Initimate Interview

Mengenal Betty Idroos, Perempuan Pertama yang Terpilih Jadi Ketua KPU DKI

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 22 Apr 2021 09:31 WIB
Ketua KPU DKI Jakarta Betty Epsilon Idroos (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) Ketua KPU DKI Jakarta Betty Epsilon Idroos (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Kamis, 24 Mei 2018, menjadi hari yang membanggakan bagi Betty Epsilon Idroos. Di hari itu, ia dilantik sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta periode 2018 - 2023.

Perempuan 41 tahun itu tak pernah menyangka dirinya bakal mengemban tanggung jawab tersebut. Menurutnya, kandidat lain yang justru lebih pantas mengingat usia karier mereka yang lebih senior. Ditambah lagi, belum pernah ada perempuan yang terpilih sebagai Ketua KPU DKI.

KPU DKI sebenarnya pernah memiliki ketua perempuan, Dahliah Umar, untuk menggantikan Juri Ardiantoro yang maju pada pencalonan ketua KPU Pusat pada 2012. Baru Betty yang menjadi perempuan pertama dalam kepengurusan KPU DKI yang menduduki posisi ketua dari awal lewat proses pemilihan.

"Saya berharap teman-teman lama yang maju. Putusan yang terjadi kemudian berbeda. Saya rasa itu komitmen yang harus dijaga dan dijalankan," kata Betty saat berbincang dengan Wolipop detikcom belum lama ini.

Bukan sebuah pekerjaan yang mudah mengingat ada 7,7 juta pemilih di DKI Jakarta yang berada di bawah pengawasannya. Tantangan lain, bias gender, praktik korupsi hingga nepotisme yang terkadang membayangi lembaga ini.

Merupakan anak kedua dari lima bersaudara, Betty lahir dan besar di Medan di tengah keluarga yang sederhana. Ayahnya dulu seorang pegawai negeri sipil yang juga membuka usaha kecil-kecilan berupa warung untuk mendukung finansial keluarga.

Meski mampu menyekolahkannya di SD swasta terfavorit, orangtuanya tak mau memanjakan Betty. Sepulang sekolah, Betty harus mengayuh sepeda untuk membantu ayahnya mengantarkan barang dagangan ke warung.

Sesekali Betty merasa minder dengan teman-teman sekelas yang rata-rata berasal dari keluarga kaya. Diantar-jemput dengan mobil, pulang bisa santai bermain.

Namun, Betty selalu teringat perkataan ayahnya. "Mereka makan nasi, kamu juga makan nasi," demikian ujaran sang ayah yang memotivasi Betty untuk tetap semangat belajar tanpa memandang status dan materi orang lain.

Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Betty kecil menjadi murid paling berprestasi dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi di SD-nya.

Ketua KPU DKI Jakarta Betty Epsilon IdroosKetua KPU DKI Jakarta Betty Epsilon Idroos (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Nilai-nilai kesederhanaan dan tekun bekerja keras yang ditanamakan orangtuanya sejak kecil turut membawa Betty meraih pendidikan terbaik. Lulus SMA, Betty berhasil masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan sosial-ekonomi lewat jalur undangan khusus PMDK.

Di IPB lah, Betty yang semasa SMP dan SMA aktif di keorganisasian sekolah mengenal dunia pemilu dan proses di baliknya. Dia terpilih sebagai salah satu anggota sukarelawan UNFREL, sebuah lembaga swadaya masyarakat, untuk mengawasi Pemilu 1999 di daerah Jasinga, Bogor.

Selanjutnya, ketika melanjutkan studi S2 di jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia berkat beasiswa IIEF Ford Foundation, ia ikut menggawangi Voter Education Program tingkat nasional yang bertujuan mengedukasi mahasiswa dalam menghadapi Pemilu 2004.

Sebelumnya pada 2002, Betty yang juga menaruh perhatian pada isu kesetaraan gender dan hak asasi manusia (HAM) pernah bergabung dengan Demos (Indonesian Centre for Democracy and Human Rights).

Dari pengalaman tersebut, Betty sering bertemu tokoh-tokoh penting HAM di Indonesia. Salah satunya Munir yang kasus kematiannya sempat menjadi kontroversi.

Di sela studi S2 pada 2006, Betty memutuskan cuti untuk bergabung dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) sebagai asisten peneliti.

Selanjutnya
Halaman
1 2