Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Dinas Pariwisata Akan 'Menjual' Spa Sebagai Budaya Indonesia

Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 02 Jun 2016 07:21 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta - Tidak banyak yang mengetahui bahwa Indonesia kaya akan variasi spa. Bukan hanya lulur Jawa, setiap pulau memiliki perawatan tubuh khasnya masing-masing. Misalnya saja Bakara asal Minahasa, Tangas Betawi, atau Boreh dari Bali. Melihat kekayaan budaya itu, Dinas Pariwisata pun berencana mempopulerkannya kepada dunia sebagai rangkaian dari Etnowelness.

Etnowelness spa adalah usaha pemerintah untuk menjadikan Indonesia destinasi spa berbasis kekayaan alam dan budaya. Ada sembilan spa utama yang akan diperkenalkan, antara lain Oukup (Batak), Lulur (Jawa), Boreh (Bali), So'odo (Madura), Batimung (Banjar), Bakera (Minahasa), serta Bedda Lottong (Bugis, Sulawesi).

Tasbir selaku Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah mengatakan jika spa adalah bagian dari pesona Indonesia. Menurutnya Indonesia saat ini tengah serius menjual parisiwisata dari sisi tersebut. Perawatan untuk merawat tubuh dan kulit dari Indonesia itu pun dinilainya unik karena berbeda dari milik negara lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia harus mampu mengungkap sesuatu yang tidak dimiliki bangsa lain. Spa adalah tradisi kerajaan ditambah kita punya tanaman yang tidak dimiliki negara lain. Musti diungkap karena banyak yang belum tahu," ungkapnya dalam peluncuran Bakara Spa Martha Tilaar di Hermitage Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, (1/6/2016).

Martha Tilaar Spa pun ikut andil dalam program tersebut. Salah satunya dengan meluncurkan varian spa baru yakni Bakara. Wulan Tilaar sebagai Spa Director mengaku telah melakukan riset dan berencana menambah varian spa tradisional lainnya dalam upaya mempopulerkannya.

"Kita tidak punya bukti sejarah jadi harus riset sendiri tapi pemerintah sekarang support jadi mempermudah kita melestarikan budaya dengan treatment spa. Ini juga sebagai bukti cinta kapada Indonesia. Kalau bukan kita yan mempopulerkan siapa lagi," kata Wulan di acara yang sama.

Meski begitu, spa telah terbukti menjadi salah satu budaya turun menurun masyarakat Indonesia. Wulan mengatakan hal tersebut dapat terlihat dalam ukiran di Candi Borobudur di mana Dewi Maya digambarkan tengah mandi dengan rempah, bunga, dan minyak. Tradisi itu hadir pula dalam Serat Centini di mana tersurat pemandian zaman Majapahit.

"Basically spa-spa itu adalah human life cycle karena setiap tahap kehidupan orang butuh perawatan yang berbeda karena emosi dan fisik mereka berbeda," tambah Wulan. (ami/ays)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads