Retinol vs Peptide: Mana Serum Anti-Aging Terbaik untuk Kulit Kamu?
Retinol identik sebagai bahan aktif untuk skincare anti-aging. Namun popularitas peptides kini mulai mencuri perhatian di dunia skincare.
Sama-sama diandalkan untuk melawan tanda penuaan dan merangsang kolagen, peptides hadir sebagai pilihan yang lebih ramah untuk kulit sensitif. Lantas, di antara keduanya, mana yang terbaik untuk skincare anti-aging?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahan skincare peptides hadir menjanjikan kulit yang lebih kencang, memperkuat skin barrier, serta menyamarkan garis halus dan kerutan, dengan risiko peradangan atau iritasi yang lebih rendah dibandingkan retinoid. Peptida (peptides) adalah rantai pendek asam amino yang berfungsi sebagai blok pembangun untuk protein penting di dalam kulit, terutama kolagen, elastin, dan keratin. Protein-protein inilah yang bertanggung jawab menjaga kulit tetap kenyal, kencang, dan elastis.
"Peptides umumnya dapat ditoleransi dengan baik oleh kulit dan menjadi tambahan yang berguna dalam rutinitas perawatan wajah, terutama bagi orang yang kesulitan menoleransi bahan aktif yang lebih kuat seperti retinoid," terang konsultan dermatologi, Dr. Derrick Phillips seperti dikutip dari Vogue Singapura.
Sedangkan retinol merupakan bahan anti-penuaan topikal yang paling banyak diteliti dalam dunia dermatologi, dengan rekam jejak data selama lebih dari 50 tahun. Retinol, salah satu jenis retinoid, digunakan untuk merangsang regenerasi sel dan produksi kolagen.
"Bahan ini umum digunakan untuk meratakan warna dan tekstur kulit, memudarkan garis-garis halus, serta menyamarkan bekas jerawat dan pori-pori besar," ujar Dr. Phillips.
Meski begitu, retinol memiliki beberapa efek samping yang perlu dipertimbangkan saat pertama kali mencoba produk retinoid. Kulit kering, iritasi, sensitivitas terhadap sinar matahari, serta perubahan warna kulit merupakan efek samping yang umum terjadi. Oleh karena itu, tindakan pencegahan seperti memakai sunscreen wajib dilakukan. Sebaiknya bangun toleransi kulit secara bertahap dengan mengaplikasikan konsentrasi rendah setiap beberapa hari sekali sebelum menggunakannya setiap hari.
Jenis Kulit Apa yang Paling Cocok untuk Retinol?
Retinol Foto: Getty Images/ayo888 |
- Anti-Aging
Retinol sebaiknya mulai dimasukkan ke dalam rutinitas skincare sejak usia 25 tahun ke atas. Namun, gaya hidup masing-masing orang tetap harus dipertimbangkan. Apakah kamu tipe orang yang suka berjemur di bawah sinar matahari? Sering lupa memakai SPF? Jika jawabannya ya, mungkin retinol kurang cocok untuk kamu. Jika digunakan pada kulit yang tidak dilindungi sunscreen setiap hari, retinol justru bisa membawa dampak buruk ketimbang manfaat.
- Kulit Dewasa (Mature Skin)
Untuk kulit dewasa, retinol sangat ampuh mengurangi tanda-tanda penuaan dan flek hitam akibat sinar matahari. Studi menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, makin banyak wanita berusia 50 tahun ke atas yang memasukkan retinol ke dalam perawatan harian mereka.
- Kulit Berjerawat
Meski retinol bisa terlalu keras untuk kulit yang sedang berjerawat aktif, vitamin A sangat bagus untuk kulit yang sedang dalam tahap pemulihan bekas jerawat. Bahan ini meresap dan mengelupas sel kulit mati untuk memberikan efek tekstur kulit yang lebih halus.
ang lebih segar dan glowing. Namun, perbedaannya adalah peptida cenderung tidak memicu iritasi atau peradangan pada kulit-hal yang kerap terjadi saat retinoid pertama kali digunakan.
Jenis Kulit Apa yang Paling Cocok untuk Peptides?
Foto: dok. Tavi
Peptides tidak memicu iritasi sekeras retinol. Ini artinya pemilik kulit sensitif, seperti penderita rosacea atau kulit kemerahan yang meradang, dapat menggunakan bahan pemicu kolagen ini tanpa khawatir merusak kulit atau memicu sensitivitas lebih lanjut.
Memperbaiki Skin Barrier
Skin barrier adalah lapisan terluar kulit yang bertindak sebagai perisai dari paparan luar. Sebagai contoh, jika kamu mengeksfoliasi kulit secara berlebihan dengan produk yang keras, skin barrier akan teriritasi dan memicu jerawat. Atau jika kamu berjemur terlalu lama, skin barrier akan meradang, kering, dan mengelupas. Peptides bertindak sebagai bahan penyembuh jika terjadi kerusakan pada skin barrier dengan memanfaatkan komponennya untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
Jadi, mana yang lebih baik? Pastinya kedua bahan aktif pemicu kolagen ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Retinol sudah teruji oleh waktu tetapi dikenal mudah memicu iritasi kulit. Sedangkan peptides adalah objek studi baru yang risetnya belum sebanyak retinol, namun jauh lebih ramah di kulit. Satu hal yang pasti: kedua produk anti-aging ini tidak akan redup dalam waktu dekat.













































