Intimate Interview

Cerita Inspiratif Kakak Adik Anak Mantan Bos Mitsubishi Indonesia (Bag. 2)

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 29 Sep 2019 10:42 WIB
Foto: Gresnia Arela/Wolipop Foto: Gresnia Arela/Wolipop

Jakarta - Ratih dan Lala Gunaevy dikenal sebagai anak dari mantan pendiri perusahaan distributor resmi Mitsubishi di Indonesia. Di balik kesuksesan orangtuanya, kakak - adik ini punya kisah sendiri yang menginspirasi.

Wolipop berkesempatan berbincang dengan Ratih dan Lala Gunaevy saat keduanya memperkenalkan villa keluarga mereka di Mega Mendung, Bogor, baru-baru ini. Baik Ratih maupun Lala memiliki kisah inspiratifnya masing-masing. Bagian pertama dari artikel ini memuat wawancara Wolipop dengan Lala Gunaevy (bisa dibaca di sini). Dan berikut bagian kedua artikel ini yaitu wawancara dengan Ratih Gunaevy.

Cerita Inspiratif Kakak Adik Anak Mantan Bos Mitsubishi Indonesia (Bag. 2)Foto: Gresnia Arela/Wolipop

Cerita Ratih Gunaevy

Ratih Guanevy adalah anak pertama dari Gunaevy Djajasasmita, pendiri perusahaan PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTM), distributor resmi Mitsubishi di Indonesia. Berbeda dengan kisah Lala, Ratih tidak ikut meneruskan bisnis sang ayah dan memilih untuk mendirikan usaha money changer.

Ratih juga memilih jalur berbeda dari adiknya yaitu dengan terjun menjadi politikus. "Aku di Partai Perindo, sebagai ketua Perempuan & Anak DPP Partai Perindo Dapil VII Jawa Tengah, Kebumen, Purbalingga dan Banjarnegara," katanya saat membuka obrolan dengan Wolipop di Grand Opening Villa Puri Joya, Mega Mendung, Bogor, Rabu (25/9/2019).
Wanita berusia 45 tahun ini awalnya merasa penasaran dan ingin mengetahui tentang dunia politik. "Ternyata setelah aku dalami itu seru dan mengasyikkan. Di situ ada adrenalin yang terus memacu, bagaimana sih terus memperjuangkan kaum perempuan tanpa melupakan hak-hak kita," ujar Ratih yang sebelum bergabung dengan Perindo pernah menjadi kader partai Nasdem.

Sebagai politikus, Ratih mengaku dirinya mencoba memberdayakan wanita. Menurutnya seorang wanita harus mempunyai penghasilan sendiri, tanpa bergantung dari suami.

"Jadi saya mencoba dan mengajak wanita untuk menggarap lahan atau pendampingan dengan memakai produk lokal dari daerah asal, contohnya kain batik dan lain-lain," tuturnya.

Ada alasan haru di balik tekad Ratih membantu para wanita memiliki penghasilan sendiri. Ratih ternyata pernah mengalami pahitnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sekitar tahun 2000-an. Namun ia tidak tinggal diam dan pasrah.
Cerita Inspiratif Kakak Adik Anak Mantan Bos Mitsubishi Indonesia (Bag. 2)Foto: Gresnia Arela/Wolipop

"Saya pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saat mengalami itu adalah acuan saya untuk bisa bangkit dan berjuang. Saya bisa menjadi wanita mandiri dan saya mempunyai support dari keluarga yang sangat mendukung saya dan semoga saya bisa membuktikan bahwa saya itu bisa menjadi ibu dan anak yang baik awalnya," kisahnya.

Mengenang kisah pahitnya, Ratih mengungkapkan dirinya mengalami kekerasan dalam bentuk verbal dan fisik. Namun saat itu tak banyak orang mengetahuinya karena pembawaannya yang supel membuat ia bisa menyembunyikan perasaannya.

"Saya harus mem-protect dia. Jadi kita harus bener-bener kuat lahir dan batin untuk menghadapinya. Karena saya orangnya ketawa terus dan selengean banget orangnya, sebenarnya di dalam hati saya itu berkecamuk," kata Ratih.
Berkat keluarga yang terus mendukung, Ratih kini sudah bisa menata diri kembali dan menjadi lebih kuat. Dia pun membantu putrinya mengatasi trauma tinggal di rumah yang diwarnai KDRT. Saat KDRT terjadi, putri semata wayangnya baru menginjak usia empat tahun.

"Dulu takut ketika mendengar teriakan, sekarang lama-lama alhamdulillah dia sudah menjadi anak yang kuat. Sekarang saya juga bisa menjadi sosok yang saya mau dan melakukan aktivitas yang saya mau. Tapi kembali lagi, saya punya dukungan keluarga, itu yang terpenting," ujar Ratih yang memutuskan untuk bercerai pada 2008 dengan suaminya.

Ratih pun memberikan pesan kepada wanita yang nasibnya sama dengan dirinya. "Mungkin jawaban saya terlihat klise tapi kita harus mendekatkan diri dengan yang di Atas, dan memacu diri untuk bangkit. Kita mesti ingat kita punya tanggungjawab, dan bisa melundingi anak kita dan kembali dibutuhkan adalah support dari keluarga dan teman terdekat," ucapnya.
Menurut Ratih yang juga penting diingat oleh korban KDRT adalah adanya keinginan dari diri sendiri untuk bangkit. Hal itu baginya adalah sebuah proses penyembuhan hati. "

"Dan wanita itu bukannya melupakan sebagai kodrat, sekarang banyak wanita yang aktif. Semua itu pasti bisa kita capai, tergantung dengan pikiran dan kemauan kita," pungkasnya.

Simak Video "Fitria Manalu, Tetap Semangat di Tengah Keterbatasan"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/hst)