Waspada Ladies, Kekerasan Dalam Pacaran Kasus Kekerasan Terbesar ke-3 di RI

Eny Kartikawati - wolipop Selasa, 07 Des 2021 11:30 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes
Jakarta -

Kasus yang dialami NWR mengungkap fakta menyedihkan terkait banyaknya kasus kekerasan perempuan selama pacaran. Berikut fakta yang diungkap Komnas Perempuan.

Kisah pilu NWR yang viral di media sosial merupakan salah satu bentuk kekerasan perempuan dalam pacaran. NWR diperkosa dan dipaksa melakukan aborsi oleh kekasihnya Bripda Randy Bagus, anggota Polres Kabupaten Pasuruan. NWR kemudian memutuskan bunuh diri karena tak kuat dengan berbagai masalah hidupnya.

Akibat perbuatannya tersebut, Randy ditahan di Polda Jatim sejak Sabtu (4/12). Ia terancam dipecat karena dinilai melanggar pasal 7 dan 11 Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian. Tidak hanya itu, ia juga akan dijerat dengan Pasal 348 KUHP tentang Aborsi juncto Pasal 55 KUHP. Hukuman 5 tahun penjara sudah menantinya.

"Kasus NWR merupakan salah satu dari 4.500 kasus kekerasan terhadap perempuan yang diadukan ke Komnas Perempuan dalam periode Januari-Oktober 2021. Ini sudah dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah kasus yang dilaporkan ke Komnas Perempuan pada 2020," kata Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, dalam jumpa pers virtual, Senin (6/12/2021).

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menambahkan kasus NWR adalah salah satu bentuk kekerasan di dalam pacaran (KDP). Dan KDP ini setiap tahunnya juga mengalami peningkatan, bahkan termasuk kasus kekerasan terbanyak ketiga.

"Banyak dilaporkan kepada Komnas Perempuan dan juga kepada lembaga-lembaga pendamping, KDP hampir selalu menjadi nomor tiga terbanyak dari kasus kekerasan di ruang privat yang dilaporkan kepada lembaga-lebaga pendamping," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (6/12/2020).

Jumlah kasus kekerasan di dalam pacaran ini rata-rata setiap tahunnya mencapai 150 kasus. Menyedihkannya, berbagai kasus KDP ini lebih sering penindakan hukumnya lemah.

"Latar belakang hubungan pacaran kerap menyebabkan peristiwa kekerasan seksual yang dialami korban dianggap sebagai peristiwa suka sama suka. Dalam konteks pemaksaan aborsi, justru korban yang dikriminalkan sementara pihak laki-laki bisa melenggang pergi saja karena tidak terjerat oleh hukum," ujar Andy.

Kekerasan Dalam Pacaran = Toxic Relationship

Bago kamu yang mengalami kekerasan dalam pacaran, sadarilah bahwa hal tersebut termasuk dalam toxic relationship. Psikolog Klinis Dewasa Alfath Hanifah Megawati M.Psi., mengatakan toxic relationship bukanlah relasi yang mudah untuk diakhiri. Pasalnya, dalam relasi ini kedua pasangan (yang menyakiti dan yang tersakiti) terjebak dalam ilusi relasi yang membuat mereka saling mempertahankan hubungan.

Bagaimana cara keluar dari toxic relationship di mana di dalamnya ada kekerasan dalam pacaran? Lanjut di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Kenali Toxic Relationship, Apakah Hubungan Kamu Salah Satunya?"
[Gambas:Video 20detik]