Mau Cantik Berujung Tragis, Wanita Tewas Saat Oplas, 2 Lainnya Cedera Berat

Hestianingsih - wolipop Selasa, 27 Apr 2021 10:31 WIB
Close-up Of A Surgeon Drawing Perforation Lines On Young Womans Face For Plastic Surgery Ilustrasi operasi plastik. Foto: iStock
Tijuana -

Seorang wanita meninggal dunia dan dua lainnya dilarikan ke rumah sakit setelah menjalani operasi plastik di sebuah klinik di Meksiko. Ketiganya ditangani oleh dokter yang sama.

Peristiwa terjadi pada 29 Januari 2021, namun baru diselidiki belum lama ini. Kala itu di hari yang sama, tiga wanita melakukan prosedur kecantikan di Art Siluette Aesthetic Surgery, Tijuana, Meksiko. Semua prosedur dilakukan oleh satu dokter bernama Dr. Jesús Manuel Báez López.

Seperti dilansir People, salah satu pasien yang meninggal dunia adalah wanita asal Long Beach, California, bernama Keuana Weaver. Ibu dua anak berusia 38 tahun ini tewas di meja operasi saat prosedur berlangsung.

Dokumen kesehatan yang dibeberkan oleh ibu Keuana, Renee, menyatakan bahwa anaknya meninggal karena secondary hypoxic encephalopathy. Sebuah kondisi cedera otak akibat kekurangan oksigen.

Wanita lainnya yang jadi korban dugaan malpraktik adalah Kanisha Davis yang tidak lain merupakan sahabat dari Keuana. Pada hari itu di tanggal 29 Januari, keduanya dijadwalkan menjalani liposuction atau sedot lemak dan tummy tuck.

Saat operasi berlangsung, Kanisha memang sudah curiga ada yang tidak beres dengan prosedur yang dilakukan sang dokter. Biasanya saat operasi liposuction dan tummy tuck tersedia layar monitor untuk melihat jalannya operasi di bagian dalam. Namun ia tidak melihat ada satu pun kamera mikro maupun monitor yang terpasang pada tubuhnya.

Selain itu, Kanisha juga langsung diperbolehkan keluar dari klinik. Padahal tummy tuck merupakan jenis operasi berat dan perlu pemulihan beberapa hari setelah operasi.

"Sebagai seorang perawat, saya tahu ada sesuatu yang tidak beres," tuturnya.

Benar saja, setelah operasi Kanisha baru tahu kalau temannya, Keuana, telah meninggal dunia. Ia pun langsung kembali ke California dan saat itulah sesuatu yang mengancam nyawa terjadi padanya.

Kanisha mengalami pendarahan dan muntah terus-menerus. Ia lalu datang ke unit gawat darurat dan harus diopname selama dua minggu. Hasil diagnosa dokter menunjukkan kalau dirinya mengalami hemorrhage atau pendarahan organ dalam.

"Kalau saya tidak segera ke rumah sakit mungkin saya sudah meninggal. Apakah kami tahu risikonya operasi plastik di Meksiko? Ya. Tapi apakah kami mengira kalau risikonya adalah kematian? Tidak," ujar Kanisha.

Sementara itu wanita ketiga yang juga menjalani operasi plastik di klinik dan hari yang sama bernama Esmeralda Iniguez. Dia mengungkap harus dilarikan ke rumah sakit satu hari setelah kematian Keuana.

Esmeralda hampir saja kehilangan nyawa karena syok septik, yakni Infeksi parah yang menyebabkan kegagalan organ dan tekanan darah sangat rendah. Sejak saat itu Esmeralda menderita gagal ginjal.

"Saya mengalami infeksi parah saat datang ke UGD di Chula Vista pada 3 Februari, dan benar-benar hanya hitungan jam dari kematian. Ginjal saya rusak," tuturnya kepada suratkabar lokal.

Kematian Keuana dan dua kasus lainnya saat ini sedang dalam proses investigasi. Pihak klinik dan dokter Jesús Manuel Báez López pun menolak memberikan pernyataan apapun.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengungkapkan bahwa biaya operasi plastik di Meksiko memang jauh lebih murah ketimbang Amerika Serikat. Namun CDC memperingatkan ada risiko tinggi ketika menjalani prosedur di sana. Kebanyakan dokter yang melakukan operasi plastik tidak mengantongi sertifikasi dan bukan merupakan anggota asosiasi dokter bedah plastik resmi.

(hst/hst)