah serius sekitar 15 bulan setelah melakukan tato alis. Awalnya, muncul bercak keunguan di area alis. Namun, lama-kelamaan bercak tersebut menyebar ke bagian tubuh lain yang tidak ditato, seperti siku dan punggung atas.
Dampak tato alis Foto: via New York Post |
Setelah diperiksa lebih lanjut, dokter menemukan adanya granuloma, yaitu kumpulan sel darah putih yang menandakan peradangan. Kondisi ini mengarah pada penyakit yang disebut sarcoidosis, yaitu gangguan peradangan yang bisa menyerang berbagai organ tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarcoidosis sendiri adalah penyakit yang biasanya menyerang paru-paru dan kelenjar getah bening. Namun, sekitar 25% kasus juga bisa muncul di kulit. Dalam kondisi tertentu, penyakit tersebut bahkan dapat memengaruhi sendi, sistem saraf, hingga jantung.
Penyebab pastinya sendiri belum diketahui. Namun, banyak ahli percaya bahwa kondisi tersebut dipicu oleh reaksi sistem imun terhadap benda asing, salah satunya tinta tato.
Saat tinta tato dimasukkan ke dalam kulit, tubuh akan menganggapnya sebagai benda asing. Sistem imun pun bekerja untuk melawannya. Sebagian partikel tinta yang tidak bisa dihancurkan akan tetap berada di kulit dan membentuk tato permanen.
Masalahnya, tinta tato terkadang mengandung logam berat seperti nikel, kromium, kobalt, dan timbal. Dalam jumlah tertentu, zat itu bisa memicu alergi atau reaksi imun berlebihan pada beberapa orang.
Reaksi semacam itu bukan yang pertama. Pada tahun 2011, pernah dilaporkan kasus serupa di Swiss, di mana 12 orang mengalami sarcoidosis setelah ditato oleh seniman yang sama.
Awalnya, wanita tersebut hanya diberi obat oles, namun tidak menunjukkan hasil signifikan. Dokter kemudian memberikan terapi kortikosteroid bernama prednisolone.
Hasilnya cukup cepat. Dalam waktu satu minggu, kondisi kulitnya mulai membaik. Dosis obat kemudian dikurangi secara bertahap hingga gejala benar-benar hilang.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa reaksi dari tato tidak selalu hanya terjadi di kulit, tapi bisa menyebar ke organ dalam. Karena itu, jika muncul gejala aneh setelah tato, sebaiknya segera periksa ke dokter.
(vio/vio)











































