Intimate Interview

Pergulatan Batin Zsazsa Caesar Terima Diri Sebagai Pengidap Vitiligo

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 28 Nov 2021 13:12 WIB
Zsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto) Zsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto)
Jakarta -

Hidup sebagai pengidap vitiligo bukan hal yang mudah bagi Zsazsa Caesar. Apalagi, penampilan fisik masih kerap dijadikan standar dalam menilai seseorang. Lalu, bagaimana akhirnya ia bisa menerima diri dengan kondisi kulitnya yang berbeda dari kebanyakan orang?

Kulit Zsazsa Caesar tak seperti orang pada umumnya. Hampir di sekujur tubuhnya, muncul bercak-bercak putih. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut vitiligo.

Vitiligo disebabkan oleh berhentinya sel tubuh memproduksi pigmen penghasil warna kulit. Akibatnya, warna kulit menjadi tidak merata. Kondisi tersebut diduga terkait beberapa faktor seperti kelainan genetik, penyakit autoimun, atau stres.

Model Vitiligo Zsazsa CaesarModel Zsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto)

Menurut data Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), prevalensi vitiligo saat ini tercatat antara 0,1-2 persen, atau ada sekitar 5 juta penduduk Indonesia mengalami vitiligo.

Vitiligo bisa muncul dari lahir atau saat seseorang mulai beranjak dewasa. Zsazsa sendiri mulai mengalami vitiligo saat berusia lima tahun. Awalnya, bercak muncul di kaki. Namun, lama kelamaan bercak menjalar ke seluruh tubuh hingga ke muka.

Duduk di kelas lima SD menjadi masa kecil terberat bagi perempuan kelahiran Bandung, 1 Juni 1995 ini. Teman-teman sekelas Zsazsa mulai melihat ada keganjilan di kulitnya. Hari-harinya pun penuh dengan celaan dan Zsazsa bahkan sampai diejek mirip sapi. "Aku sampai nggak mau masuk sekolah karena malu," kenangnya.

Model Vitiligo Zsazsa Caesar Zsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto)


Pernah juga suatu kali ada seorang ibu dan anak menjauh dari Zsazsa saat berpapasan di jalan seolah ia sedang membawa penyakit menular. "Stigma-stigma seperti vitiligo bisa menular, vitiligo aib atau kutukan masih sering ada. Padahal itu tidak benar sama sekali," katanya.

Ejekan dan pandangan miring orang terhadap Zsazsa membuatnya kehilangan rasa percaya diri dan menjadikannya pribadi yang insecure atau minder.

Dari kecil, ia selalu berusaha menutupi vitiligonya dengan pakaian tertutup. Saat mulai dewasa, ia memakai makeup tebal untuk menyamarkan warna kulitnya yang tak merata.

Namun, menutupi diri justru tak membuat situasi lebih baik. Puncaknya, ia sempat mencapai titik lelah dan ingin menyerah lalu berpikiran, sepertinya lebih mudah bila dirinya tak eksis lagi di dunia.

Sampai suatu saat, Zsazsa menemukan kembali makna hidup ketika bertemu teman lamanya. "Waktu itu temanku bilang, justru vitiligo ini yang membuat Zsazsa menjadi Zsazsa sebenarnya. Aku seperti ditampar. Selama ini aku jadi siapa ya? Seumuran hidup aku akan punya vitiligo dan mau sampai kapan aku menolak terus?" katanya.

Saksikan juga 'Zsazsa Caesar Pede Walau Kulit Vitiligo'

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2