Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Di Balik Status Miliarder Beyonce, Upah Buruh Brand Fashionnya Cuma Rp 8 Ribu

Kiki Oktaviani - wolipop
Sabtu, 03 Jan 2026 20:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Parade Gaya Beyonce di Konser Cowboy Carter
Beyonce Foto: Instagram/@vogue
Jakarta -

Beyonce resmi bergabung dalam jajaran musisi miliarder dunia, sejajar dengan Taylor Swift dan nama-nama besar lainnya. Namun, pencapaian finansial tersebut justru dibayangi kontroversi.

Penyanyi 44 tahun itu disorot setelah muncul laporan yang menuding lini busananya, Ivy Park, mempekerjakan buruh pabrik di Sri Lanka dengan upah sangat rendah, bahkan disebut hanya setara sekitar Rp 8.000 per jam.

Laporan tersebut memicu perdebatan luas di media sosial, mempertanyakan apakah kekayaan Beyonce dibangun dengan mengorbankan tenaga kerja murah di negara berkembang, bertolak belakang dengan citra 'empowerment' yang selama ini melekat pada brand tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan dari Business and Human Rights Centre, para pekerja di pabrik MAS Holdings, Sri Lanka, kebanyakan perempuan muda dari daerah pedesaan, disebut bekerja hingga 10 jam per hari dengan upah sekitar sekitar US$ 5 atau sekitar Rp 80 ribu. Dalam sebulan dengan 22 hari kerja, buruh hanya dapat Rp 1.760.000.

Selain jam kerja panjang, mereka juga dikabarkan tinggal di asrama milik perusahaan dengan jam malam ketat pukul 22.30. Para aktivis menggambarkan kondisi tersebut sebagai praktik eksploitatif. Mereka menyebut banyak pekerja enggan bersuara karena takut kehilangan pekerjaan.

ADVERTISEMENT
Koleksi Ivy Park BeyonceKoleksi Ivy Park Beyonce Foto: Dok. Ivy Park

Ketimpangan antara pesan pemasaran Ivy Park yang mengusung pemberdayaan perempuan dengan realitas di balik proses produksinya pun menjadi sorotan utama.

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Ivy Park membantah keras. Melalui pernyataan resminya, label tersebut menegaskan bahwa mereka menjalankan program perdagangan etis yang ketat dengan audit dan inspeksi berkala.

"Setiap pemasok diwajibkan memenuhi kode etik yang sangat ketat. Kami juga secara aktif mendukung mereka untuk mempertahankan standar tersebut," ujar juru bicara Ivy Park dalam pernyataan yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Meski ada bantahan resmi, kritik di media sosial terus mengalir. Banyak pengguna X menyoroti ironi antara status miliarder Beyonce dan upah rendah para pekerja yang memproduksi pakaiannya. Sebagian bahkan menyebut bahwa tidak ada yang namanya miliarder yang etis'

"Tidak ada miliarder yang benar-benar etis. Untuk mencapai kekayaan sebesar itu, selalu ada pihak yang dieksploitasi," tulis netizen.

"Beyoncé adalah pencuri dan musisi paling tidak etis, mulai dari isu sweatshop, klaim pencurian karya musik, hingga jejak emisi karbon yang sangat tinggi bersama Jay-Z," kritik netizen lainnya.

Sebagian lainnya menambahkan bahwa Beyoncé tidak terlibat langsung dalam operasional pabrik. Produksi Ivy Park kala itu disebut berada di bawah pengawasan Adidas, dan kerja sama tersebut bahkan sudah berakhir beberapa tahun lalu.

"Parkwood sudah menghentikan kerja sama itu sejak lama. Beyonce tidak menjalankan pabrik sendiri, dan lini Ivy Park yang lama diproduksi Adidas," jelas seorang pengguna.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads