Liputan Khusus Pejuang Bayi Tabung

Kisah Perjuangan Wanita 40 Tahun Hamil Anak Kembar Lewat Proses Bayi Tabung

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 19 Apr 2021 13:00 WIB
researchers lab work Ilustrasi proses bayi tabung. Foto: Getty Images/gevende.
Surabaya -

Salah satu cara yang bisa dilakukan pasangan saat belum dikaruniai momongan secara alami adalah program bayi tabung. Seperti yang dilakukan pasangan Nofiandrianti atau dan Hungky Perdana Candra, yang selama delapan tahun menikah belum mendapatkan buah hati.

Keduanya menikah pada 8 0ktober 2011. Setelah delapan tahun menanti, mereka mulai mengikuti seminar tentang program hamil (promil) di Morula, Surabaya, Jawa Timur pada Januari 2019.

"Ada tiga dokter menerangkan tentang program bayi tabung, di antara tiga dokter saya dan suami memilih dokter Benny untuk promil saya dan ini juga promil pertama kali saya dengan dokter Benny sampai akhirnya berhasil memiliki buah hati, saya menjalani promil ini karena kita ingin memiliki buah hati yang kita nantikan," ungkap Nofi saat dihubungi Wolipop, Jumat (16/4/2021).

Kisah perjuangann bayi tabung Nofiandrianti dan  Hungky Perdana Candra.Kisah perjuangann bayi tabung Nofiandrianti dan Hungky Perdana Candra. Foto: Dok. pribadi Nofi.

Selama proses promil, Nofi mengatakan ada beberapa tahap yang harus dijalani. Seperti pemeriksaan screening HIV, sel sperma, tes darah pemeriksaan ada atau tidaknya virus toksoplasma dan rubela. Nofi bersyukur hasil pemeriksaan dirinya dan suami menunjukkan hasil yang baik.

"Setelah itu, mulai proses IVF 19 Januari 2019 yang diawali dengan pemeriksaan. Ada berapa banyaknya sel telur di sebelah kiri dan kanan. Ternyata di sebelah kiri indung telur saya ada kista endometriosis dan bentuk rahim saya menukik ke belakang," ujarnya terkejut.

Selanjutnya Nofi menjalani tahap penyuntikan hingga 10 kali untuk pembesaran sel telur. Setelah hasil pembesarannya sel telur sesuai yang diharapkan, dilakukan pengambilan sel telur untuk dipertemukan dengan sel sperma suaminya.

"Hasil pembesaran dari sel telur yang didapatkan ada 11 sel telur yang bagus dan setelah dibuahi dapat 10 embrio, dari 10 embrio, ternyata hanya lima embrio yang bagus, satu excellent, tiga good dan satu moderate. Yang ditanam satu excellent dan satu good. Dan hasilnya dua embrio yang ditanam berkembang dengan baik," jelasnya.

Sebelumnya Nofi dan Hungki sempat mempertimbangkan menanam tiga embrio. Tapi dokter menyarankan untuk menanam dua embrio saja. Karena kalau tiga embrio tersebut berhasil, risikonya sangat besar dan biaya sampai lahir lebih mahal dari proses bayi tabungnya. Selain itu kondisi bayi akan lahir prematur. Akhirnya keduanya memutuskan untuk menanam dua embrio.

Nofi Hamil Anak Kembar di Usia 40 Tahun

Perjuangan Nofi dan Hungki membuahkan hasil. Dokter kandungannya dr. Benny menyatakan dirinya hamil pada 31 Mei 2019. Dan saat kontrol diketahui janin yang dikandungnya kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

"Kita bahagia dan senang banget bisa dapat sepasang. Doa kita dijawab sama Tuhan Yang Maha Esa. Suka dan duka selama menjalani promil. Sukanya selama melalui proses dari awal sampai hamil berjalan lancar, terus kita setiap kontrol dengan dokter Benny kita sebagai pasien tidak dibuat tegang tapi dibuat rileks karena pesan dari dokter Benny selama menjalani promil kita harus happy nggak boleh stress dan senyaman mungkin kita menjalani promil dengan rileks," terangnya panjang lebar.

Dalam proses bayi tabung hingga masa kehamilan, Nofi sempat merasa tegang. Hamil dan akan melahirkan di usia 40 tahun, dia pun sampai tidak bisa tidur karena gelisah.

"Tensi juga tinggi padahal dari awal sampai mau lahiran normal-normal aja sampai dokter Benny kaget tensi saya tinggi. Dan selama menjalani promil sampai berhasil pun tidak ada masalah. Semuanya lancar-lancar aja. Dukanya sempat jatuh pingsan pada malam hari tapi untungnya janinnya tidak ada masalah dan juga tidak ada pendarahan di kehamilan saya. Puji Syukur sama Tuhan sudah diberi kesehatan saya dan bayi saya," ucapnya.

Nofi melahirkan bayi kembarnya pada 10 Januari 2020. "Lahirlah si kembar yang kami nantikan selama delapan tahun yang kami beri nama Klarybel dengan berat 2.620gr dan panjang 49cm. Leander dengan berat 3.190gr dan panjang 50cm," sebutnya.

Saat baru melahirkan, Nofi dan suaminya sempat panik dan kewalahan mengurus sepasangan kembar sekaligus. Namun kini keduanya sudah terbiasa dengan rutininas anak kembarnya itu.

"Jadi dari hari ke hari kami belajar sendiri gimana merawat bayi yang baru lahir, cara ganti popoknya dan memandikannya. Setelah kami terbiasa sudah tau celah-celahnya kalau mereka nangis itu lapar, pipis dan pup," kata Nofi.

Sebagai wanita karier, Nofi membagi waktunya untuk bangun subuh mempersiapkan makanan dan memandikan bayi kembarnya sebelum berangkat bekerja. Sepulang kerja, dia pun meluangkan waktunya mengurus bayi kembarnya hingga malam hari.

"Pulang kerja pun saya juga harus mengurus mereka kasih makan, mandi, ganti popoknya kalau malam hari pun saya bangun untuk kasih minum susu dan ganti popoknya. Mereka sekarang sudah bisa jalan senang melihatnya apalagi tingkah laku si kembar yang menggemaskan," ucapnya bahagia.

(gaf/gaf)