Anaknya Divonis 7 Kelainan Jantung, Kisah Shinta Dirikan Brand Heart Troops
Menjadi ibu dari pejuang penyakit jantung bawaan (PJB) bukan sekadar bertarung dengan diagnosa medis, melainkan juga melawan stigma sosial yang menyakitkan. Melalui kegigihan melewati operasi besar untuk buah hati hingga ke luar negeri, membuktikan bahwa penyakit jantung bawaan bukan lah aib, melainkan simbol keberanian seorang 'pejuang' yang diabadikan melalui brand ready-to-wear Heart Troops.
IalahShintaAnggraeni,CEO Heart Troops, yang menceritakan memori tentang aroma rumah sakit dan kecemasan belasan tahun lalu masih terekam jelas di benaknya. Kelahiran anak pertama yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, berubah seketika menjadi sebuah ujian hidup dan mati dalam hitungan jam. Di saat sisa lelah persalinan belum hilang, sebuah vonis medis datang menghantam dunianya yang baru saja merekah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
|
"Aku seorang ibu, aku masih ingat kejadian itu suster datang dan bilang kalau dokter ingin ketemu. Itu waktu anakku umur satu hari setelah lahiran. Terus dokter menjelaskan bahwa selama anak di dalam kandungan, jantung dan paru-paru bekerjanya satu. Pas dia lahir masalah jantung terlihat. Wah, itu langsung hati rasanya..." kenang Shinta dengan getir saat acara Heart2Heart, Kolaborasi Heart Troops x Yayasan Jantung Kecil Indonesia di Cerita Rasa Ampera, Minggu (22/2/2026).
Dunia yang awalnya penuh sukacita menyambut kelahiran buah hati mendadak hancur. Bayinya didiagnosis memiliki kondisi jantung yang sangat kompleks dengan tujuh jenis kelainan langka.
Gejala fisik pun mulai terlihat nyata, sang buah hati sering membiru, terutama saat menangis dan mengalami kesulitan saat menyusui. Di tengah kondisi tersebut, Shinta harus menelan kenyataan pahit bahwa fasilitas medis di rumah sakit bersalin tempatnya melahirkan tidak mampu menangani kasus serumit itu.
Harapan satu-satunya adalah membawa sang bayi ke RS Jantung Harapan Kita untuk perawatan intensif di ruang intermediate. Bagi seorang ibu baru yang telah mempersiapkan segala teori pengasuhan ideal, kenyataan ini terasa seperti mimpi buruk yang enggan usai.
"Awalnya aku tidak menerima. Aku merasa senang awalnya usai melahirkan dan pas tahu anakku itu langsung hancur banget rasanya. Aku pernah merasa berat banget," ungkapnya.
Kesedihan itu bahkan membuatnya sempat menarik diri dari lingkungan sosial. Selama hampir dua tahun, Shinta mengaku tidak sanggup mengucapkan selamat kepada teman yang baru melahirkan atau sekadar berkunjung, karena rasa sakit yang terlalu dalam.
Perjuangan medis pun dimulai, sebuah maraton panjang yang menguras emosi dan biaya. Karena kompleksitas kasusnya, Shinta harus mencari second opinion hingga ke luar negeri.
Perjalanan pengobatan membawa mereka ke Melbourne, Australia, untuk operasi pertama, hingga berlanjut ke Amerika Serikat dua tahun kemudian. Biaya yang dibutuhkan tidak lagi ratusan juta, melainkan angka fantastis yang di luar jangkauan logika keluarga biasa.
"Kebetulan anak aku tipe yang kompleks, tantangannya bukan hanya budget tapi pengobatannya. Kita ke Singapura dan Malaysia tidak bisa. Operasi pertama akhirnya dibantu di Melbourne dan tidak bisa full. Untuk quality of life habis dari situ mencari rumah sakit lagi. Kelaian jantung bawan itu yang paling common terjadi 1 dari 100 bayi yang lahir itu punya kelaian jantung bawaan," jelasnya.
Namun, di tengah kesulitan itulah Shinta melihat tangan-tangan baik bekerja. Melalui dukungan kantor tempatnya bekerja dan kemudahan yang ia yakini sebagai bentuk pertolongan Tuhan, operasi besar itu berhasil terlaksana.
"Kalau Allah bilang bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Itu aku rasakan banget," tuturnya.
Kini, sang anak telah berusia 16 tahun dan telah melewati operasi besar. Namun, Shinta menekankan satu hal penting kepada masyarakat, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah lifelong condition atau kondisi seumur hidup.
"Tantangannya itu terlepas dari masalah medis pada saat itu yang aku rasakan waktu itu karenaawarness penyakit kelainan jantung bawaan (PJB) malah mencari kesalahan ibunya, keturunan dan hal-hal yang tidak baik itu sakit banget. Kondisi aku saat itu namanya punya anak pertama lalu sebenarnya aku itu ketika menjalani prosesnya ternyata rendahnya awarness bukan hanya di kalangan masyarakat tapi juga di dunia medis. Ketika dibawa ke UGD, dokter umum bingung menganinya. Tidak semua orang tahu dan jantungnya ada di kanan dan periksa EKG itu langsung bingung dokternya untuk menghandle anakku ini," lanjutnya lagi.
Operasi bukanlah tombol "sembuh total" yang membuat pasien sama persis dengan anak-anak lainnya. Anak Shinta masih harus menghadapi tantangan sosial, mulai dari penolakan masuk sekolah hingga komentar kurang berempati dari lingkungan sekitar.
"Jangan ucapkan kata itu ya (sudah sembuh), karena PJB itu lifelong condition dan bisa lebih berempati. (aku pernah) merasakan ini mungkin salah ibunya saat dalam kandungan dan omongan lainnya yang mengalahkan ibu dan stigma negatif lainnya di masyarakat. Alangkah baiknya kita lebih bersimpati kepada pejuang jantung bawaan," pesannya.
Dukung Anak Penyakit Jantung Bawaan Lewat Heart Troops
Perjuangannya mendampingi anak yang memiliki penyakit jantung bawaan lah yang mendasari lahirnya brand hijab dan ready-to-wear Heart Troops. Nama "Troops" atau pejuang dipilih untuk melambangkan para pejuang jantung yang tak kenal menyerah.
"Waktu itu aku berpikir banyak yang membantu kita dan bantuannya terlalu besar. Aku berdoa bisa membalas bantuan dan aku berikan ke orang lain. Dan ketika aku akhirnya punya kesempatan bikin brand mudah-mudahan brand ini bisa mewujudkan impian aku. Troops itu kan artinya pejuang. Jadi Heart Troops itu artinya pejuang jantung. Jadi aku ingin brand ini kuat dulu dari segi desain dan penjualan. Karena aku tidak mau menjual kesedihan. Dan Alhamdulillah Heart Troops seperti sekarang ini, aku langsung melaksanakan apa yang aku impikan yaitu membantu anak-anak PJB lewat brand Heart Troops," tuturnya panjang lebar.
Shinta ingin brand ini menjadi wadah edukasi sekaligus bantuan nyata bagi keluarga PJB lainnya yang tengah berpacu dengan waktu. Ia juga membangun kampanye bertajuk Heart2Heart untuk pejuang penyakit jantung bawaan.
"Anakku itu perjuangannya panjang banget dan operasinya bukan di sini. Karena memang dokter Indonesia dan Asia tidak ada yang bisa. Operasi di luar negeri itu luar biasa mahal dan bukan ratusan juta lagi. Padahal aku bukan dari keluarga berada. Pas lagi dokter di sana mengeluarkan harga. Bagaimana ini kita membayarnya? kalau Allah bilang bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Itu aku rasakan banget dan anak aku mendapatkan bantuan dari kantor, saya beruntung bekerja yang di lingkungan yang supportif. Saat itu belum ada brand Heart Troops," kenang Shinta.
Bagi para ibu yang baru saja menerima diagnosa serupa, Shinta berpesan agar tidak larut dalam rasa bersalah atau 'kasihan' yang melumpuhkan. "Saat ini ibunya harus kuat untuk anaknya. Ketika merasakan kasihan ke anak, dimatikan dulu dan pakai otak tingkat keberhasilannya menurut dokter, dan jalani saja," pungkasnya.
Melalui Heart Troops, Shinta membuktikan bahwa luka di dada sang anak bukan lah sebuah aib, melainkan sebuah medali keberanian yang harus diperjuangkan bersama.
(gaf/eny)
Makanan & Minuman
ART Belum Balik dari Mudik? 3 Makanan Instan Ini Jadi Penyelamat Dapur Anti Ribet!
Home & Living
Sofa Storage Box Estetik, Solusi Penyimpanan Sekaligus Dekor Minimalis
Makanan & Minuman
Pedasnya Bikin Nagih! Bu Rudy Hadir dalam Sachet Praktis & Jar Ekonomis, Sekali Coba, Auto Ketagihan!
Makanan & Minuman
Mager Masak Tapi Laper Berat? Semur & Rendang Ini Bisa Jadi 'Jalan Pintas' Rasa Rumahan!
Brand Hijab Buttonscarves hingga Benang Jarum Gelar Amal Saat Ramadan
Viral Pria Jahit Sendiri 30 Baju Lebaran, Penampilannya Ziarah Jadi Sorotan
60 Ucapan Selamat Idul Fitri 2026 Islami yang Penuh Doa
Rekomendasi Hijab Pashmina Viscose untuk Lebaran 2026, Harga Mulai Rp 60 Ribu
Baju Lebaran 2026
7 Rekomendasi Setelan Lebaran 2026: Koleksi Baju One Set Ala Gen Z
Foto Prewedding Syifa Hadju-El di London, Cantik Unreal Bak Princess
Wanita Muda Akhiri Hidup dengan Eutanasia, Kisah Kontroversi yang Bikin Haru
Idol KPop Ungkap Profesi Baru Usai Jadi Korban Malpraktek Klinik Kecantikan
Gaya Kompak Ayu Ting Ting & Putrinya Tampil Bak Gadis China Pakai Hanfu














































