Hafidz Amerika Fatih Seferagic Berharap Bisa Dekatkan Orang dengan Alquran
Rahmi Anjani - wolipop
Jumat, 11 Nov 2016 10:18 WIB
Jakarta
-
Fatih Seferagic punya cukup banyak penggemar di Indonesia. Karenanya, kedatangan pria 21 tahun tersebut cukup dinanti. Bersama Dian Pelangi, Fatih pun akan mengikuti tur Heaven on Earth ke 10 kota di Indonesia. Pertamakali datang ke Indonesia, Fatih pun mengaku tak punya ekspektasi tertentu.
Meski begitu, hafidz dan qari dari Amerika Serikat tersebut menginginkan kehadirannya bermanfaat. Ia berharap bisa menginspirasi orang-orang di Indonesia untuk bisa semakin mencintai Alquran. Fatih juga mengajak para penggemarnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah.
"Kunci suksesku adalah kamu harus mencintaiNya. Kamu tidak harus belajar bahasa Arab tapi kamu bisa belajar melalui buku atau video. Bawa dirimu sendiri lebih dekat kepada Tuhan melalui ayat-ayatnya. Aku bicara dengan hatiku, aku harap bisa menyentuh hati banyak orang dan aku harap kita bisa mencintai Tuhan bersama-sama," kata Fatih saat gala dinner di Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan, Kamis, (10/11/2016).
Sejak videonya viral di Youtube dan media sosial, Fatih sudah mengunjungi beberapa negara untuk menunjukkan kebolehannya dalam melantunkan ayat Alquran. Fatih pun bercerita jika sebelumnya ia tak pernah terpikir untuk bisa berkeliling dunia. Namun pria kelahiran Jerman tersebut menganggapnya sebagai rencana Tuhan untuk membuat banyak orang dekat dengan-Nya. Ia juga mengaku senang dapat banyak dukungan dan cinta dari banyak orang.
Dari pengalamannya sebagai hafidz dan qari, Fatih pun menemukan jika Tuhan harus diutamakan. "Kita suka mengejar seseorang yang kita anggap spesial. Tapi kadang-kadang mereka malah melukai kita. Kita lupa sebenarnya Tuhan adalah yang paling penting. Jika kamu menyenangkan Dia, Dia akan membuatmu senang. Jadi, jika aku bisa membuka mulut untuk menyampaikan ayatNya, itu adalah hal yang paling pentingku," ungkap Fatih.
Menjadi seorang muslim yang tinggal di Amerika, Fatih pun mengaku tidak punya kendala berarti di keseharian. Apalagi dia adalah seorang laki-laki yang memakai pakaian biasa sehingga tampak seperti warga AS kebanyakan. Namun apakah Fatih pernah merasa lengah dalam beribadah karena perbedaan budaya?
"Media sosial membuat hidup lebih susah, apalagi jika kariermu berbasis pada itu. Kadang aku berharap bisa keluar dari media sosial. Tapi kamu harus menemukan keseimbangan, kamu harus mengelilingi dirimu dengan orang-orang baik," kata Fatih.
"Moto dalam hidupku adalah berharap dan berpikiran positif. Ketika manusia kehilangan harapan, dia berada dalam titik terendah dalam hidup. Keindahan dari Tuhan dan agama adalah harapan. Apa yang terjadi berusahalah untuk bersikap positif karena segala sesuatu pasti ada alasannya," sarannya. (ami/ami)
Meski begitu, hafidz dan qari dari Amerika Serikat tersebut menginginkan kehadirannya bermanfaat. Ia berharap bisa menginspirasi orang-orang di Indonesia untuk bisa semakin mencintai Alquran. Fatih juga mengajak para penggemarnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah.
"Kunci suksesku adalah kamu harus mencintaiNya. Kamu tidak harus belajar bahasa Arab tapi kamu bisa belajar melalui buku atau video. Bawa dirimu sendiri lebih dekat kepada Tuhan melalui ayat-ayatnya. Aku bicara dengan hatiku, aku harap bisa menyentuh hati banyak orang dan aku harap kita bisa mencintai Tuhan bersama-sama," kata Fatih saat gala dinner di Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan, Kamis, (10/11/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pengalamannya sebagai hafidz dan qari, Fatih pun menemukan jika Tuhan harus diutamakan. "Kita suka mengejar seseorang yang kita anggap spesial. Tapi kadang-kadang mereka malah melukai kita. Kita lupa sebenarnya Tuhan adalah yang paling penting. Jika kamu menyenangkan Dia, Dia akan membuatmu senang. Jadi, jika aku bisa membuka mulut untuk menyampaikan ayatNya, itu adalah hal yang paling pentingku," ungkap Fatih.
Menjadi seorang muslim yang tinggal di Amerika, Fatih pun mengaku tidak punya kendala berarti di keseharian. Apalagi dia adalah seorang laki-laki yang memakai pakaian biasa sehingga tampak seperti warga AS kebanyakan. Namun apakah Fatih pernah merasa lengah dalam beribadah karena perbedaan budaya?
"Media sosial membuat hidup lebih susah, apalagi jika kariermu berbasis pada itu. Kadang aku berharap bisa keluar dari media sosial. Tapi kamu harus menemukan keseimbangan, kamu harus mengelilingi dirimu dengan orang-orang baik," kata Fatih.
"Moto dalam hidupku adalah berharap dan berpikiran positif. Ketika manusia kehilangan harapan, dia berada dalam titik terendah dalam hidup. Keindahan dari Tuhan dan agama adalah harapan. Apa yang terjadi berusahalah untuk bersikap positif karena segala sesuatu pasti ada alasannya," sarannya. (ami/ami)











































