Intimate Interview

Mengenal Wakil Ketua KPK Lili Pintauli, 'Kartini' dalam Pemberantasan Korupsi

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 21 Apr 2021 09:00 WIB
Lili Pintauli Siregar Foto: Dok. Humas KPK
Jakarta -

Perayaan Hari Kartini tak lengkap rasanya tanpa membahas sosok Kartini Modern yang dianggap inspiratif dalam meneruskan perjuangan kesetaraan gender juga hak-hak wanita. Salah satu yang menjadi perhatian Wolipop kali ini adalah Wakil Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Lili Pintauli Siregar. Di Hari Kartini 2021, Lili pun berharap jika wanita bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah perilaku korupsi dalam keluarga.

Lili Pintauli Siregar menjabat sebagai Wakil Ketua KPK selama dua tahun belakangan. Wanita kelahiran Bangka Belitung ini merupakan satu dari empat wakil yang membawahi bidang Kesekjenan dan Informasi dan Data. Telah berkecimpung dalam dunia hukum sejak 1991, Lili mengaku sejak awal tertarik dan peduli dengan kasus-kasus ketimpangan sosial yang sering kali terjadi pada wanita. Sebelum jadi wakil Ketua KPK Lili merupakan Komisioner dalam LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).

Kepada Wolipop, Lili Pintauli mengisahkan sekelumit pekerjaannya yang seperti tak mengenal tanggal merah. Selama pandemi dan bulan Ramadhan, ia mengaku menerima beban pekerjaan yang kurang lebih sama saja.

"Saya membawahi Kesekjenan dan Informasi dan Data tapi tidaklah kita menutup dengan peran-peran lain misalnya peran pencegahan, monitoring, pendidikan, dan penindakan. Kita secara bergilir juga membacakan rilis supaya ada kesepahaman pengetahuan informasi yang sama. Jadi tugas kami saling menutupi, saling sinergi, saling mendukung satu dengan yang lain," ungkapnya saat ditemui di Ruang Perpustakaan Gedung Merah Putih KPK.

Lili Pintauli SiregarLili Pintauli Siregar Foto: Dok. KPK

Selama dua tahun menjadi Wakil Ketua KPK, Lili mengatakan masih melakukan penyesuaian diri. Salah satunya terkait pembatasan ruang gerak. Secara kode etik, ia memang diminta untuk menjaga komunikasi dengan pihak-pihak tertentu atau menghindari tempat-tempat publik.

"Ada batasan untuk berkomunikasi dengan mudah, menerima undangan mulai ada sekat. Memang ada aturannya di UUD misalnya dilarang berkomunikasi dengan tersangka atau keluarganya sementara di LPSK saya sangat mendekati banyak orang termasuk dengan orang berstatus tersangka, terdakwa untuk memberikan perlindungan. Akhirnya saya mulai menyesuaikan diri tapi tahun pertama merasa susah nih apalagi ada pelarangan aktivitas oleh kode etik jadi daripada ke pusat hiburan saya di rumah," kata Lili.

Hal tersebut ternyata sempat menimbulkan protes dari teman-teman Lili karena membuatnya jadi sulit ditemui. "Untuk main ke kantor, saya bilang saya nggak bisa, kalau mau datang silahkan pakai mekanisme. Teman atau kolega yang belum bisa menerima bahwa kita di sini seperti ini karena perbedaannya kan seperti siang malam. Jadi mereka bilang udahlah 'nggak usah lah di KPK lagi'. Saya ketawa saja," tambahnya.

Meski sibuk hingga sulit ditemui, Lili mengatakan tetap berusaha mengutamakan keluarga. Ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk mengurus rumah tangga, misalnya untuk memastikan makanan di rumah. Terkait keluarga, wanita 55 tahun tersebut mengaku jika awalnya ia sempat mendapat tentangan dari mereka untuk bekerja di KPK. Dikatakan jika suami dan anaknya takut Lili menjadi target kekerasan.

"Dulu di 2015 saya ikut tes pimpinan KPK di babak kedua saya kalah tapi saya ketahui dari kantor LPSK ternyata mereka membuat surat untuk mensetop penseleksian saya karena masih punya tanggung jawab lagi tiga tahun di sana. Saya pasrah karena dulu iseng tapi diam-diam daftar. Tapi pada saat itu almarhum ibu saya juga tidak setuju, suami tidak setuju, anak-anak juga jadi ketika saya tidak lulus mereka malah bilang alhamdulillah,"

Lili Pintauli SiregarLili Pintauli Siregar Foto: Dok. KPK

Untungnya ketika ikut lagi di 2019, Lili telah mendapatkan izin dan dukungan dari keluarga meski sempat ada kekhawatiran di antara mereka. "Awalnya nggak mendukung karena mereka takut, contohnya kasus Novel. Itu jadi momok yang dipermasalahkan. Anak-anak bilang 'Jangan dong nanti Bunda kayak Om Novel, Jangan dong nanti ditersangkakan'. Cerminan itu yang diterima masyarakat, hal-hal negatif untuk menjadi pimpinan di sini. Saya bilang itu kan risiko pekerjaan apapun profesinya tetap punya risiko dan mereka sekarang menerima," ujarnya.

Lili sendiri mengaku mulai tertarik dengan dunia hukum sejak kecil. Ketika kuliah, ia pun pindah dari jurusan Ekonomi ke jurusan Hukum yang sempat mendapat tentangan dari keluarga karena orangtua datang dari bidang perbankan. Dari situ, Lili membuktikan bahwa ia bisa berprestasi dengan pilihannya. Ditambah lagi ia semakin tertarik dengan isu-isu perlindungan korban karena banyak membaca mengenai berita-beritanya di koran.

"Kemudian saya melihat ketimpangan di lingkungan. bagaimana ibu-ibu, petani, buruh mengalami ketidakadilan sampai proses sidang. Saya dari kecil suka diam-diam baca banya kasus kekerasan dam pidana umum kriminal di koran, saya mulai tertarik di sana. Saya ambil hukum studi buruh, S2 tentang perdagangan manusia, S3-nya perlindungan HAM. jadi tidak jauh dari isu korban. Saya tertarik karena ada ketidakadilan yang utamanya diperoleh perempuan. Itu yang menempa sebenarnya," tutur Lili.

Selama bekerja di dunia hukum, Lili mungkin tidak menghadapi tantangan atau batasan berarti sebagai seorang wanita. Namun diakuinya jika wanita dalam dunia penegakan hukum sering mendapat stigma bahwa mereka tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan logika karena mengedepankan hati. Menurutnya hal tersebut tentu tidak benar.

Terkait Hari Kartini, Lili pun mengungkap pendapatnya mengenai sosok Kartini Modern. "Kartini modern itu harus bisa menjawab situasi. Dalam (pandemi) COVID-19, dia harus kreatif, dia harus melek informasi, dan melek digital. Tapi yang tidak kalah penting dia harus menjadi pribadi yang kuat, paling tidak sikap hidup yang ditunjukkan paling tidak jadi catatan masyarakat bahwa dia orangnya yang pantas ditiru," ujar Lili Pintauli Siregar.

(ami/ami)