Liputan Khusus Toxic Relationship

Yang Dilakukan Hannah Al Rashid untuk Keluar dari Toxic Relationship

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 24 Feb 2021 06:00 WIB
Hannah Al Rashid menceritakan pengalaman saat mengalami toxic relationship Hannah Al Rashid. Foto: Instagram @hannahalrashid.
Jakarta -

Toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat, ditandai dengan perlakuan yang tidak menyenangkan yang mempengaruhi fisik dan mental. Toxic relationship juga bisa berdampak buruk bagi seseorang.

Aktris Hannah Al Rashid termasuk salah satu yang pernah mengalami kerjadian tersebut. Selama sembilan bulan dia terjebak toxic relationship sebelum akhirnya bisa melepaskan diri dari pria yang memperlakukannya secara tidak baik itu.

Pernah menjalani hubungan dengan pria yang toxic, bintang film Aruna dan Lidahnya itu berbagi tips agar bisa keluar dari toxic relationship. Hannah Al Rashid mengatakan orang yang terjebak toxic relationship biasanya butuh waktu dan perasaan tega yang cukup banyak untuk bisa keluar dari hubungan tersebut.

Hannah sendiri mengatakan, dirinya awalnya tidak tega untuk memutuskan cintanya dengan pria toxic tersebut. Namun dia terus megingatkan diri bahwa dirinya mempunyai nilai sebagai manusia dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu.

Hannah Al Rashid menceritakan pengalaman saat mengalami toxic relationshipHannah Al Rashid yang pernah mengalami toxic relationship Foto: Instagram @hannahalrashid

Wanita yang pernah terpilih bergabung dengan tim nasional pencak silat Inggris itu, menuturkan dirinya tersadar harus keluar dari toxic relationship setelah menghadiri menghadiri acara bersama pria yang kini sudah jadi mantan pacarnya. Saat itu Hannah merasa senang akhirnya bisa bertemu beberapa orang yang ia kenal di acara tersebut.

"Karena mantan saya selalu nggak bolehin saya ketemu teman-teman, di acara itu saya cukup senang melihat beberapa orang yang saya kenal dan akhirnya ngobrol-ngobrol sama mereka. Saya malah ditarik jauh dari mereka, dan dibentak-bentak di sudut ruangan sampai saya menangis dan ditinggal. Saya merasa malu banget, dan ada salah satu teman saya yang ternyata dari jauh notice apa yang terjadi. Dia samperin saya, dia nanya "are you ok?" Rasanya itu pertama kali ada yang nanya seperti itu ke saya. Dan saya cukup terpukul oleh pertanyaan simple itu," kata Hannah ketika diwawancara melalui Email.

Pada saat itu Hannah Al Rashid merasa dihargai. Dan temannya itu mengatakan jika dia tidak diperlakukan seperti itu. Mulai sejak itu Hannah langsung menyadari jika ia berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hubungan.

"Ternyata saking lama saya direndahkan dan dicaci-maki dalam hubungan itu, saya lupa bahwa saya berhak untuk diperlakukan dengan baik dan adil. Saya berhak untuk jadi diri sendiri dan bahagia. Ternyata teman yang reach out ke saya itu, dengan cara se-simple itu bisa memberi kekuatan yang luar biasa, dan akhirnya kepercayadirian saya balik lagi. Saya merasa lebih berani melawan tindakan toxic itu sampai akhirnya berani putus," ungkapnya.

Setelah berhasil lepas dari mantan kekasihnya itu, Hannah mengaku butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka dan juga mengalami trauma.

"Setiap hubungan toxic akan mengakibatkan trauma dan akan mempengaruhi hubungan kita yang berikut, makanya betapa penting untuk punya support system atau jika perlu bicara sama psikolog untuk membantu navigasi trauma tersebut sampai pulih," tutur kata aktris yang kini menggalang donasi untuk para wanita melalui Kampanye Kawan Puan di situs KitaBisa, saat dihubungi Wolipop via email.

Hannah Al Rashid menceritakan pengalaman saat mengalami toxic relationshipHannah Al Rashid yang pernah mengalami toxic relationship. Foto: Instagram @hannahalrashid.

Pernah mengalami trauma akibat toxic relationship, Hannah Al Rashid tergerak untuk membuat kampanye Kawan Puan karena ingin membantu korban kekerasan. Selama aktif mengkampanyekan Kawan Puan ini, istri Nino Fernandez itu mengaku banyak bertemu dengan orang-orang yang memiliki gerakan serupa.

"Selama advokasi saya untuk isu ini, saya bertemu dengan banyak orang yang bergerak di isu ini dari aktivis ke pendamping korban ke teman-teman LSM. Dan saya sadar betapa tertekan dan sulit pekerjaan mereka, dan salut banget sama tenaga yang mereka tuangkan kepada issue ini. Jika negara tidak hadir untuk korban, teman-teman tersebut selalu hadir walaupun pekerjaan mereka penuh dengan tantangan. Harapan saya campaign Kawan Puan ini bisa meringankan sedikit beban mereka yang selalu ada untuk membantu dan memberi pelayanan terbaik untuk korban kekerasan," harapnya.

Di akhir wawancara, Hannah Al Rashid memberikan pesan bagi kamu yang mengalami toxic relationship. "You are worthy and you deserve better. Bentuk kekerasan apapun tidak pantas kalian alami, terutama dari orang yang katanya sayang pada kita. Apapun bentuk kekerasan, bukan sayang namanya. Jika bisa, cari support system yang bisa bantu kalian lepas dari orang toxic itu. Mungkin yang perlu diingetkan juga, kadang susah untuk korban reach out, jadi jika kami ada teman yang kamu tahu berada dalam hubungan toxic, kamu yang harus approach mereka, ask them if they are ok, ask them how you can help, rangkul mereka, be there for them. Jika dikuatkan, Insha Allah bisa lepas nantinya," pungkasnya.

(gaf/eny)