Sejarah Kelam di Balik Operasi Kelopak Mata yang Populer di Korea

Hestianingsih - wolipop Kamis, 16 Mei 2019 11:40 WIB
Ilustrasi wanita operasi plastik. Foto: Thinkstock Ilustrasi wanita operasi plastik. Foto: Thinkstock

Jakarta - Operasi lipatan kelopak mata atau blepharoplasty semakin diminati setiap tahunnya, khususnya di kawasan Asia. Pada 2016, sebuah riset dari HSBC melaporkan prosedur yang juga dikenal dengan sebutan double-eyelid surgery ini menunjukkan permintaan pasar yang makin meningkat.

Pun begitu, blepharoplasty memiliki dua sisi mata uang. Meskipun banyak orang Asia, khususnya di kawasan Asia Timur yang melakukan operasi kelopak mata, tak sedikit pula yang masih menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu.

Korea Selatan termasuk salah satu negara dengan pasien blepharoplasty terbanyak. Peminat operasi kelopak mata umumnya datang dari kalangan selebriti, misalnya aktor, aktris dan idol K-pop. Mengikuti idolanya, kini banyak pula remaja yang melakukan prosedur serupa demi terlihat cantik.


Asal muasal tren operasi lipatan kelopak mata ternyata sudah terjadi puluhan tahun lalu. Seperti dikutip dari Next Shark, banyak yang meyakini kalau blepharoplasty sudah diperkenalkan sejak abad 19 di Jepang.
Sejarah Kelam di Balik Operasi Kelopak Mata yang Populer di KoreaSelebriti Korea Selatan operasi lipatan kelopak mata. Foto: Istimewa

Namun baru pada 1950-an, blepharoplasty menjadi populer di Asia. Seorang cendekiawan Taeyon Kim mengatakan, fenomena maraknya wanita operasi kelopak mata terjadi saat Perang Korea (perang antara Korea Utara dan Korea Selatan) pada 1950 - 1953.

Diceritakan bahwa seorang dokter bedah plastik militer Amerika, Dr. D. Ralph Millard, mengembangkan dan mempraktikkan prosedur ini saat ia menetap di Korea Selatan. Ia merupakan bagian dari kampanye yang mencoba mendoktrin bagaimana seharusnya tampilan 'wajah orang yang baik hati dan ramah' ala orang Amerika kepada rakyat Korea.

Menurut Taeyon, sejarah menyebut orang-orang Korea pertama yang melakukan operasi kelopak mata adalah para mempelai wanita yang menikahi tentara Amerika. Pada zaman itu, memiliki mata tanpa lipatan --secara medis disebut superior palpebral fold-- dijuluki melenceng dan merupakan sebuah penyimpangan.

"Operasi untuk mengubah mata yang 'melenceng' menjadi sebuah tanda sebagai orang Asia yang baik dan dapat dipercaya, orang yang wajahnya dimodifikasi menunjukkan ilustrasi menyamankan dari seorang Asia yang lembut," tulis Taeyon Kim dalam disertasinya pada 2005.

Beberapa tahun setelah Perang Korea, timbul stereotipe kalau orang Korea yang tak memiliki lipatan kelopak mata bisa jadi masalah. Tanpa lipatan mata, ekspresi seseorang jadi terkesan pasif ketika menatap.
Sejarah Kelam di Balik Operasi Kelopak Mata yang Populer di KoreaSelebriti Korea Selatan operasi lipatan kelopak mata. Foto: Istimewa

"Kesannya jadi tidak punya emosi," tulis Dr. D. Ralph Millard tentang kampanye nya.

Bahkan pada beberapa kasus, istri-istri dari petugas militer Korea sering kali dianggap sebagai ancaman ras dan budaya bagi Amerika. Oleh sebab itu wanita pada masa itu memilih untuk operasi lipatan kelopak mata agar terlihat lebih mudah didekati dan tidak terlihat 'terlalu mengancam' bagi orang Barat.


Meskipun tujuan para wanita masa kini untuk melakukan blepharoplasty lebih karena alasan estetika, namun menurut Taeyon, bisa dibilang itu merupakan 'sisa-sisa' doktrin yang ditanamkan orang Amerika di masa lampau terhadap orang Asia. Bahwa cantik adalah bermata besar, kulit putih dan bertubuh indah.

Sementara itu bagi wanita dan pria di Asia Timur, tujuan operasi menciptakan lipatan kelopak mata bukan supaya wajah mereka terlihat seperti orang Kaukasia. Melainkan untuk mendapatkan tampilan yang lebih tegas, ada pula yang melakukan blepharoplasty demi lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
(hst/hst)