Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Berendam dengan Belut, Perawatan Kecantikan Baru yang Kontroversial

Kiki Oktaviani - wolipop
Rabu, 06 Nov 2013 19:01 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta - Semakin hari, perawatan kecantikan aneh dan ekstrim banyak bermunculan. Sebelumnya terdapat pedikur dengan ikan. Cara kerjanya dengan mencelupkan kaki di dalam bak yang berisi 150 ikan Gara Ruffa. Ikan ini tidak memiliki gigi, tapi mereka mengisap dan menggerogoti kuli-kulit mati yang ada di kaki dengan mulut mereka, sehingga menjadikan kaki halus dan lembut.

Metode tersebut sama seperti perawatan berendam dalam bak dengan beberapa ekor belut pensil. Belut-belut tersebut juga dipercaya dapat membersihkan kulit dari kotoran dengan memakan sel kulit mati.

Meski begitu, perawatan yang datang dari China tersebut menuai kontroversi. Konsultan kesehatan dan perlindungan Wendy Nixon mengatakan, perawatan tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan, apalagi bila menggunakan pakaian renang yang longgar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada satu kasus, belut liar berenang masuk ke alat kelamin pria dan masuk ke ginjal dan akhirnya saya perlu mengoperasinya selama tiga jam," ujar Nixon dalam seminar yang diselenggarakan Chartered Institute for Environmental Health (CIEH), seperti dikutip Daily Mail.

Kasus serupa juga terjadi pada pria 56 tahun di provinsi Hubei, China. Ia merasa ada belut yang menggigit tubuhnya dan tiba-tiba terasa sangat sakit, ia lalu menyadari ada belut kecil yang baru saja menggigit penisnya.

Kasus tersebut membuat para ilmuan khawatir dengan perawatan kecantikan ekstrim yang banyak bermunculan. Masyarakat hanya melihat manfaatnya tanpa mengetahui efek sampingnya.

"The CIEH peduli dengan perawatan kecantikan baru yang ditawarkan oleh salon atau spa yang tidak melihat risikonya untuk publik atau hewan yang digunakan. Itu karena penyedia jasa tidak melihat risikonya, jadi tidak mungkin menyediakan bimbingan dan informasi yang tepat untuk publik dan profesional kesehatan," ujar ujar jurus bicara CIEH.

(kik/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads