Liputan Khusus Batal Menikah

Bisa Bikin Depresi, Ini Saran Psikolog untuk Kamu yang Batal Nikah

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 07 Des 2020 14:11 WIB
Ilustrasi wanita yang batal nikah. Ilustrasi wanita yang batal menikah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Wavebreakmedia.
Jakarta -

Batal menikah tentunya kamu akan merasa kecewa dan sedih. Apalagi jika pembatalan pernikahan itu terjadi menjelang hari-H. Batal nikah setelah lamaran ini pun bisa berdampak pada psikis seseorang karena mengalami luka yang mendalam.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa Alfath Hanifah Megawati, M.Psi. saat batal nikah terjadi dampaknya akan memunculkan rasa emosi yang tidak nyaman, seperti sedih karena kehilangan orang yang pernah mencintai dan kita cintai, kehilangan hubungan yang spesial, kehilangan kesempatan untuk berkeluarga dan lainnya).

Orang yang batal nikah juga bisa merasa malu karena berita tentang pernikahan sudah tersebar atau bahkan marah karena diperlakukan tidak adil, sakit hati dan sebab lainnya.

"Emosi-emosi ini jika tidak dapat diatasi, maka dapat mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, dapat membuat kita menangis terus berhari-hari, munculnya pikiran negatif (misalnya, saya tidak berharga, saya tidak layak dicintai, saya gagal), membuat mood kita rendah, tidak berminat untuk beraktivitas, bahkan terganggunya aktivitas harian kita (tidak mau makan, kerja, mengurung diri)," kata psikolog yang akrab disapa Ega itu kepada Wolipop belum lama ini.

Ega menambahkan dalam tingkat ekstrem, batal nikah setelah lamaran atau menjelang hari pernikahan dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang dapat melukai diri sendiri atau orang lain seperti melukai mantan pasangan atau orang-orang yang terlibat dalam kandasnya hubungan tersebut.

Lantas, bagaimana caranya untuk bangkit kembali dan mengatasi berbagai perasaan yang berkecamuk setelah batal nikah?

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan wajar jika kamu yang mengalami batal nikah merasakan sedih dan kecewa. Apalagi jika kamu masih mencintai pasangan dan sudah menjalin hubungan dalam waktu lama, maka batal menikah menjadi hal yang semakin menyakitkan.

Ega pun memberikan saran bagaimana mengatasi perasaan sedih, marah atau depresi ini ketika batal nikah terjadi:

1. Ambil waktu untuk kita menenangkan diri dan menerima bahwa ini memang kondisi yang tidak nyaman untuk dihadapi, apapun alasannya.

2. Fokus untuk menemukan tujuan diri kita kembali: apa yang ingin kita capai, apa yang kita butuhkan, apa yang membuat kita bahagia dan lain sebagainya.

3. Mintalah orang terdekat kita untuk mendampingi dan memberikan masukan yang dapat membantu diri kita bangkit.

4. Jika sudah cukup tenang, selesaikan masalah yang hadir karena pembatalan ini. Misalnya, mengembalikan barang-barang yang dibeli oleh mantan pasangan, memberikan kejelasan (jika belum dilakukan), menyelesaikan perjanjian yang berkaitan dengan rencana pernikahan (misalnya: booking gedung, vendor, dsb).

5. Ambil pelajaran yang kita dapatkan dari kandasnya hubungan ini. Apa yang perlu diri kita kembangkan, antisipasi atau persiapkan untuk relasi di masa mendatang.

Itulah lima saran Ega sebagai psikolog untuk kamu yang sedang berlarut-larut dalam kesedihan setelah batal nikah atau gagal melanjutkan hubungan ke tahapan pernikahan.

(gaf/eny)