Liputan Khusus Hidup Minim Sampah

Kisah Food Heroes dari Surabaya, Selamatkan Makanan Berlebih Jadi Layak Makan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 13 Sep 2020 17:22 WIB
Kegitan Garda Pangan Foto: Dok. pribadi Garda Pangan.
Surabaya -

Tahukah kamu kalau makanan sisa termasuk salah satu yang menyebabkan lingkungan tercemar? Makanan sisa yang berakhir menjadi sampah bisa menjadi sarang serangga penyebar penyakit, bau, mencemari air tanah dan menciptakan gas rumah kaca akibat dekomposisi bahan organik dari sampah makanan.

Bermula dari keresahan akan pencemaran lingkungan, seorang wanita di Surabaya bernama Eva Bachtiar bersama dua temannya yaitu Dedhy Trunoyudho dan istrinya, Indah Audivtia mendirikan organisasi Garda Pangan. Mereka bertiga menginisiasi gerakan food bank di Surabaya. Gerakan tersebut mempunyai beberapa program untuk mengurangi sampah makanan sejak 2017.

Garda Pangan sendiri saat ini dibantu 30 relawan inti untuk melakukan penyelamatan makanan. Selain itu juga ada lebih dari 500 relawan lepas yang tidak terikat dalam bekerjasama dengan Garda Pangan.

Wolipop pun berbincang dengan Eva Bachtiar mengenai food bank Garda Pangan yang didirikannya bersama dua rekannya itu. Eva bersama Dedy dan Indah berusaha menyelesaikan isu pembuangan sampah makanan.

Kegitan Garda PanganKegitan Garda Pangan. Foto: Dok. pribadi Garda Pangan.

Food Rescue

Salah satu program yang dilakukan Eva bersama Garda Pangan adalah food rescue atau penyelamatan makanan. Mereka berusaha menyelamatkan makanan surplus yang dihasilkan industri-industri besar seperti hotel dan restoran. Makanan berlebih atau makanan sisa tersebut akan diperiksa kembali kualitasnya, dikemas ulang, lalu dibagikan kepada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya.

Untuk menjalankan kegiatan tersebut, Garda Pangan melakukan kerja sama dengan mitra-mitra dari kalangan restoran, hotel, bakery, kafe, rumah makan, katering, dan industri makanan lainnya. Food rescue dilakukan setiap harinya dengan menjemput makanan yang tidak terjual dari mitra, untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kegitan Garda PanganKegiatan Garda Pangan. Foto: Dok. pribadi Garda Pangan.

"Kita pickup makanan berlebih mereka yang tidak terjual hari itu. Yang biasanya, meskipun pratiknya beda-beda, makanan berlebih tersebut dibuang karena menjaga standar kualitas. Padahal kita melihatnya makanan itu masih layak makan banget. Dan sayang banget kalau harus dibuang. Sementara masih banyak banget orang yang membutuhkan," ucapnya saat diwawancara Wolipop, Kamis (10/9/2020).

Selain dari industri hospitality, Garda Pangan juga berinisiatif menjemput makanan berlebih yang dihasilkan dari event, acara, pesta, atau selebrasi. Mereka pun bekerjasama dengan berbagai BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan wedding organizer untuk menjemput makanan berlebih atau sisa dari acara-acara kampus seperti seminar dan acara pernikahan.

Penyelamatan makanan juga dilakukan Eva dan tim food rescue untuk sayur-sayuran dan buah-buahan yang dijual di toko atau supermarket. Biasanya tempat-tempat tersebut memiliki standar tertentu untuk penampilan buah dan sayur. Sehingga ketika petani memanen buah atau sayur namun tampilannya tidak cantik, oleh toko atau supermarket tersebut akan ditolak karena dianggap 'ugly produce'.

"Jadi buah-buahan atau sayuran yang mempunyai penampilan yang tidak menarik, yang berpotensi terbuang, biasanya cuman berkerut, terlalu kematangan, itu kita kumpulin dan sifatnya bisnis. Kita jual lagi dengan harga miring. Profitnya balik lagi untuk mendanai operasional kita sehari-hari. Untuk antar makanan. Kita ini sosio enterprise," tuturnya.

Kegitatan komunitas gardapanganKegitatan Garda Pangan. Foto: Instagram @gardapangan.

Distribusi Makanan

Makanan sisa yang setiap harinya diselamatkan oleh Eva dan tim Garda Pangan ini didistribusikan kepada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya. Dalam hal pendistribusian ini kata Eva, mereka melakukannya dengan tidak sembarangan.

"Kita hati-hati banget. Kita nggak bisa sembarangan kasih, kalau nggak tahu latar belakang penerimanya ini. Makanya semua penerima terdata di data base, sudah kita survei mendalam. Memastikan kalau mereka benar-benar prasejahtera dan membutuhkan. Supaya bantuan makanan yang kita berikan tepat sasaran," paparnya.

Pada awal berdiri Garda Pangan masih memakai kendaraan pribadi dan transportasi online. Hingga kini Garda Pangan sudah memakai mobil box yang sudah dilengkapi dengan pendingin. Hal itu bertujuan agar makanan yang didistribusikan tetap dalam keadaan higienis dan tahan lama.

Saat memberikan makanan hasil food rescue kepada masyarakat pra sejahtera, Eva dan tim Garda Pangan juga berusaha meminimalisir sampah. Mereka meminta masyarakat tersebut membawa wadah atau kontainer pribadi untuk menerima makanan.

Kegitan Garda PanganKegiatan Garda Pangan. Foto: Dok. pribadi Garda Pangan

"Begitu kita memberikan ke penerima manfaat di kampung-kampung itu mereka tinggal bawa piring. Jadi pindahin dari wadah kita ke wadah mereka," katanya. Cara ini efektif untuk mengurangi sampah kemasan makanan.

Menyalurkan makanan ke warga kurang mampu, Eva mengaku pernah mendapatkan komentar kurang sedap. Hal itu terjadi saat tim Garda Pangan memberikan makanan dengan memakai sarung tangan.

"Kita kan SOP-nya dari dulu sudah memakai sarung tangan. Karena food safety dan hygiene tetap penting banget. Tapi ada yang bilang 'Itu pakai sarung tangan karena jijik ya datang ke kampung'. Mungkin karena ketidaktahuan," ucapnya seraya tertawa.

Edukasi Mengenai Sampah Makanan

Eva mengatakan masalah sampah makanan ini bukan hanya dihasilkan industri besar seperti hotel dan restoran. Individu atau rumah tangga pun berkontribusi menghasilkan sampah makanan. Oleh karena itu, dia dan tim Garda Pangan gencar melakukan edukasi melalui media sosial.

"Kita sering sharing tips yang practical untuk sehari-hari. Dulu kita sering campaign kreatif di CFD. Terus kita juga kasih workshop dan seminar food waste di sekolah dan kantor," ujarnya.

Kesadaran untuk menghargai makanan dan mengurangi sampah makanan ini, menurut Eva, sebaiknya dipupuk sejak dini. "Oleh sebab itu, kami menganggap edukasi terhadap isu sampah makanan untuk anak-anak sangat penting, untuk menciptakan generasi yang sadar dan peduli terhadap permasalahan ini," katanya.

Kegitan Garda PanganKegitan Garda Pangan Foto: Dok. pribadi Garda Pangan

Eva berharap setiap orang di Indonesia bisa menyadari pentingnya mengurangi sampah makanan ini. Menurutnya cobalah untuk tidak melihat makanan dengan take for granted.

"Sebenarnya kalau kita pikir, untuk menghasilkan satu butir nasi itu kan butuh tiga bulan petani kerja keras. Ada banyak effort orang di dalamnya. Mulai dari petani, peternak, supir angkutannya yang membawa ke pasar, penjual, pegawai dan koki. Ada banyak kontribusi kerja orang di sana. Jadi sayang banget kalau makanan yang tidak habis itu terbuang,"ujarnya.

Belum lagi kata Eva ada 19,4 juta orang di Indonesia yang masih kelaparan. "Itu saja yang harus kita ingat. Supaya kita nggak menghasilkan food waste," pungkasnya.

Kegitan Garda PanganKegitan Garda Pangan. Foto: Dok. pribadi Garda Pangan.


Simak Video "Dampak Pandemi, Black Friday di Amerika Serikat Sepi"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/hst)