Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Krim Racikan Bikin Jerawat Parah Saat Dihentikan, Dokter Ungkap Penyebabnya

Kiki Oktaviani - wolipop
Selasa, 15 Sep 2026 05:30 WIB
...
Forehead of a teenage boy with pimples
Foto: Getty Images/pepifoto
Jakarta -

Penggunaan krim racikan yang diberikan dokter kecantikan dalam waktu lama tanpa evaluasi berkala bisa menimbulkan masalah baru pada kulit. Salah satu kondisi yang kerap dikeluhkan adalah munculnya jerawat, kemerahan hingga rasa gatal setelah pemakaian krim dihentikan.

Dokter Spesialis Dermatologi, dr. Danar Wicaksono, M.Sc., Sp.D.V.E., mengatakan kondisi tersebut patut dicurigai terutama jika seseorang sudah menggunakan krim yang sama selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, tanpa adanya perubahan formula maupun evaluasi kondisi kulit. Menurutnya, situasi semakin perlu diperhatikan jika setelah krim dihentikan justru muncul banyak jerawat yang disertai rasa gatal.

"Kalau krimnya sudah dipakainya setahun lebih, itu nggak ada perubahan, padahal krim yang diberikan itu sama. Dan pada saat dihentikan, muncul jerawat banyak, gatal, maka harus dicurigai," ujar Danar di acara BNI Beyoutiful Symphony Festival 2026 di Senayan City, Jakarta, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, kondisi tersebut patut dicurigai jika krim yang digunakan mengandung bahan tertentu, termasuk kortikosteroid, terlebih apabila digunakan dalam jangka panjang tanpa pengawasan yang tepat.
Kortikosteroid memang memiliki efek antiinflamasi dan bekerja dengan menekan respons sistem imun. Pada kulit, penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai perubahan, termasuk gangguan pada skin barrier.

"Krim-krim kortikosteroid itu dia ada efek 'anti', sifatnya menurunkan sistem imun. Jadi sistem imun di kulit itu di-suppress, ditekan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Danar, efek tersebut dapat membuat kondisi kulit berubah. Ketika penggunaan dihentikan, masalah yang sebelumnya tertahan dapat muncul kembali dan membuat kulit terlihat jauh lebih bermasalah.

"Itu yang menyebabkan jerawatnya jadi susah dikontrol sama ada ciri khasnya gatal," lanjut Danar.

Danar juga meluruskan anggapan yang masih banyak dipercaya bahwa munculnya jerawat setelah menggunakan skincare merupakan tanda bahwa skincare tersebut sedang "bekerja". Fase tersebut seringkali disebut sebagai purging.

Menurutnya, dalam pengobatan jerawat, keberhasilan justru dilihat dari berkurangnya jerawat secara signifikan, bukan dari kondisi jerawat yang semakin parah.

"Kalau misalnya kita mengobati acne, itu yang kita nilai adalah pengurangan dari lesinya secara signifikan. Tapi kalau misalnya ada efek samping seperti merah sedikit, perih, itu masih normal. Tapi kalau misalnya pakai obat jerawat, jerawatnya tambah parah, itu jelas nggak benar," kata dr. Danar yang berprakter di klinik Beyoutiful.

dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yang dikenal sebagai dokter Tompi menambahkan, kondisi tertentu memang dapat menimbulkan perubahan pada kulit setelah suatu bahan dihentikan. Salah satunya adalah penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang.

"Pada efek kortikosteroid jangka panjang, tiba-tiba kita stop, itu bisa terjadi. Karena sudah ada kerusakan skin barrier, sudah ada penipisan, dan lain-lain. Lebih susah lagi benerinnya," ujarnya.

Penggunaan krim racikan sendiri bukan berarti selalu berbahaya. Namun, kondisi kulit sebaiknya dievaluasi secara berkala agar dokter dapat menentukan apakah formula yang digunakan masih sesuai dengan kebutuhan pasien atau perlu dihentikan maupun diubah.

(kik/kik)
...
Hide Ads