Ironi Pelecehan Seksual Terduga Pelaku Figur Publik, Korban Dituduh Pansos

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 14 Jun 2021 06:00 WIB
Senior businessman puting his arm on her secretarys knee. Ilustrasi pelecehan seksual (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Jakarta -

Nama Gofar Hilman sedang menjadi perbincangan hangat setelah seorang perempuan mengaku pernah dilecehkan oleh sang influencer. Terlepas dari dukungan moral dan empati yang berdatangan, tak sedikit pula yang menyalahkannya alias victim blaming. Sebuah ironi yang kerap menimpa para korban pelecehan seksual, terutama yang melibatkan seorang figur publik.

"Ya kalo gak mau digituin gak usah dugem mbak, di rumah aja tidur nyeyak," tulis seorang pengguna Twitter di thread korban, @quweenjojo, yang menceritakan kronologi kejadian.

Tak berhenti di situ, ia menyebut pengakuan tersebut hanya untuk mencari pamor semata dengan memanfaatkan ketenaran Gofar Hilman. "Pake acara spill biar apa? Biar keren? Play victim nyalahin Gofar mabok, ya itu risiko lo dugem," tulisnya.

'Pansos', 'mencari panggung', 'aji mumpung', 'play victim'. Demikian istilah-istilah penghakiman yang biasanya melabeli korban yang mengaku pernah mendapatkan pelecehan seksual dari seorang yang kondang.

Poppy Dihardjo, seorang penyintas KDRT yang sekaligus vokal terkait isu hak perempuan, sangat prihatin dengan kebiasaan orang yang gampang melalukan victim blaming terhadap korban tanpa berpikir dua kali.

"Sedih, karena ternyata masih banyak teman-teman di luar sana yang belum bisa atau setidaknya bersikap netral dan langsung victim blaming saat ada korban kekerasan seksual yang bersuara," kata Poppy.

Ia juga sangat menyayangkan bila ada yang mempermasalahkan soal tindakan korban pelecehan seksual yang memilih berkoar di media sosial ketimbang lapor ke polisi.

"Ya, sayang banget masih banyak orang yang tidak mau menambah wawasannya tentang kekerasan seksual dan kenapa korban dan penyintas jarang mau melaporkan ke pihak berwajib," katanya.

Menurut Poppy, biasanya korban enggan melapor karena ada kekhawatiran akan ikut tersandung masalah hukum. "Sudah bisa ditebak, kalau nanti perempuannya-pun akan kena dipanggil jadi saksi kalau sampai kasus ini diselidiki. Semoga korban bisa mendapatkan pendampingan saat itu terjadi," tutur Poppy.

Diungkapkan Poppy, ada alasan tertentu mengapa orang mudah melakukan victim blaming kepada korban. Kebudayaan patriarki yang memposisikan pria di atas wanita adalah salah satu penyebabnya.

"Masa laki-laki ngaku meniduri 100 perempuan dianggap prestasi dan dibilang keren tapi giliran perempuan ngaku dilecehkan langsung kena serang?! Konyol kan?" ujar Poppy, merujuk pada pengakuan Gofar Hilman soal pengelaman seksualnya dulu sebagai seorang sex addict di sebuah podcast.

"Ada relasi kuasa juga tentu saja ya karena terduga pelaku high profile, seolah siapapun yang bersuara langsung dapat tuduhan 'pansos' dengan logika: kalau beneran dilecehkan, ya lapor polisi dong. Jangan bacot di medsos," jelas pendiri Perempuan Tanpa Stigma ini.


Poppy berharap, perilaku victim blaming tak mengurangi keberanian para korban dan penyintas untuk bersuara demi menuntut keadilan.

Jika memang ingin mengumbar di ranah publik, saran Poppy, diskusikan dulu dengan orang tepercaya. "Cari pendamping, cerita ke orang yang tepat agar jika kamu berniat untuk bersuara, kamu tidak akan jadi cedera. Jangan reaktif karena panik atau takut," ujarnya.

Ia menambahkan, tak ada salahnya pula mencari bantuan konseling ke organisasi atau komunitas yang memiliki paham perspektif gender yang baik dan keberpihakan pada korban.



Simak Video "Saran Psikolog Bagi Para Korban Pelecehan Seksual"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)